Catatan Jurnalis 03

antara-gempa-041Berbagi di Pengungsian

 

Menjadi wartawan segalanya harus disiapkan. Tidak saja kemampuan intelektual, meskipun itu yang paling dibutuhkan. Tetapi kesiapan mental juga tidak kalah pentingnya. Mental seorang wartawan tidak saja menyangkut sikap dan prilaku dalam menghadapi narasumber, tetapi juga menghadapi keganasan alam, seperti banjir, tanah longsor, kerusuhan, kebakaran, gempa bumi dan medan konflik.

 

Gempa bumi yang mengguncang Provinsi Gorontalo dengan magnitut 7,7 scala richter, Senin 17 November 2008, terasa hingga ke Kabupaten Buol dan Tolitoli Provinsi Sulawesi Tengah. Waktu dini hari itu, masyarakat panik. Mereka berhamburan keluar rumah. Banyak rumah yang dikosongkan. Ribuan orang mengungsi ke bukit. Hingga pagi banyak warga yang tidak tidur khawatir akan datangnya gempa susulan. Dan ini terjadi di dua kabupaten bertetangga itu.

 

Menjelang pagi hari, Kepala Biro ANTARA Palu, Rustam Hapusa, menugasi saya untuk segera berangkat ke Buol. Dari Buol terkuak kabar ratusan rumah di sana roboh. Ribuan jiwa mengungsi. Sejumlah warga tewas tertimpa reruntuhan bangunan.

 

“Ini perintah langsung dari kantor pusat. Anda  segera ke Buol. Di sana banyak korban. Bagaimana caranya hari ini juga Anda tiba di Buol,” perintah Pak Rustam ke saya melalui telepon seluler.

 

Sebagai wartawan ANTARA yang masih berstatus Pembantu  Koresponden (PK), tanpa banyak tanya lagi langsung mengiyakan perintah atasan. Sejak menjadi PK saya diberitugas mengcover area Kabupaten Tolitoli dan Buol. Dua kabupaten yang terletak di sebelah utara kota Palu, ibukota provinsi Sulawesi Tengah. Jarak tempuhnya lumayan jauh. Palu-Tolitoli lebih dari 300 kilometer. Kabupaten Buol lebih jauh lagi, sekitar 500 kilometer.

 

Menurut ukuran waktu, Palu-Tolitoli biasanya ditempuh selama 10 s/d 12 jam melalui darat, lebih lama tiga jam jika ditempuh melalui transportasi laut menggunakan KM Dobonsolo atau KM Kambuna. Beberapa tahun sebelumnya ada jalur pelayaran rakyat. Tapi jalur itu tidak ada lagi. Kapal swasta yang menggunakn jalur ini tahun 2007 menutup bisnisnya akibat tidak seimbangnya biaya operasioanal dan pendapatan. Ini kondisi jalur perhubungan darat dan laut Palu-Tolitoli.

 

Sementara dari Tolitoli ke Buol dapat ditempuh tiga s/d empat jam paling cepat. Jika wartawan dari Palu, apalagi dari Jakarta diutus ke Buol untuk meliput peristiwa gempah tersebut, besar kemungkinan unsur kecepatannya akan kalah dengan yang lain. Karena saya adalah wartawan ANTARA satu-satunya dekat di lokasi, saya pun diperintah untuk segera mengcover peristiwa itu.

 

Pagi itu saya tidak langsung ke Buol, karena di Tolitoli beberapa lokasi juga mengalami hal yang sama. Belasan rumah panggung roboh. Ratusan bahkan ribuan warga juga mengungsi. Mereka trauma akan ada gempa susulan. Bayang-bayang tsunami Aceh masih segar di ingatan mereka.

 

Menjelang siang, baru saya meluncur ke Buol. Sebuah kijang Innova melaju dengan kecepatan tinggi menyusuri sepanjang pesisir Tolitoli hingga Buol. Pukul 19.00 Wita, saya tiba di Buol. Suasana di kampung lengang. Hanya ada satu dua kendaraan yang melintas. Banyak rumah warga yang tertutup.

