Kisah Sedih Perempuan Korban Kebakaran Masomba

Oleh Adha Nadjemuddin

Palu, 26/10/09 – Malam itu, Salmia (45) sedang duduk termenung di lapak dagangan tetangganya. Di sebelahnya ada Hj Rusna, keponakannya, juga seorang pedagang.

Salmia mengenakan daster biru berbunga. Di pangkuannya ada seorang anak pria tengah bermanja dengannya. Pria itu anak bungsunya dari seorang ayah bernama Baharuddin. Rambut Salmia sedikit acak-acakan. Saat diajak ngobrol, perempuan tiga anak itu sedikit kikir mengeluarkan kata-kata. Sebagian dari jawabannya adalah air mata.

“Habis semua, Pak,” katanya pendek.

Air mata perempuan itu pun tak terbendung. Air mata mengalir deras di pipinya. Lengan daster yang dikenakannya menjadi pengganti sapu tangan untuk mengusap air matanya. Semakin diajak bicara air matanya semakin deras.

Salmia merupakan satu dari sekian banyak perempuan korban kebakaran di Masomba, Palu, Sulawesi Tengah. Ia benar-benar terpukul dan sedih. Beban pikirannya berat. Dia mengaku terpukul dengan tragedi kebakaran yang meludeskan sekitar 800 kios dan lapak di pasar itu pada Jumat (16/10).

Baru 36 hari suaminya, Baharuddin, dikebumikan, kebakaran hebat pun melanda, sehingga Salmia juga kehilangan harta benda.

“Suami saya meninggal sembilan hari sebelum lebaran Idul Fitri. Baru 36 hari dikubur, jualan saya terbakar lagi,” kata Salmia.

Perempuan asal Sidrap, Sulawesi Selatan itu mengadu nasib di Palu sejak tahun 2000 bersama suaminya, Baharuddin. Dia meninggalkan Sidrap dengan harapan bisa lebih baik dan layak menjadi pedagang di Palu. Pekerjaan bertani ia tinggalkan lalu mengadu nasib di “kota Kaledo” Palu.

Selama hampir 10 tahun di Palu, Salmia sudah tiga kali dilanda musibah kebakaran. Baru beberapa bulan di Palu, dagangannya terbakar pada akhir 2000.

Tetapi ia tidak putus asa. Bisnisnya kembali dibangun hingga akhirnya mulai membaik. Namun naas lagi pada akhir 2008, setelah kebakaran yang menghanguskan sejumlah kios termasuk miliknya.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, suaminya, Baharuddin, akhirnya jatuh sakit. Baharuddin menghembuskan nafas terakhirnya sembilan hari sebelum hari raya Idul Fitri 1430 Hijriah. Ia meninggal di sebuah rumah kontrakan di kompleks pasar Masomba. Jazadnya dikebumikan di kampung halamannya, Sidrap.

Musibah kembali lagi mendera perempuan setengah baya itu dalam peristiwa kebakaran 16 Oktober lalu. Seluruh isi kios yang terdiri dari dagangan bahan sembako dan seluruh isi rumah kontrakannya ludes.

“Hanya pakaian di badan saja yang tinggal,” katanya.

Salmia kini dirundung kebingungan. Modal usaha habis, tempat tinggal pun tak punya.

Selama ini Salmia hanya menyewa kios untuk ruang dagangan bahan sembako. Kios ukuran 3 meter x 4 meter itu disewanya seharga Rp3 juta per bulan. Untuk tempat tinggal, Salmia bersama suaminya (dulu) juga menyewa kios di kompleks pasar itu dengan ukuran kurang lebih sama dengan kios dagangannya.

“Untuk listrik dan air kami bayar per bulan,” katanya.

Di kompleks pasar Masomba yang padat itulah Salmia hari-harinya berjibaku dengan dagangan. Ia bekerja keras mengumpulkan rupiah demi rupiah setiap hari. Tapi semuanya ludes akibat kebakaran.

