Tangis Dari Buol

Tak satupun orang yang bisa memprediksi waktu datangnya prahara malapetaka. Gempa bumi salah satunya. Senin dini hari (17/11) adalah hari yang naas bagi puluhan ribu penduduk di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah dan sekitarnya. Kabupaten yang berbatasan dengan Provinsi Gorontalo ini diguncang dengan gempa bumi tiga kali berturut-turut. Hingga akhirnya meluluhlantakkan lebih dari 1000 bangunan, fasilitas publik, dan empat orang korban tewas. Dalam waktu sekejap Buol yang mekar menjadi kabupaten tahun 1999 itu, terkoyak hingga seluruh penduduknya lari tunggang-langgang.

“Kami sementara tidur nyenyak, tiba-tiba rumah goyang. Mulanya pelan-pelan. Tiba-tiba goyangannya langsung besar. Saya dan anak-anak teriak di dalam rumah,” kisah Suarni (42), ibu empat anak di Kelurahan Buol, Kecamatan Lipunoto.

Suarni adalah satu dari ratusan penduduk yang bermukim di kompleks Rumah Seratus, sebuah kawasan hunian yang dibangun pemerintah untuk masyarakat kurang mampu tahun 1996 silam. Di kompleks ini berjejer ratusan rumah panggung yang dibangun di atas rawah. Jika air laut pasang, kolong-kolong rumah di kompleks ini digenangi air hingga setinggi dua meter. Mereka hidup rukun disini meski hanya bermata pencaharian sebagai nelayan.
Talib M Pawena (50), warga setempat menceritakan, mereka ditempatkan di Rumah Seratus itu karena sebelumnya rumah-rumah mereka di Tanjung, Kelurahan Buol, porak-poranda diterjang badai ombak. Seluruh isi rumah tak terselamatkan. Agar memiliki tempat yang layak, mereka akhirnya dipindahkan ke Rumah Seratus. Rumah yang terbuat dari papan itu dibangun pemerintah melalui Departemen Pemukiman dan Transmigrasi tahun 1996.

“Dulu di sini hutan nipa. Tapi kemudian diparas habis untuk pembangunan Rumah Seratus. Kami pindah di sini tahun 1997,” cerita Talib.

Kehidupan ekonomi masyarakat di kawasan Rumah Seratus ini terbilang susah. Mereka hidup dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Sudah susah, diguncang gempa bumi pula. “Saya sudah tidak tahu lagi bagaimana kondisi rumah. Yang penting kami selamat dulu. Rumah kami tinggalkan dan lari ke luar mencari tempat yang aman,” kata Suarni.

Akibat gempa itu rumah mereka mudung ke tanah dan terbongkar. Jembatan-jembatan kecil sekaligus menjadi jalan raya yang menghubungkan rumah satu ke rumah lainnya sebagian besar kondisinya tidak layak lagi dan kini banyak yang terbongkar. Kondisi jembatan seperti itulah warga berlarian di atasnya dalam suasana gelap gulita hingga akhirnya banyak diantara warga yang jatuh bangun.

Gempa bumi membuat warga panik. Ditambah lagi dengan isu akan terjadi tsunami yang tidak jelas ujung pangkalnya sehingga semakin menambah kekalutan warga. Satu-satunya cara agar aman adalah mengungsi di tempat yang lebih tinggi lalu membangun tenda-tenda darurat. Warga tersebar di beberapa titik lokasi pengungsian, salah satunya di kawasan perkantoran Kelurahan Leok II, Kecamatan Lipunoto. Tempat ini terbilang aman, karena berada di ketinggian.
Suarni bersama suami dan anak-anaknya bertahan di pengungsian hingga dua malam. Menghindari tsunami mereka rela bersusah-susah di lokasi pengungsian. Satu tenda ukuran kira-kira 4 x 4 meter dihuni oleh empat kepala keluarga. Di sana mereka tidur, makan, dan berbagi cerita kisah sedih di hari gempa yang mengguncang Kabupaten Buol dan sekitarnya pada Senin (17/11) dini hari.

