Menelusuri Jejak Masjid Tertua di Tolitoli

Oleh Adha Nadjemuddin
Tolitoli, 16/9/09 – Sebuah masjid berlantai dua dilengkapi lima kubah hijau di atasnya berdiri kokoh di Kawasan Malosong, sebuah kompleks perkampungan orang keturunan Tionghoa di Kelurahan Baru.
Namanya masjid Jami, salah satu masjid tertua di Tolitoli, Sulawesi Tengah. Masjid ini merupakan salah satu sejarah peradaban umat Islam di daerah bekas kesultanan Ternate itu.
Masjid dengan luas bangunan 35 x 45 meter persegi itu telah bersentuhan dengan bahan bangunan impor dari Singapura sekitar tahun 1936. Berlantai marmer yang didatangkan dari Singapura oleh saudagar kopra dari Tolitoli.
“Awalnya masjid ini hanya berukuran 11 x 13 meter, tapi sudah berlantai marmer yang dibeli dari Singapura oleh orang-orang tua kami dulu,” kata Husen H Abd Hafid, seorang tokoh masyarakat setempat.
Husen mengenal banyak sejarah masjid tersebut karena kakeknya, alm Lahuseng, adalah imam pertama sejak masjid tersebut didirikan. Lahuseng menjadi imam sejak tahun 1936-1957. Dari tangan Lahuseng inilah masjid Jami berdiri kokoh dengan satu kubah besar di tengah masjid tersebut.
Sebelum diangkat menjadi Imam, Lahuseng sudah menjadi saudagar kopra dengan sasaran penjualan Pulau Jawa dan Singapura. Hasil penjualan kopra tersebut sebagian dibelikan marmer dan bahan bangunan lainnya lalu diboyong pulang ke Tolitoli.
“Kalau dagangan mereka berlaba (untung,red) masih jauh dari pantai kapal yang mereka gunakan berlayar sudah membunyikan meriam. Itu tandanya mereka berlaba,” kata Husen menceritakan.
Awalnya masjid itu berbentuk langgar yang terbuat dari papan kayu dibangun tahun 1926. Lokasinya sekitar 200 meter di bibir pantai Susumbolan, sebuah kawasan pasar terpadu dalam kota yang di dalamnya terdapat pasar, terminal, tempat pendaratan ikan, panggung hiburan seni bahkan kawasan kuliner.
Tempat ini menjadi pemandangan menarik. Tempo dulu hampir seluruh kawasan yang mencakup empat kelurahan disebut dengan Kampung Baru. Di sinilah awalnya masjid dibangun dalam bentuk langgar sekitar tahun 1926.
“Waktu itu belum ada masjid yang dibangun kecuali langgar di pantai itu,” kata Husen.
Dari sejarah itulah katanya bisa dipastikan bahwa Masjid Jami merupakan salah satu masjid tertua di daerah produsen cengkeh tersebut.
Jauh sebelum masjid tersebut dibangun, Husen memperkirakan Islam sudah masuk dan tersebar sekitar abad ke-18 M. Salah satu bukti yang menguatkan kata Husen adalah adanya sebuah Alquran yang ditulis tangan oleh guru Kannu tahun 1212 hijriah.
“Guru Kannu adalah guru mengaji dari Tanimbar Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Dia menitipkan Alquran itu melalui Nahkoda Gantele,” kata Husen.
Gantele konon kabarnya adalah seorang nahkoda kapal dari Bone pindah ke Tolitoli. Ia mendarat di Kalangkangan, sebuah desa sekitar enam kilomter arah utara Tolitoli. Gantele bersama pasukannya kemudian masuk ke Kampung Baru (sekarang menjadi lokasi masjid Jami dan sekitarnya) dan berhasil memukul mundur orang-orang Mindanau, Filipina, yang menguasai Kampung Baru ketika itu.
“Dari Gantele dan pasukannya akhirnya kemudian berkembang hingga sekarang. Itulah sebabnya di lokasi sekitar masjid Jami didominasi suku Bugis,” kata Husen.
