Wajah Pelayanan Kesehatan Kita

Oleh : Adha Nadjemuddin
BANYAK rumah sakit menjadi pilihan pengguna jasa kesehatan untuk berobat, dari kelas puskesmas hingga kelas internasional. Tarifnya juga beragam. Dari murah hingga yang mahal, tergantung dari kemampuan pengguna jasa yang bersangkutan memilih yang mana.
Tetapi bagi sebagian pengguna jasa kesehatan memilih rumah sakit bukan karena kelasnya, namun tergantung dari pelayanan rumah sakit yang bersangkutan.

Mulyani misalnya, seorang pengguna jasa di Rumah Sakit Husada, Jakarta. Bagi ibu dua anak ini, rumah sakit apapun itu yang terpenting adalah kebersihan lingkungannya. “Bagi saya yang penting rumah sakit itu bersih. Begitu juga pelayanannya harus bagus,” kata Mulyani.

Rumah sakit bersih dan pelayanan yang sehat dan baik tentu saja menjadi dambaan bagi semua pasien dan keluarganya. Rumah Sakit Husada yang berdiri sejak tahun 1924 misalnya, dalam perkembangnnya hingga saat ini masih tetap menjadi langganan sebagian masyarakat Jakarta.
Memasuki ruang lobi rumah sakit yang didirikan Dr Kwa Tjoan Sioe itu, suasananya terasa sejuk menyelimuti raga dari pendingin ruangan (air conditioning). Pasien yang menunggu tebusan obat tidak harus antri seperti penumpang bus Transjakarta yang sedang menunggu bus. Suasananya pun didesain seperti tidak sedang berada di rumah sakit.
Mau belanja ada toko, perlu mengambil uang, ada anjungan tunai mandiri (ATM). Pasien yang menunggu tebusan obat juga bisa menikmati tayangan gambar dari “TV display” yang tipis dengan warna gambar yang utuh.

Begitu juga dengan lokasi parkir yang tidak sesak. Membuat nyaman pemilik kendaraan baik pembesuk maupun kendaraan milik keluarga pasien. Tampilan fisik salah satu rumah sakit tertua di Indonesia ini ingin memberikan pesan bahwa kenyamanan untuk menyembuhkan kesehatan ada di rumah sakit itu. Tentu saja investasi yang dikeluarkan tidak sedikit.

Apakah pengembalian investasi itu akan menjadi beban pasien?
Manajemen rumah sakit tidak bersedia memberikan komentar dengan alasan harus melalui jalur birokrasi rumah sakit setempat.
Dev, seorang ibu beranak dua yang sudah menjadi langganan tetap di rumah sakit itu menuturkan, biaya berobat di sana tidak begitu mahal, dibanding beberapa rumah sakit swasta lainnya.

“Saya melahirkan di sini (Husada,red). Waktu itu saya disesar dan langsung steril kandungan, biayanya Rp9 juta,” kata Dev merinci biaya persalinannya.

Ibu dua anak ini telah memilih jasa layanan RS Husada sudah lama. Bahkan dia sendiri mengaku dilahirkan orangtuanya di rumah sakit yang mendapat akreditasi dari Departemen Kesehatan RI tahun 1997 tersebut.

Dev mengatakan, ia memilih berobat di suatu rumah sakit bukan karena mahal atau murahnya biaya. Yang terpenting baginya adalah pelayanan sang dokter dan keterbukaannya dengan pasien serta keramahan petugas rumah sakit.

“Saya pernah di telepon sama dokter. Dokter itu menyarankan saya agar jangan dulu pulang nanti terjebak macet,” katanya menirukan pesan sang dokter.
Menurut ibu yang bersuamikan seorang marketing di perusahaan penjualan pompa air tersebut mengatakan, biaya setiap rumah sakit relatif, tergantung dari tingkat penyakit yang diderita pasiennya.
“Malahan menurut saya biaya rumah sakit swasta tidak jauh beda dengan rumah sakit pemerintah. Tadinya saya pikir biaya persalinan saya Rp12 juta, begitu dihitung eh hanya Rp9 juta,” kata Dev merinci.

Mulyani dan Dev, dua pasien langganan RS Husada, belakangan ini mengaku “terusik” mendengar cerita Prita Mulyasari, seorang pasien Rumah Sakit Omni International Alam Sutera yang terkuak ke publik akibat ketidakpuasan pelayanan rumah sakit itu.

Mereka justru bertanya kenapa kasus seperti itu bisa terjadi.
“Menurut saya itu tergantung komunikasi antara kita (pasien) dengan dokter,” kata Mulyani mengomentari kasus Prita. Kasus itu membuat pengguna jasa pelayanan rumah sakit semakin selektif memilih rumah sakit.

Kasus Prita telah membuka mata bagi dunia pelayanan jasa kesehatan, ternyata berobat di rumah sakit elite berlabel internasional pun bukannya pulang dengan membawa kesembuhan tapi malah berakhir di dalam penjara.

Energi Prita dan Omni terkuras akibat kasus yang berawal dari surat elektronik (email) yang berisi keluh kesah dari Prita. Keduanya berurusan dengan penegak hukum. Omni bahkan dipanggil Komisi IX DPR RI untuk dimintai keterangannya.

