Menengok Bursa Tekstil di Cipadu

Oleh : Adha Nadjemuddin

Jakarta –  “Mari Pak. Cari apa? Disini ada kain impor, bahannya bagus Pak,” bujuk penjaga toko Jayanthy, sebuah toko retail yang menjual ragam busana perempuan dan bahan kain, di pasar grosir Cipadu, Tangerang.

Di toko lainnya juga memperlakukan hal yang sama kepada setiap pengunjung yang datang. Para penjaga toko di sana membujuk dengan ramah agar pengunjung mau membeli ragam pakaian, bahan kain ataupun ragam gorden yang dipajang di toko-toko mereka.

Begitulah setiap hari para penjaga toko di sepanjang deretan Jalan KH. Wahid Hasyim, Cipadu Tengerang, Banten.

Cipadu adalah kawasan sentra tekstil dan garmen yang terletak di perbatasan Jakarta Selatan dan Tangerang. Tetapi wilayah Cipadu sendiri sudah masuk dalam wilayah Tangerang.

Sisi kiri dan kanan Jalan Wahid Hasyim ramai dengan toko yang menjual tekstil dan garmen. Ada yang menjual grosir, retail ada juga yang menjual dengan kiloan. Banyak pilihan bagi calon pembeli. Mulai dari busana wanita, pria, busana muslim, aneka gorden, seprey, dan pakain anak-anak. Bahan dan kualitasnya juga banyak pilihan produk impor. Mulai dari produk Asia hingga Eropa. Namun produk dalam negeri masih menguasai pasar Cipadu.

Cipadu sudah belasan tahun dikenal sebagai salah satu pusat penjualan tekstil dan garmen. Untuk barang impor harganya dijual murah.

“Kain seperti kodorai impor mulai dari Rp20 ribu sampai ratusan ribu. Tergantung kualitas barangnya,” kata Hamdani, salah seorang pemilik toko.

Menurut Hamdani, kodorai warna hitam paling laris. Jenis kain ini jika datang hanya dalam beberapa hari habis terjual.

“Bahkan tukang jahit membeli hingga beberapa bal,” katanya.

Hamdani membuka bisnis perdagangan tekstil di Cipadu sudah delapan tahun. Kini ia memiliki empat counter yang diisi ragam jualan mulai bahan kain hingga busana muslim.

Segmen pasar busana muslim dan aksesories cukup potensi. Sajadah impor asal Turki termasuk salah satu yang laris. Diperkirakan pasar sajadah ini menguasai 80 persen pasar penjualan di tanah air, disusul sajadah produk China.

“Sajadah impor dari Turki paling banyak laku di pasar. Saya memperkirakan sekitar 80 persen sajadah impor yang ada di pasar dikuasai produk Turki,” kata Hamdani.

Langganan penjualannya juga cukup luas. Mulai dari Sumatera dan sebagian dari Jawa. Mereka membeli borongan lalu dijual kembali di daerahnya.

Menurutnya, jika dibanding harga jual sajadah di Mekah, sajadah di Indonesia lebih murah. Pasalnya sajadah yang dijual di Mekah juga sebagian sajadah impor dari Turki.

Bagaimana dengan pakain perempuan?
“Pakaian impor khususnya pakaian wanita masih banyak yang cari. Jualan saya sampai saat ini masih 75 persen tekstil impor. Selebihnya tekstil dalam negeri,” kata Rafi, pedagang tekstil di Toko Jayanthy Textile.

Menurut Rafi, bahan kain berupa brokat dan tile merupakan jenis tekstil paling banyak digemari konsumen khususnya kaum perempuan.

“Paling banyak digemari dari Korea. Barang impor korea ini sudah terkenal sejak dulu,” katanya.

Biasanya pakaian jenis tersebut dibutuhkan konsumen jika ada pesta pernikahan ataupun acara wisuda. Kebanyakan konsumen membeli bahan dalam bentuk kain lalu mereka jahit sendiri sesuai dengan mode yang mereka inginkan.

Selain produk Korea, produk China juga menjadi salah satu incaran konsumen. Namun produk ini hanya terbatas kain bordiran.

Eko, pemilik toko Class Moda, di Cipadu, juga mengatakan, konsumen hingga kini masih tetap memburu brand impor tersebut. Konsumen memilih produk luar negeri itu karena berbagai alasan.

“Alasan mereka katanya kwalitas barangnya bagus jika dibanding produk dalam negeri,” kata Eko.

Soal harga, pakaian impor juga bersaing dengan produk dalam negeri. Kain brokat misalnya, dijual antara Rp30 ribu sampai Rp60 ribu per meter.

Berbeda dengan garmen impor. Tahun ini peminatnya mengalami penurunan yang cukup drastis dibanding tahun sebelumnya. Syafril, seorang pedagang di Kurzana Fashion, Pusat Grossir Aryamatex, mengatakan, tren penurunan pasar garmen impor mencapai 50 persen.

“Tahun lalu kami berani mengambil 20 potong baju impor khusus untuk perempuan. Tapi sekarang paling banyak 10 potong,” katanya.

Untuk mendapatkan pakaian impor tersebut cukup mudah. Banyak sales dari perusahaan importir yang datang menawarkan barang di Cipadu. Bagi yang sudah berlangganan, cukup menelpon saja, barangnya langsung diantar.

“Yang banyak diminati produk Korea,” katanya.

Berbelanja di Cipadu cukup aman dan nyaman. Bisa nego harga. Jika lelah dari toko ke toko, banyak pilihan warung untuk makan atau sekadar minum es melepas dahaga. Bagi pengunjung muslim, jika waktu shalat tiba di Cipadu terdapat masjid besar yang bisa menampung ratusan jamaah. (ANTARA, 16/5/2009)

About these ads

5 comments

  1. Banyak sales dari perusahaan importir yang datang menawarkan barang di Cipadu. Bagi yang sudah berlangganan, cukup menelpon saja, barangnya langsung diantar.

    Pertanyaan nya apakah sales itu berpusat di tanah abang?

    1. Maaf ya Eva, saya tidak menyimpan khusus nomor kontak di Cipadu. Tapi sy menyarankan Eva bisa search digoogle saja. Di sana banyak alamat dan nomor kontak telepon salah satu toko di Cipadu. Thank’s sudah mengunjungi blog saya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s