Nama masjid Jami sebetulnya sudah beberapa kali mengalami perubahan nama. Menurut Ketua Ta`mir Masjid Jami, Hasan Patongai, pertama kali masjid itu disebut masjid Kampung Baru. Kemudian berubah menjadi Masjid Taqwa.
Tidak bertahan dengan nama Masjid ini, lalu berubah lagi menjadi Masjid Raya. Karena ada aturan nama Masjid Raya hanya digunakan untuk masjid tingkat kabupaten, maka sejak saat itulah namanya berubah menjadi Masjid Jami.
Agar masjid ini terurus dengan baik, tahun 1984 s/d November 1986 dibentuklah Yayasan Masjid Jami. Abd Rahman Said, salah satu tokoh pendiri yayasan, sekaligus sebagai ketua yayasan pertama.
Masjid Jami yang sekarang tampak megah bukan lagi desain asli Masjid Jami tempo dulu. Masjid Jami hari ini sudah mendapat sentuhan teknologi modern dengan pemugaran total yang pembangunannya dilakukan sejak tahun 1987.
Marmer yang merupakan buah karya dari imam Masjid pertama kini sudah tidak tampak lagi. Marmer itu ditimbun lalu dijadikan lokasi parkir.
Beberapa bangunan seperti menara tempat muadzin mengumandangkan adzan juga tidak ada lagi. Menurut Husen, jika muadzin (dulu disebut Bilal) hendak adzan harus naik ke atas menara yang terbuat dari kayu. Lalu di atas menara itulah muadzinnya melafalkan adzan dengan menggunakan corong yang terbuat dari seng plat.
Sebagai tanda bahwa adzan akan dikumandangkan, lebih dulu petugas menabuh beduk. Sekarang suara beduk itu tak terdengar lagi.
Salah satu tempat yang dinilai masih memiliki nilai sejarah hanyalah sebuah sumur kecil, terletak di samping masjid. Tidak ada juga bukti-bukti sejarah kapan sumur itu dibangun.
Tetapi menurut Husen, pada tahun 1982 dimana Tolitoli ketika itu terjadi musim kemarau, sumur ini justru airnya meluap. Sumur ini dianggap memiliki nilai sejarah maka dilestarikan hingga saat ini.
“Sumur ini dulunya pernah ditutup tetapi dibuka kembali. Orang-orang keturunan Tionghoa yang ada di sekitar lokasi masjid tidak rela jika sumur itu ditutup karena dulu mereka mengambil air dari sumur itu,” kata Hasan Patongai.
Siapakah imam pertama di masjid tertua itu? Tidak ada juga bukti-bukti tertulis. Tapi masih banyak diantara pendiri yayasan yang mengingatnya. H Lahuseng adalah imam pertama ( 1936-1957), menyusul H Hamzah (1957-1962), H Ahmad Mahmuda (1962-1964), H Abdullah Mahmuda (1964-1970), H Abdullah Nusu (1970-1975), KH. Hasan Tahir (1975-1980), Moh H Kasim (1980-1982), KH Moh Tahir (1982), Usman H Abu (1983-1984), H Abdul Hakim Bandi (1984), H Firdaus M Husen (1988 s/d 2006), Muhdar M Amir, S.Pdi (2007-2008) dan Moh Sabran (2008 s/d sekarang).
Dari 12 imam masjid Jami tersebut alm. H Firdaus M Husen paling lama, terhitung sejak 1988 s/d 2006. Almarhum meninggal dunia bulan Ramadhan 1927 H lalu.
Dulu yang menunjuk imam masjid disebut dengan Kadi. Kadi adalah pakar hukum agama. Kadi pertama kali di Tolitoli ketika itu bernama H. Mahmuda.
Kadi mempunyai peran penting, tidak saja menunjuk imam, tapi juga menentukan kapan dimulainya puasa dan lebaran. Ketika seorang Kadi misalnya, menetapkan lebaran hari raya Idul Fitri jatuh pada hari Sabtu, maka seluruh kewedanaan Tolitoli mengikutinya. (antaranews.com)