Sekretaris Eksekutif Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Dedi Supratman menilai, jika Pengadilan Negeri Tangerang nantinya memutuskan Prita bersalah, kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan jasa kesehatan akan semakin berkurang.

“Kalau sampai pengadilan memutuskan Prita bersalah dampaknya akan sangat besar terhadap masyarakat pengguna jasa kesehatan,” kata Dedi.

Di sisi lain, Dedi menilai, terkuaknya kasus Prita ke publik menunjukkan tuntutan masyarakat tentang pelayanan kesehatan yang lebih baik sudah semakin tinggi. Tentu saja pengelola jasa kesehatan juga dituntut untuk melakukan peningkatan pelayanan yang sehat dan memuaskan.

“Tren ke depan masyarakat akan semakin kuat tuntutannya terhadap pelayanan kesehatan yang lebih baik,” katanya.
Pelayanan kesehatan yang baik kata Dedi adalah pasien dapat hidup sehat dan puas atas pelayanan yang diperolehnya. Pasien juga memiliki hak atas informasi tentang dirinya dari rumah sakit maupun dokter yang menanganinya.
“Ini hak pasien yang dijamin dalam Undang-Undang Dasar,” katanya.

Bergeser ke Bisnis

Atas tuntutan tren pelayanan yang baik dan sehat, tidak sedikit rumah sakit melakukan reinvestasi, mulai dari pengadaan alat medis, fasilitas gedung, sarana rawat inap, hingga transfer dokter dari luar negeri.

Akibat tingginya investasi rumah sakit itu, sehingga ada kecenderungan rumah sakit saat ini tidak lagi menjadi organisasi sosial tetapi lebih pada organisasi bisnis. Komitmen pelayanan sosial mulai bergeser menjadi bisnis. “Rumah sakit sekarang sudah ada kecenderungannya untuk mengabaikan tanggungjawab sosial,” kata Dedi.

Liberalisasi pelayanan kesehatan pun semakin terbuka. Hal ini ditandai dengan bebasnya dokter-dokter ahli dari luar negeri masuk ke Indonesia.

Sebaliknya kepercayaan masyarakat Indonesia untuk memilih berobat ke luar negeri lebih tinggi dari pada berobat di dalam negeri sendiri.
“Banyaknya dokter-dokter dari luar negeri ke Indonesia adalah salah satu contoh terjadinya liberalisasi jasa kesehatan di Indonesia,” katanya.

Dedi mengatakan, sudah tertanam dalam pikiran masyarakat dalam negeri seakan-akan berobat di luar negeri baru bisa sembuh. Sehingga banyak masyarakat yang berbondong-bondong ke berbagai negara untuk berobat.
Fenomena itulah yang membuat Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (RSCM) membangun kelas “Wing International” yang standar pelayanannya bertaraf internasional.

Selain membangun citra bangsa tentang dunia rumah sakit Indonesia di mata dunia internasional, RSCM juga berharap masyarakat tidak lagi berobat ke luar negeri.

Pembangunan “Wing International” tersebut ditargetkan sudah beroperasi awal tahun 2010 mendatang. Pembangunannya kini sudah rampung 50 persen.

“Bulan Agustus kita rencanakan `soft opening`-nya dan awal tahun 2010 sudah bisa beroperasi,” kata Bagian Pemasaran dan Hubungan Masyarakat RSCM, Poniwati Yacub.

Pembangunan gedung tahap pertama sudah rampung antara lain berupa poliklinik terpadu untuk 14 cluster, kamar operasi, ICCU, ICU, Ruang Rawat Inap VIP/VVIP dan Sterilisasi Sentral serta Tower Parking.
Dia mengatakan, Wing International RSCM pada tahun 2009 akan menyiapkan 80 tempat tidur, masing-masing untuk kelas VVIP, VIP, dan sweet room.

Untuk peralatan medis dan fasilitas non medis lainnya akan tersedia klinik 24 jam, “radiology digital unit” dan Laboratorium terpadu, Perawatan VVIP/VIP, Kamar operasi efektif, ICU/ICCU, dan parkir mobil.

Untuk tenaga medis saat ini pihak RSCM sudah merekrut tenaga ahli, tenaga profesional lainnya dan administrasi dengan kualifikasi tertentu.

Poniwati menegaskan, pembangunan Wing International tersebut benar-benar menjadi rumah sakit yang bertaraf internasional mulai dari fisik, pelayanan, mendapat agreditasi internasional dan ISO.
“Jadi kita tidak sekadar namanya saja internasional, tapi keluarannya juga bertaraf internasional,” katanya.

Target pengguna Wing International RSCM tersebut adalah masyarakat golongan ekonomi menengah ke atas dengan rata-rata penghasilan Rp10 juta ke tas.

Lalu, bagaimana dengan masyarakat miskin? Akankah mereka juga bisa menikmati pelayanan rumah sakit mewah dan megah?

Tampaknya tidak. Mereka tetap saja menjadi penghuni kelas III di rumah-rumah sakit milik pemerintah. Mereka tetap saja antri di loket-loket pelayanan kesehatan yang penuh sesak.
Tempat mereka ada di puskesmas-puskesmas dengan modal Kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin (Jamkesmas) atau surat keterangan tidak mampu (SKTM).(antara)

Jakarta, 12/6/2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s