Nasib Petani Kakao Tolitoli Di Ujung Tanduk

Oleh Adha Nadjemuddin

 Bagi sebagian orang di Kabupaten Tolitoli, Desa Kongkomas merupakan kampung halaman para “juragan kakao”.
 Sebagian besar penduduk desa yang populasinya sebanyak 1.508 jiwa itu merupakan petani kakao, yang ketika masa panen, para petaninya seperti mendulang rupiah dalam jumlah besar.
 Itu sebabnya, di desa tersebut banyak berdiri rumah permanen, dan hampir setiap rumah tangga memiliki satu unit sepeda bermotor. Setiap tahun, ada warganya yang menunaikan ibadah haji.
 Tapi itu beberapa tahun lalu.
Kini, kondisi desa yang berada di Kecamatan Basidondo, sekitar 54 kilometer selatan kota Tolitoli itu, tak seperti dulu, setidaknya tidak seperti sebelum 2004.
 Keadaan penduduknya yang dahulu terlihat begitu bergairah, mulai “redup”. Menurut sejumlah penduduk desa itu, jangankan memperbaiki rumah tinggal, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja dirasakan begitu sangat sulit.
 Penyebabnya, tidak lain, sumber penghasilan utama mereka, yakni kebun kakao, tak bisa diharapkan lagi.
 Jika sebelumnya produksi biji kakao yang dihasilkan petani setempat mencapai 600 kg hingga 800 kg per hektare setiap kali panen, kini anjlok tajam hingga 20 kg.
 Serangan hama penggerek buah kakao, yaitu “Conopomorpha cramerella snell” dan “Vascular streak dieback”, yang mengganas kurun lima tahun terakhir, mengakibatkan tanaman kakao di sana meranggas dan sebagian besar terancam mati.
 Menurut Muhammad Nur, kepala desa setempat, mengganasnya akumulasi hama tersebut memberikan dampak luar biasa bagi warganya yang mayoritas petani kakao.
 “Mereka kini kesulitan menutupi kebutuhan hidup sehari-hari dan membiayai pendidikan anak yang masih bersekolah,” katanya.
 Bahkan, banyak di antara mereka pindah ke kabupaten tetangga di Sulteng serta Provinsi Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur untuk mencari sumber penghasilan baru, dengan menjual harta bendanya yang masih tersisa.
 “Yang pindah ke Sulawesi Selatan saja hingga kini sudah ada 50-an kepala keluarga,” kata Nur, sambil memperlihatkan arsip beberapa surat pindah domisili sejumlah warga.
 Kini, sebagian besar penduduk setempat pasrah menghadapi kesulitan hidup. Mereka yang masih bertahan di tanah leluhur warisan nenek moyang terlihat tetap mengelola kebun kakaonya, sekalipun produksi yang dihasilkan tak bisa menutupi kebutuhan keluarga.
 Selain ada juga yang sudah menebang pohon kakao yang tidak produktif itu dan menggantikan dengan tanaman jangka pendek, semisal jagung, umbi-umbian, dan sayuran.
 “Saya pikir apabila pemerintah tak segera membantu menyelamatkan petani kami untuk memberantas hama kakao ini, akan banyak lagi tanaman kakao yang ditebang atau kemungkinan semakin bertambah penduduk eksodus ke daerah lain,” kata Nur menambahkan.