19 thoughts on “Menelusuri Jejak Masjid Tertua di Tolitoli

  1. Djambar Wardana 14 Oktober 2009 / 12:58 pm

    Assalamualaikum..

    Sangat menarik kawan…sejarah dengan cerita yang luar biasa.

    perlu lebih banyak cerita dan liputan seperti itu kawan,semoga bisa menjadi pelajaran berharga buat Masyarakat Tolitoli dan Bangsa ini.

    Sejarah seperti ini penting, agar generasi ini mengenal Bangsanya, tidak ada lg pemahaman tentang anak daerah dan bukan anak daerah, negara dan bangsa ini milik kita semua dimana pun berada dari Sabang sampai Merouke.

    Tanah ini milik siapa saja yang menempatinya dan berdiri diatasnya selama iya merasa memiliki dan berjerih payah untuk membangun serta menjaganya (dimana Bumi di pijak disitu langit di Junjung).

    Semoga tulisan berikutnya mengenai Perjuangan Imam Haji Hayun dan rakyat salaumpaga!

    Wassalam….***Ikeshima Japan***

    • adhanet 29 Oktober 2009 / 7:24 am

      Bang Djambar, trims atas pujiannya. Hanya dengan menulis yang mampu sy persembahkan untuk negeri ini. Inspirasi dan ketulisan itu hanya ada di ujung pena kami, para jurnalis. Semoga sy masih bisa melakukan yang lebih baik lagi. Trims.

  2. irfandi hi hasan 24 November 2009 / 7:23 pm

    Assalam.. tulisanx sangat menarik.. sy hx mau minta kejelasan soal daerah asal gantele,seorang anakoda b0ne yg anda maksud??. krn dri informasi yg sy dpt, ada dua pendapat soal daerh asalx. pertama,beliau dri barru. kedua, beliau dari pammana wajo,. kalo memang anda brpndapt dr b0ne, brrti ada 3 skrg pendapat yg brkbng saat ini.

    • adhanet 25 November 2009 / 12:13 am

      Trima Kasih Bung Irfandi Hi. Hasan atas komentarnya…
      Pertama, saya tahu nama Gantele setelah wawancara dengan beberapa orang tokoh, salah satunya Pak Husen, cucu dari imam masjid pertama di masjid Jami itu. Saya tahu asal muasalnya Gantele dari Bone juga dari Pak Husen. Dari beberapa pendapat Husen-lah yang saya kutip pendapatnya sebab dia termasuk orang yang dekat dengan Lahuseng, imam masjid Jami pertama. Husen juga hanya mendengar cerita itu dari sang kakek.
      Kedua, saya berusaha mencari bukti-bukti sejarah yang bisa menguatkan pendapat Pak Husen bahwa Gantele dari Bone tapi tdk ketemu. Sumber otentik satu-satunya hanya Alqur’an tertua itu. Sy sudah buat janji sama Pak Husen untuk melihat langsung Alqur’an itu, tapi tiba2 sore itu ada agenda mendadak sehingga saya batalkan janji secara sepihak. Hingga kini sy belum lihat Alqur’an itu. Tapi memang itu ada.
      Ketiga, soal tahun mendaratnya Gantele juga masih perlu ditelusuri lebih jauh apakah benar sekitar abad ke-18. Sekadar catatan, Islam konon sudah masuk ke Tolitoli abad ke-17 (versi buku Mengenal Buol Tolitoli).
      Itu yang bisa sy komentari tentang pertanyaanya Bung Irfandi. Sy berpikir, kalau tidak ada yang mulai menulis, siapa lagi? Karena tulisan “Menelusuri Jejak Masjid Tertua di Tolitoli” itu bukan kajian akademis, maka masih perlu diperdebatkan, dikaji ulang, atau apalah namanya untuk menambah atau membuang yang tdk perlu dalam tulisan itu. Soal masjid tertuapun masih beda pendapat. Ada yang bilang masjid tertua itu di Nalu. Sy juga sudah wawancara dengan keluarga terdekat yang pertama kali bangun masjid itu, tapi sayang sudah sy utak atik file di komputerku datanya hilang. Dua tahun sy wawancara masjid tertua di Nalu baru sy kemudian wawancara jejak masjid Jami.
      Terima kasih
      Wassalam
      Adha Nadjemuddin

  3. budee lamala 30 Desember 2009 / 12:04 pm

    boleh sharing2 lagi kapan2 ada waktu ttg tulisan bpk ini..hehe….jadi ingat teman sy dulu smpat kontek2n…dy sempat garap MASJID 2000 thn 2000 jg wktu ituu…dari sluruh indonesia..dri sabang sampai merauke….nda tau kenapa situsx skrg sudah nda aktif lagi….

  4. Anonim 8 Februari 2010 / 6:01 pm

    makasi pak atas penjelasanx..cmn ada bbrp poin yg ms mngganjal bg sy ttg sosok gantele.krn gantele tlh memainkn prann penting msukx islam d toli2 menurut tulisanx bpk(mskipun ada versi yg lain) selain itu,konon mnurut crita rkyat yg brkmbg di masyarakat kota tolitoli bhw gantele,nama lengkapx: Andi Muda Gantele(hsl wwncara dgn bpk. Rustam) merupakan orang bugis pertama di tolitoli yg tlh melakukan pelayaran dgn kapalx “Sikonyara”,.
    skedar informasi pak, di facebook suda d buat group gantele, dgn alamat GANTELE,. Group itu sngaja dibuat sbg media silatrahmi n mendiskskan ttg gantele.
    Terimakasih sblmx pak.. Sy hx orang yg awam mw mengetahui lbh jauh tentang gantele,. Mohon maaf jika suda merepotkan,.skali lg makasi pak.