“Yah… kami makan seadanya. Supermi cukup untuk mengalas perut, kami sudah senang” ujarnya.

Banyak masalah yang ditemui di lokasi pengungsian. Tidak saja soal tempat ditidur dan bahan makanan. Tapi buang hajat pun menjadi problem tersendiri. Beberapa warga mengatakan, mereka terpaksa buang hajat disemak-semak.
Bencana alam tak memandang kaya miskin seseorang. Pejabat atau rakyat jelata, sama saja. Jika bencana datang tak satupun yang dapat menghindarinya. Bupati Buol, H. Amran Batalipu, di hari naas itu juga ikut mengungsikan anak-anaknya.

“Anak-anak sempat saya amankan ke gunung. Mereka juga panik,” kata Amran.

Peristiwa yang menghentak warga Lipunoto tersebut, juga menghentak warga di kecamatan lainnya di Kabupaten paling utara Sulteng itu. Dari 10 kecamatan, setidaknya Kecamatan Bunobogu paling parah.

Di kecamatan ini terdapat 142 rumah rusak berat bahkan beberapa diantaranya rata dengan tanah. Selain rusak berat juga terdapat 270 rumah rusak ringan. 56 orang luka-luka dan enam orang patah tulang. Satu orang diantaranya tewas karena tertimpah reruntuhan bangunan.

Linangan air mata dan rasa ibah pun tak terbendung. Duka dan pilu menyelimuti warga. Bayang-bayang tsunami pun masih menghantui. Warga takut jika tragedi Aceh juga menimpa mereka.

Seorang bocah berusia 1,5 tahun korban gempa bumi di Desa Bunobogu, adalah salah satu yang membawa ibah. Sekujur wajah bocah itu tercukur oleh reruntuhan bangunan permanen. Ia terlambat diselamatkan sehingga tertimpa saat masih berada dipembaringan tempat tidurnya.

“Ibunya belum lihat wajah anaknya ini. Saat gempa ibunya di Palu (ibukota Provinsi) karena mau menyelesaikan kuliahnya,” tutur warga.

Bocah itu setiap saat merintih menahan sakit. Pelipis dan pipi bocah perempuan itu sudah bengkak hingga menutup matanya. Keluarga dan warga secara bergantian menggendong dan merayu bayi naas itu agar terhibur. Dalam kondisi seperti itu, sang bocah harus rela tidur di bawah tenda darurat yang dibangun di depan rumah orangtuanya karena rumah permanen yang sebelumnya berdiri kokoh kini terkoyak hingga seluruh isi rumahnya centang perenang.
Di tempat lain, seorang ibu bersama empat orang anaknya, juga tak hentinya meneteskan air mata. Dia adalah Ny. Hasan (45). Ibu ini baru saja ditinggal pergi suaminya, Hasan, untuk selamanya karena tewas dalam peristiwa gempa bumi berkekuatan 7,7 Scala Richter.

Rumah Hasan pun dikosongkan, karena dinding-dinding permanen yang terbuat dari batako itu roboh. Mereka tak berani tinggal di rumah itu, khawatir bisa mengancam jiwa.
Tak sedikit air mata di Buol yang tumpah dari warga yang hidup mereka hanya ditopang dari hasil pertanian, perkebunan dan nelayan.

“Rumah saya ini baru dibangun sekitar setahun yang lalu. Uang saya kumpul-kumpul dari hasil kebun,” kata seorang kakek, yang rumah permanennya juga dirusak gempa di desa Lonu, Kecamatan Bunobogu.

Kabupaten Buol yang berpenduduk lebih dari 100 ribu jiwa tersebut kini dalam kondisi mengharukan. Hasil identifikasi sementara terdapat 1.444 unit bangunan milik penduduk dan pemerintah rusak. Beberapa sarana dan prasarana publik seperti masjid, sekolah, kantor desa rusak. Empat orang meninggal dunia. Dan kini masih ribuan warga bertahan di tenda-tenda pengungsian karena rumah mereka tak bisa lagi ditempati.(adha nadjemuddin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s