Catatan Jurnalis

 

Berawal Dari Kampus

Menjadi wartawan bagi saya bukanlah secara kebetulan, tetapi melalui proses panjang. Butuh waktu, konsentrasi, pengetahuan, kesadaran, dan kesabaran. Pekerjaan jurnalis adalah mulia jika dilakukan sesuai kaidah-kaidahnya.

Mengawali karir jurnalis saya pertama kali di Perguruan Tinggi. Tahun 1997 ketika itu saya berada di semester delapan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Datokarama Palu, Sulawesi Tengah. STAIN Palu adalah penjelmaan dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin Ujung Pandang, Sulawesi Selatan. Tahun 1996 lembaga ini berubah status dari cabang menjadi STAIN. Di sinilah saya menyelesaikan studi pada Fakultas Ushuluddin jurusan Perbandingan Agama, sebuah ilmu yang jauh dari profesi kewartawanan yang saya geluti saat ini.

Selama kuliah di STAIN itulah saya menancapkan roh lembaga penerbitan kampus. Kami menamai pers kampus ketika itu dengan nama Medik. Nama ini diambil dari akronim Media Dinamika Kampus. Medik terbit secara periodik dibawah jalur Lembaga Penerbitan dan Pers Mahasiswa (LPPM). Dalam proses penerbitannya, Medik selalu berubah wajah dan desainnya, tergantung dari kondisi keuangan yang ada.

Mula-mula kami menerbitkan dalam bentuk tulisan tangan lalu difoto copy di atas kertas warna. Tapi terbitan ini ternyata menjadi bahan ”olok-olokan” terutama oleh kakak senior kami. Adnan, adalah satu kawan saya dari Ternate yang menjadi juru sebar. Ia juga menulis beberapa judul penting dalam penerbitan itu. Adnan adalah kawan saya di Jurusan Tafsir Hadits yang saya perhitungkan karena ulet bekerja dan telaten dalam menuntut ilmu. Karena keuletannya itulah pada tahun 2009 ia sedang menyelesaikan program doktornya bidang agama di salah satu perguruan tinggi di Jakarta.

Olok-olokan dari beberapa mahasiswa lainnya, tidak membuat kami patah arang. Malah semakin memacu semangat kami untuk menentukan perjuangan penerbitan kampus. Terbitan berikutnya sedikit lebih baik karena sudah menggunakan mesin tik. Komputer ketika itu masih langka.Dengan mesin tik kami tetap melangkah maju, hingga akhirnya Senat Perguruan Tinggi dibawa pimpinan Dr. HM Noor Sulaiman, kami diberi tempat dan fasilitas komputer. Saat itulah penerbitan Kampus STAIN Palu memasuki zaman komputerisasi. Desain dan print outnya sudah menggunakan komputer, meskipun hasil cetakannya masih fotocopy.

Suatu ketika di tahun 1998, kami berinisiatif menerbitkannya dalam bentuk offset. Salah satu mesin offset terkenal di Koperasi Univeritas Alkhairaat adalah tempat cetakan kali pertama. Mesin itu cukup bersejarah dan berjasah karena beberapa kali terbitan Tabloid Mingguan Alkhairaat (MAL), sebuah surat kabar mingguan terkenal di Palu, diproduksi dari mesin cetak itu. Mesin cetak itu pulah yang mengantarkan Medik tampail dalam bentuk offset pertama kali di atas kertas koran. Sejarah membuktikan dimana ada kemauan di situ ada jalan.

Medik sebagai lembaga penerbitan mahasiswa pertama yang mendapat pengakuan konstitusional dari STAIN Palu dan terus berkembang hingga saya dan kawan-kawan pergi meninggalkan kampus STAIN Palu itu. Lembaga penerbitan kampus juga dibangun dengan kawah candradimuka.

Semangat untuk mendirikan media penerbitan kampus sangat tinggi, meskipun pada awalnya tidak disupport dari institusi kelembagaan akademik tingkat senat perguruan tinggi. Tapi saya tidak peduli. Jalan terus dan pada akhirnya lembaga mendukungnya hingga LPPM Medik ketika itu mendapat legitimasi dari perguruan tinggi.

Inspirasinya berawal dari studi banding di beberapa perguruan tinggi di Jawa, seperti IAIN Hidayatullah, Jakarta, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, IAIN Semarang, IAIN Sunan Kalijaga Bandung, IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan Jogyakarta. Perguruan tinggi di Jawa adalah barometer bagi perguruan tinggi di daerah, termasuk dalam dunia penerbitannya. Daerah sangat jauh tertinggal.

Dari beberapa perguruan tinggi yang saya datangi, umumnya memiliki media penerbitan. Entah itu di tingkat fakultas maupun pada level universitas. Semangat media kampus khususnya di pulau Jawa ketika itu sangat ramai, kreatif, progresif dan tentu saja memberi dampak dinamis di dalam kampus.

Di lain pihak, lembaga penerbitan khususnya perguruan tinggi Islam di Sulawesi Tengah, gersang dari dinamisasi penerbitan. Tidak ada kreativitas media yang lahir dari kesadaran mahasiswanya. Kampus dan aktivitas-aktivitas kemahasiswaanya menjadi gersang dari nilai-nilai kritis dan control media. Banyak factor yang mempengaruhi kondisi tersebut.

Pertama, lemahnya kreatifitas mahasiswa sehingga tidak inovatif dalam mengembangkan bakat dan minatnya. Mahasiswa lebih banyak yang tertarik dalam organisasi ekstra ataupun intra kampus. Sangat sedikit yang mau menciptakan kreatifitas baru khususnya pada dunia penerbitan. Padahal salah satu identitas gambaran dari kemajuan mahasiswa adalah seberapa banyak media yang diterbitkan oleh mahasiswa di kampus itu.

Kedua, lemahnya studi penerbitan media kampus. Mungkin ada keinginan kuat dari mahasiswa untuk mengupayakan suatu penerbitan, tetapi tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang perspektif, perwajahan, dan metodologi penulisan media. Kelemahan tersebut bertambah kurang karena tidak adanya studi di perguruan tinggi lainnya yang ramai dengan media penerbitan.

Ketiga, tidak adanya dorongan dari dosen dan kuatnya hegemoni birokrasi kampus. Dosen adalah salah satu faktor pendukung. Tidak saja sebagai pengajar tetapi bagaimana menjadi motivator dalam membangun dinamika berfikir dan menumbuhkan kreatifitas mahasiswa. Kondisi ini terjadi salah satunya akibat dari pengalaman dosen yang berpandangan akademik semata ditambah dengan minimnya pengalaman organisasi saat mereka masih menjadi mahasiswa. Kondisi tersebut berbeda dengan awal tahun 2000-an dimana banyak dosen yang harus disekolahkan ulang agar bisa menyesuaikan dengan jenjang pendidikan dalam menghadapi tuntutan akademik. Awal tahun 2000-an sudah banyak dosen yang menyandang gelar magister dan doktor. Yang tidak kalah besar tantanganya adalah kuatnya hegemoni kekuasaan birokrasi di kampus sehingga tidak ada peluang bagi media kampus untuk terbit. Hal ini sangat dirasakan sebelum rezim kekuasaan orde baru runtuh. Kampus-kampus lebih mengandalkan resimen mahasiswa atau gerakan Pramuka daripada dukungan terhadap penerbitan kampus.(jakarta,24/2/09)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s