Puluhan desa
 Serangan hama penggerek daun itu menyebar luas dan menyerang tanaman kakao pada puluhan desa di Kecamatan Dondo, Basidondo, Lampasio, Ogodeide, dan Kecamatan Galang. Semua kecamatan itu sebelumnya dikenal sebagai pusat produsen kakao terbesar di Kabupaten Tolitoli.
 Di desa-desa tersebut, tak sedikit biji kakao yang dipanen petani sudah rusak karena menggumpal dan berwarna hitam, sehingga hanya beberapa butir saja yang bisa diambil dalam satu buah. Bahkan ada yang tak bisa diambil sama sekali.
 Selain itu, dahan dan ranting tanaman kakao milik rakyat itu mengering disertai buah kakao yang masih kecil dan berwarna hitam ikut pula menggantung.
 Juga, batang dari banyak tanaman kakao tersebut ditumbuhi lumut dan sangat kurus.
 Keadaan tidak kunjung membaik walaupun tanaman itu diberi racun pembasmi hama dan pupuk.
 “Petani di desa saya telah kehilangan akal menanggulangi hama ini, dan mereka kini sudah pasrah,” kata Ketua Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Gindopo, di Kecamatan Lamapasio, Syamsuri.
 UPT Gindopo merupakan dusun di Desa Kayulompa yang dihuni 300 kepala keluarga transmigran asal Jawa Timur dan Jawa Tengah sejak 2004.
 Syamsuri mengatakan, karena mengganasnya hama tersebut, banyak petani setempat terpaksa menebang pohon kakao mereka dan mengganti dengan kopi yang bibitnya diperoleh dari bantuan pemerintah daerah.
 Tanaman kopi itu terlihat tumbuh dengan subur.
 Untuk mempertahankan hidup mereka sambil menunggu masa panen tanaman pengganti, umumnya warga ekstransmigran itu memanfaatkan lahan pekarangan mereka.
 Sebagian lahan kebun mereka ditanami dengan tanaman jangka pendek guna memenuhi kebutuhan perut serta untuk dijual.
 Baharuddin, Ketua Kader Penggerak Pembangunan Satu Bangsa (KPPSB) di Kabupaten Tolitoli, mengatakan, sejak tanaman kakao di daerahnya terserang hama sangat kronis kurun lima tahun terakhir, banyak lahan kakao setempat beralih fungsi menjadi kebun untuk jagung, kopi, sayur-sayuran, dan hingga menjadi areal tanaman padi.
 “Saya tidak memiliki data seberapa besar luas kebun kakao yang beralih fungsi, tapi diperkirakan telah mencapai ratusan hektare,” kata kader pembangunan daerah yang direkrut Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal itu.
 Selain itu, lanjut dia, akibat serangan hama tersebut banyak petani kakao di Kabupaten Tolitoli menelantarkan kebunnya, dan kemudian beralih menjadi pencari rotan di hutan dan menekuni pekerja serabutan.
 Kini, ribuan petani kakao setempat berharap pemerintah di daerahnya memperjuangkan kebun-kebun mereka sebagai sasaran “Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao (GPPMK)” yang diluncurkan pemerintah pusat pada 2009 hingga 2010.

70 persen
 Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Tolitoli Idham Mohammad Amin, memperkirakan, laju kerusakan tanaman kakao di daerahnya akibat serangan akumulasi hama tersebut saat ini sudah mencapai 70 persen dari total 10.000 hektare.
 Sebagai contoh, pada 2004 produksi biji kakao kering kabupaten di ujung utara Provinsi Sulteng masih 7.719 ton, namun pada 2007 tinggal menjadi 2.648 ton.
 Idham berharap melalui alokasi anggaran GPPMK yang dikucurkan pemerintah pusat untuk lahan seluas 1.000 pada tahun ini di daerahnya, akan dapat mengairahkan kembali petani setempat mengurus kebun kakaonya.
 GPPMK yang pada tahun ini baru menyentuh kurang dari 15 persen kebun kakao rakyat di Kabupaten Tolitoli yang terserang hama itu dilakukan dalam bentuk peremajaan, rehabilitasi, dan intensifikasi tanaman.
 “Saya kira sudah seharusnya pemerintah segera turun tangan meluncurkan berbagai program untuk memperbaiki tanaman kakao di Kabupaten Tolitoli yang terserang hama ini, agar nasib ribuan petani setempat yang sudah berada di ujung tanduk dapat terselamatkan,” kata Baharuddin menambahkan.(antara)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s