  5. irfandi hi hasan 9 Februari 2010 / 2:45 am

    iye pak. makasi atas penjelasnnya., tapi ada beberapa poin yang masih mengganjal bagi sy tentang gantele. dalam tulisan bapak, gantele (nama lengkapnya; ANDI MUDA GANTELE, hasil wawancara dengan bapak rustam)adalah sosk yang telah memainkan peran penting masknya islam ditolitoli (meskiipun ada versi lain tentang masuknya islam di tolitoli).,selain itu, menurut cerita rakyat yang berkembang di masyarakat kota tolitoli bahwa orang bugis pertama yang masuk di tolitoli adalah GANTELE yang melakukan pelayaran dari kampung PAMMANA (kampung itu masih beberapa versi, ada yang mengatakan kampung itu berada di barru, dan ada juga yang mengatakan kampung itu berasal dari daerah wajo, pammana). GANTELE melakukan pelayaran ketolitoli dengan menggunakan kapalnya SIKONNYARA dengan bebrapa abk. daerah pertama yang disinggahi adalah desa BANAGAN (kec. dapmpal utara).sehingga saat ini, di desa banagan banyak keturunan gantele (hingga ke desa tompoj_)

    mungkin bapak bisa memberikan sedikit pendapat, masukan tentang gantele di facebook. karena di facebook sudah dibuat group silaturahmi n mendiskusikan masalah keberadaan gantele ditolitoli., dan kami sangat mengharapkan itu pak..

    terimakasih sebelumnya pak sudah mau memberikan penjelasan, saya mohon maaf bila merepotkan bapak. sekali lagi terima kasih pak..
    assalam..

  6. Razmy 14 Februari 2010 / 9:23 am

    dengan tulisan ini bapak telah meng infokan salah satu sejarah kampung kita kepada kaum muda toli2..walaupun itu dengan sumber yang sangat minim…tapi banyak terima kasih atas usahanya….tetap berkarya membangun tolitoli menjadi lebih baik.

  7. sri irma ningsih 23 Maret 2010 / 3:56 am

    ass.
    saYa sangaT tertarik dengan sejaRah dari mesjidtertua ditolitoli..
    walaupun saya terlahir di tolitoli tapi saya belum terlalu memahami keseluruhan dari kota tolitoli..
    klo bolehlebih di perbanyaklagi info-info dari tolitoli selanjutnya,..
    trims

  8. MUSAFIR 20 Agustus 2010 / 10:16 pm

    Sejarah adalah hal yang esensial dan merupakan miniatur bagi seseorang yang dialogis dan kretif.
    Saran: Informasi lewat media ini sangat perlu, yang berkenaan sebuah daerah-daerah yang akan berkembang seperti kabupaten tolitoli yang baru saja selesai pemilu kada, perlu diorganisir ntuk menggali potensi dan minat bakat bagi siapa yang peduli dan konsisten, tentunya dengan materi yang berkualitas……….., bukan begitu bang…………???????

  9. MUhammad Faisal 17 September 2010 / 12:37 am

    Assalamu Alikum
    Perlu ada tentang kejelasan tentang Sejarah Gantele masuk ke Tolitoli kenapa sejarah gantele tidak pernah diangkat dan didiskusikan oleh orang yang berkompeten dangan sejarah setahu saya ada sebagian anak tolitoli yang bisa menelusuri sejarah gantele seperti Dosen Sejarah UNTAD Bapak Drs.Lukman Nadjamudin.M.HUM yang sudah pernah mengeluarkan buku Tentang Sejarah di Poso. jangan sampai sejarah Gantele hanya sebagai wacana kalau tidak ditelusuri lebih jauh tentang sejarahnya sekian dan terima kasih

  10. moh.sairin 25 November 2010 / 4:13 am

    Ass, saya pernah baca buku, kalau tidak salah judulnya “Dampak Pariwisata terhadap Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Sulawesi Tengah”. Dalam buku tersebut dinyatakan bahwa Masjid Tertua di Toli-toli adalah Masjid Babul Husna di Kel. Nalu yang didirikan pada tahun 1913.

    • adhanet 6 Desember 2010 / 1:09 am

      Terima kasih, saudaraku Moh Sairin.
      Dalam tulisan ini, sy tidak langsung mengklaim bahwa masjid Jami adalah satu-satunya masjid tertua di Tolitoli, tetapi salah satu masjid tertua.

