Catatan Jurnalis 02

Oleh : Adha Nadjemuddin

Pers Indonesia di Kawasan Asia

Peserta Kursus Dasar Pewarta (Susdape) Angkatan XV tahun 2009 Lembaga Kantor Berita Negara ANTARA mendapat kehormatan, atas undangan Dewan Pers untuk menghadiri dialog dengan Dr. Daud T Hill. Dia adalah dosen Kajian Asia Tenggara Murdoch University Perth Australia Barat. Dialog itu digelar di lantai III Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih 34 Jakarta Pusat, pada 25 Pebruari 2009.

Hari itu bertepatan dengan hari ke-10 Susdape XV sejak dibuka 16 Pebruari 2009. Kendatipun pelaksanaan Susdape masih lima bulan 20 hari lagi, tetapi peserta Susdape XV sudah mendapat pencerahan tentang pers di Indonesia dalam perspektif Daud T Hill.

Apa kaitan Hill dengan pers di Indonesia? Hill pernah menulis disertase tentang Mochtar Loebis, seorang tokoh pers nasional yang banyak memberi dinamika pergolakan pers di tanah air. Sebagai mantan pemimpin Koran Indonesia Raya, Mochtar Loebis, membuka mata pers di tanah air salah satunya atas keberhasilannya membongkar kasus korupsi di tubuh Pertamina. Gara-gara itu, ia dipenjara 10 tahun. Indonesia Raya juga dibredel. Mochtar Loebis mendapat penghargaan Magsaysay dari Filipina.

Hill mengangkat Mochtar Loebis dalam sebuah disertase. Judulnya Mochtar Loebis, author, editor, political actor. Untuk melengkapi dan memboboti hasil disertasenya itu, Hill terpaksa menetap di Indonesia selama dua tahun. Pada masa itulah ia banyak mengetahui tentang bagaimana Indonesia khususnya potret pers di tanah air.
Selama Indonesia itu, ia mendapat dua keuntungan sekaligus. Yakni penelitian tentang seorang Mochtar Loebie dan bahasa Indonesia. Tidaklah heran, Hill dapat berbahasa Indonesia dengan lancar. Dengan mudah ia mendeskripsikan dalam bahasa Indonesia potret pers era kepemimpinan presiden Soeharto dan pasca runtuhnya kepemimpinan bapak pembangunan itu.

Hill tidak menyangka, ternyata 12 tahun sudah pers di Indonesia mengalami kemajuan yang ”dahsyat” sejak runtuhnya rezim pemerintah Orde Baru. Padahal ia sendiri awalnya ragu, bahwa pers di tanah air akan sulit bangkit untuk melawan tekanan pemerintah dengan segala kebijakannya, seperti pembredelan surat kabar, dan pemberlakuan Surat Izin Usaha Penerbitan (SIUP). Zaman itu adalah zaman dimana kemerdekaan pers terbelenggu. Sesak, sehingga nyaris sulit kelur dari kondisi itu.

”Tapi sekarang kondisinya jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,” kata Hill.

Ia menceritakan, suatu ketika dirinya naik taxi di Jakarta. Lalu dalam perjalana ia bertanya ke sopir. ”Apakah anda sering membaca surat kabar? Bagaimana Anda melihat surat kabar saat ini dibanding sebelum reformasi?” begitu Hill bercerita.

Hasilnya, pers di tanah air ternyata telah mengalami pergeseran nilai. Baik dalam penerbitannya maupun dalam tataran sosial, dimana pers telah memberi pengaruh yang banyak kepada masyarakat. Masyarakat pun bebas memilih media mana yang menurutnya layak dan memiliki kredibilitas untuk dibaca, ditonton, ataupun di dengar. Sudah banyak pilihan media. Terserah pilih yang mana. Kondisi ini juga berlaku hampir di semua daerah di tanah air. Terlepas dari segala kekurangannya, Hill menilai pers di Indonesia lebih baik dan maju dari pers lainnya di Asia.
Meskipun ada kemajuan yang lebih baik, tetapi Hill mencermati, pers di tanah air masih perlu lagi memperhitungkan beberapa hal terutama pasca kepemimpinan Presiden Soeharto. Saya menangkap setidaknya terdapat lima hal yang perlu dikaji ulang, yakni ;

1. Masih ada kekerasan terhadap wartawan.
2. Hubungan pers dengan Parpol.
3. Perlunya Penegakan Hukum terhadap media.
4. Profesionalisme media.
5. Hubungan Keseimbangan antara media nasional dan lokal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s