Mudiknya Kaum Kecil

Oleh Adha Nadjemuddin
Palu, 17/9/09 – “Satuuu duaaa tigaaaaa…,” begitu kondektur dibantu beberapa penumpang berhitung bersorak saat mendorong mini bus Damri yang baru saja selesai mengisi bahan bakar solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Tolitoli, Sulawesi Tengah.
Mini bus tua itu terpaksa didorong meninggalkan SPBU karena tidak ada aliran strom dari kunci kontak ke mesin. Solusinya harus didorong. Sebagian penumpang pun turun membantu.
Jalan 200 meter meninggalkan SPBU, bus itu singgah lagi di bengkel, sebuah bengkel kecil melayani tambal ban. Ban serep yang bocor dalam perjalanan dari Buol menuju Palu, ibukota provinsi Sulawesi Tengah belum sempat ditambal di jalan. Penumpang akhirnya bersabar lagi menunggu hingga ban selesai ditambal.
“Sabar yah Pak, tadi ada ban bocor tidak sempat ditambal di jalan karena tidak ada bengkel. Mau ditambal dulu sebentar,” kata sang sopir.
Dalam mobil banyak penumpang. Di antaranya terdapat nama Annisa (6) bersama dua adiknya. Mereka sangat lincah bermain dalam bus Damri tujuan Buol-Palu itu. Mereka tak menghiraukan penumpang di samping kanan, depan dan dibelakangnya. Mereka tetap saja bergembira.
Mereka bermain girang, melompat bahkan memanjat di jendela kaca bus dengan sebelah tangan memegang ikan goreng dan burasa (makanan khas bersantan dibungkus daun pisang).
“Hati-hati nak, nanti kamu jatuh,” kata Darni, ibu dari tiga anak itu menegur anaknya yang sedang asyik bermain di dalam bus.
Sejenak tiga anaknya mendengar teguran sang ibu, lalu mengulang lagi bermain. Sesekali mereka menyanyikan lagu Lucky Laki, “Bukan Superman”, lagu yang beberapa bulan terakhir populer di telinga pencinta musik tanah air tak terkecuali anak-anak.
Tiga anak pasangan Darman dan Darni itu tampak bahagia karena mungkin sebentar lagi mereka akan menginjakkan kaki di Palu, ibukota Provinsi Sulawesi Tengah.
Darman sekeluarga mudik dari Buol ke Palu. Tradisi ini dilakukan menjelang lebaran karena salah satu dari orangtua mereka berada di Palu.
Untuk melengkapi perjalanan mudik, Darni tidak lupa membawa bekal satu tas khusus yang di dalamnya terdapat termos, susu, air mineral, ikan goreng, dan beberapa bungkus burasa. Bau burasa dan ikan goreng yang menyeruak dari tas membangkitkan gairah penumpang yang sedang berpuasa di sekitarnya.
Sejumput makanan itu sangat penting bagi Darni dan tiga anaknya. Saat anaknya lapar atau haus, ia langsung menarik barang dalam tas yang sudah disiapkan di bawah kursi. Apalagi perjalanan cukup jauh dan melelahkan, tentu saja butuh bekal yang cukup.
Jika berangkat dari Buol pukul 09.00 Wita, bus akan tiba di Palu sekitar pukul 08.00 Wita keesokan harinya. Jika menggunakan angkutan sewa khusus (rental) lebih cepat lima jam.
Meskipun lambat tetapi keluarga Darman lebih memilih bus Damri. Harga tiketnya lebih murah meskipun berpeluh. Tempat duduknya bisa memberi ruang gerak yang cukup meskipun panas. Bisa terhibur meskipun `sound` musik di bus itu buruk. Bisa lebih banyak teman karena di lorong bus sekalipun bisa jadi tempat duduk untuk pemudik musim lebaran. Barang yang dibawa pun bisa jauh lebih banyak.
“Kami sewa empat tempat duduk. Satu tempat duduk Rp 100 ribu sudah sampai ke Palu,” kata Darni.
Hanya Rp 400 ribu dengan empat tempat duduk, Darni sudah bisa mudik bersama lima orang keluarganya. Darni bersama suaminya, tiga orang anaknya dan seorang keponakan. Empat kursi untuk enam orang keluarga.
Sepekan menjelang lebaran masyarakat pengguna jasa angkutan Damri sudah mulai padat. Meningkat tajam dari hari-hari biasanya. Pengguna jasa Damri hari itu sudah melebihi kapasitas kursi yang tersedia. Alternatifnya sebagian harus duduk di lorong. Bahkan sebuah sepeda motor ikut didudukkan dalam lorong bus itu.
Hamdani bersama seorang anak perempuanya, penumpang yang naik di tengah perjalanan, terpaksa duduk di lorong asalkan bisa sampai ke tempat tujuan. Perempuan setengah baya itu duduk di tengah himpitan kursi.
Ibu itu rela mencium aroma burasa dan ikan gorong bekal keluarga Darni. Sementara anaknya yang sedang sekolah di SMP duduk di atas jerigen minyak solar. Tak peduli dengan penumpang lain yang muntah di sekitarnya.
Asap rokok dari lelaki perekok yang tak mengerti situasi dan kondisi dalam bus terus mengepul dari bangku bagian belakang. Asap rokok itu melebar ke mana-mana dalam bus. Sang perokok tak perduli dengan anak-anak dan penumpang lainnya, ia terus mengisap rokoknya.
Campuran berbagai aneka bau, tarif tiket murah dan aroma asap rokok dalam bus adalah bagian tak terpisahkan dari mudiknya kaum kecil, untuk merayakan Idul Fitri 1430 H di kampung halaman. (antaranews.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s