      Memang benar besar kemungkinan masjid tertua itu di Nalu. Pada tahun 2006 saya sempat mewancarai salah seorang ibu yang usianya sudah cukup tua di dekat masjid itu. Sayang sekali dokumen yang saya tulis itu, hilang. Masjid itu diperkirakan dibangun tahun 1913 oleh seorang perempuan bernama Husna. Dia termasuk perempuan yang sukses dalam bidang ekonomi ketika itu.

      Awalnya masjid Babul Husna itu digunakan tempat mengaji, lalu kemudian didirikanlah masjid.

      Thank’s ya atas komentarnya.

  11. hamka 19 Maret 2011 / 4:45 am

    Aswbar. sy sangat tertarik dengan sejarah keagamaan tolitoli. Sy ingin tahu lebih jauh ttg sejarah masuknya Islam di Tolitoli, apakah berbarengan dgn masuknya Islam di Palu oleh Datokarama, ataukah justru bersamaan dengan masuknya Islam di Gorontalo. apa ada buku atau sumber hidup yg bisa saya temukan untuk informasi ini. mohon bantuannya.
    Thank’s.

  12. Anonim 12 November 2012 / 4:25 pm

    masjid tertua ditolitoli yang sebenarnya…….?

    • Anonim 12 November 2012 / 4:27 pm

      di bangun oleh yang agung sultan ternate…..

  13. Anonim 27 Mei 2013 / 4:10 am

    Kec.pammana kab.wajo-Bone tetangga dekat.

  14. Moh.Safri 13 April 2016 / 5:51 am

    Ass….Sdkit tmbahan mohon maaf klu ada yg salah…Jauh sblumx sy msh duduk di bangku SD sdh mndengar ttng sejarah Gantele dri Kakek sy yang asal usulx dri tanah Mangkoso/ Barru…Hingga Penyerangan Gantele bersama pasukanx untk mengusir Pembrontak Mindanau dri tanah toli2 atas permintaan Raja pada saat itu..berawal dri Sayembara yg dilaksnkan oleh raja pd saat itu sehingga hanya Gantele bersama pasukanxlah yg berani melawan pembrontak mindanau pd saat itu..seingatx Penyerangan yg skaligus berhasil memukul mundur pembrontak mindanau pd saat itu berakhir di Tanjung,yg sekrang dikenal kilo 5…
    Panjang sbnarx crita kakek sy,tpi mgkn ini dlu yg bs dcritakan..mhon maaf klu ada yg salah…terimakasih…Wassalam.

  15. Lukman Hakim 8 Mei 2016 / 4:50 am

    mohon maaf saya sangat tertarik dengan pembahasan diatas, sampai saat ini sy belum berani bicara banyak tentang Anak Koda Gante (La Gantele), penelusuran tentang sejarah La Gantele pun saya dapat dengan Versi yang berbeda. jika La Gantele berasal dari Pammana berarti La Gantele asalnya dari Wajo Pammana, Karena Pammana tidak terdapat di daerah Kab. Barru Sulsel, Pammana memang bertetangga dan bahkan berbatasan dengan Kab. Bone, Pammana adalah salah satu Kerajaan tertua di daerah Wajo yang semula namanya Kerajaan Cina diganti menjadi Pammana, nama Pammana diambil dari nama belakang Raja La Sangaji Aji Pammana, Kenapa nama itu digantikan kerajaan cina? karena Raja La Sangaji Aji Pammana adalah Raja yang tidak punya keturunan (Generasi pelanjut) sehingga ia meminta namanya diabadikan sebagai nama kerajaan kepada masyarakatnya saat itu. untuk meneruskan tampuk kepemimpinan saat itu La Sangaji aji Pammana meminta pula 2 orang kemanakannya dipilih sebagai penggantinya jika ia sudah meninggal, nama kemanakannya yaitu la tenri dolong arung liu dan la tenri ranreng arung baringeng.
    pengganti raja di tunjjuk salah satu dari dua keponakannya itu lah latenri dolong dengan la tenri ranreng. la tenri rangreng tidak sanggup mengembang amanat dari sang raja maka jatuhlah pilihan kepada la tenri dolong arung liu menjadi raja pertama bergelar datu pammana.
    Wajo memeluk islam secara resmi ditahun 1610 pada pemerintahan La Sangkuru patau mulajaji sultan Abdurahman dan Dato Sulaiman menjadi Qadhi pertama Wajo. Setelah Dato Sulaiman kembali ke Luwu melanjutkan dakwah yang telah dilakukan sebelumnya. tks…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s