 

Agar kondisi fisik tetap fit, saya mengajak sopir untuk makan di sebuah warung. Tidak seperti warung pada umumnya, alunan ayat suci al-Quran mengalun syahdu di warung itu. Menurut beberapa pengunjung, warung yang berhadapan dengan laut bebas itu, biasanya full music. Tapi malam itu nuansanya berubah. Lebih bernuansa religius, setelah gempa mengguncang Buol dan sekitarnya.

 

Setelah istirahat beberapa saat dan berbincang dengan beberapa warga, saya melanjutkan perjalanan ke lokasi pengungsian. Sebuah bukit kira-kira 100 meter dari permukaan laut. Jarak bukit tersebut dengan perkampungan warga hanya sekitar 300 meter. Bukit ini dalam master plan pembangunan Kabupaten Buol merupakan kawasan perkantoran. Sejak kejadian gempa itu, kantor bupati setempat sedang dalam proses pengerjaan. Di bukit inilah terdapat lebih dari 1000 jiwa pengungsi korban gempa bumi. Mereka membangun tenda-tenda darurat. Tidur di atas mobil pick up, adapula yang membangun tenda di atas mobil truk. Segala usia bertebaran di lokasi ini. Mulai dari balita, anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, orang sehat hingga orang sakitpun ikut mengungsi.

 

Kebanyakan dari mereka adalah warga yang khawatir akan adanya gempa susulan yang bisa mengakibatkan tsunami. Tetapi tidak sedikit diantaranya adalah warga yang rumahnya porak-poranda akibat guncangan gempa.

 

“Kami berlarian ke luar rumah.Rumah kami sudah roboh,” kata seorang ibu dari Kelurahan Buol. Kelurahan ini merupakan lokasi yang terbilang parah karena ratusan rumah panggung milik warga miring. Ada pula yang tiangnya patah, sebagian lainnya roboh hingga sujud ke tanah.

 

Cerita dan kepedihan yang mereka rasakan saat kejadian gempa terbawa hingga ke lokasi pengungsian. Tak satupun menyangka jika tanah tempat mereka berpijak terguncang akibat gesekan bumi. Warga tampak masih trauma meskipun gempa 7,7 scala richter tersebut sudah 12 jam berlalu.

 

Malam itu jam di handphone saya sudah hampir mendekati pukul 00.00 Wita. Itu artinya beberapa saat lagi interval waktu gempa bumi saat kejadian sudah 24 jam. Tapi warga masih tetap waspada dan memilih bertahan di tenda pengungsian.

 

Sebagai wartawan ANTARA sayapun rela menunggu hingga dua malam di lokasi pengungsian bersama warga. Mereka bercerita tentang banyak hal. Mulai dari kronologis gempa, berlarian naik ke puncak gunung, susahnya buang hajat di lokasi pengungsian, bahkan mereka juga ikut bicara soal susahnya kehidupan ekonomi, terbatasnya lapangan kerja, dan makih tingginya biaya hidup.

 

Karena terbawa cerita, mata saya pun masih segar melihat tenda-tenda yang bergelantungan. Memandangi ayah yang mengayun anak-anak balitanya. Mata saya masih terang memandangi warga yang tidur di bawah tenda-tenda darurat. Malam itu juga saya teringat dengan sebuah peristiwa konflik yang mengakibatkan banyak orang kehilangan tempat tinggal, sanak family, handaitaulan, dan harta benda.

 

Dalam pikiran dan benak saya terbesit ungkapan bahwa bencana sehari saja bikin orang trauma. Meninggalkan tempat tinggal. Rela tidur di bawah tenda-tenda darurat. Bagaimana kalau terjadi konflik yang berakibat hilangnya tempat tinggal dan harta benda lainnya, mungkin lebih susah lagi. Jadi memang berkonflik itu tidak ada gunanya Hanya bikin susah hidup.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s