Helmiyanti (13), putri keduanya, kini berhenti sekolah. Ia hanya duduk hingga kelas I SMP. Dirinya berhenti sekolah karena alasan ibunya tidak mampu lagi membiayai pendidikan. Helmiyanti kini memilih membantu orangtuanya mencari nafkah. Berjibaku di tengah riuh rendahnya pasar Masomba.

“Hanya saya sendiri di sini yang tidak sekolah. Saya tidak tahu di tempat lain mungkin ada juga,” kata Helmiyanti.

Dari tiga anak pasangan Salmia dan Baharuddin, hanya anak bungsunya yang kini duduk di kelas VI Sekolah Dasar masih tetap melanjutkan pendidikan. Hanya saja dalam kondisi yang masih diselimuti duka akibat kebakaran dan sepeninggal bapaknya, putra bungsu Salmia itu kini kurang bersemangat.

Saat ini keluarga Salmia ditampung keponakannya, Hj Rusna. Rusna pada peristiwa kebakaran belum lama ini sebagian isi kiosnya juga tidak sempat diselamatkan. Dagangan beras miliknya juga rusak akibat siraman air pemadam kebakaran.

“Ada empat kepala keluarga yang saya tampung di rumah. Mereka keluarga saya. Semua korban kebakaran,” kata Rusna.

Sosok Rusna adalah perempuan yang gigih dalam berdagang. Sudah belasan tahun ia merintis dagangannya. Cobaan yang ia hadapi juga silih berganti, salah satunya ancaman kebakaran.

Berharap Bantuan Modal
Meski harta benda dan seluruh modal usahanya ludes, Salmia mengaku tetap bertahan di Palu, kendatipun harus mulai dari nol lagi. Ia memilih tidak kembali ke kampungnya di Sidrap, sebab walaupun kembali tidak ada lagi tulang punggung untuk mencari nafkah. Apalagi di Sidrap dia hanya bekerja sebagai tani.

“Saya tetap bertahan di Palu. Walaupun saya kembali, suami saya juga sudah tidak ada,” katanya.

Untuk membangun kembali usahanya, kini ia dibantu modal kurang lebih Rp2 juta oleh keluarganya. Ia berharap ada perhatian pemerintah untuk membantu modal usahanya, kendatipun modal tersebut akan diganti dengan cara dicicil.

Salmia mengatakan dirinya tetap bertahan di Pasar Masomba karena pembeli di pasar tersebut terbilang potensial. Pasar yang sebagian lahannya telah dibangunkan mall tersebut merupakan pasar induk tradisional yang terletak di dalam kota.

Salmia mengatakan, dirinya menolak untuk pindah ke pasar tradisional Petobo (salah satu pasar pengembangan di pinggir kota). Alasannya, meskipun pindah dan pemerintah menggratiskan satu tahun dari biaya, dia tidak bisa menempati los di pasar Petobo tersebut  akibat modal yang sangat minim.

“Biarpun pemerintah menggratiskan satu tahun, tapi saya tidak ada modal. Saya mau jualan apa di sana (Petobo,red).

Kebakaran pasar Masomba ketiga kalinya kurun 10 tahun terakhir menyisakan luka mendalam bagi sebagian besar pedagang setempat. Saat ini para pedagang sudah mulai membangun kembali kios dan lapak mereka meski hanya darurat.

Sebagian kios juga dibangun permanen terutama kios yang kondisi dindingnya masih dapat difungsikan. Menurut pedagang, upaya ‘recovery’ tersebut dilakukan agar bisnis di pasar tradisional dalam kota itu tetap bergairah.

Kebakaran yang terjadi Jumat (16/10) itu sedikitnya menghanguskan 800 kios dan lapak pedagang, serta tiga mobil hangus terbakar. Kerugian diperkirakan mencapai lebih Rp3 miliar. Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran itu.

Salah satu dari kios yang terbakar itu adalah tempat Salmia berjualan. (sumber:antara)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s