Pemilukada, Politik Pencitraan dan Politik Lupa

Oleh : Adha Nadjemuddin (*)

Sebentar lagi Pemilu kepala daerah (Pemilukada) akan digelar di lima kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah, yakni ; Kota Palu, Kabupaten Sigi, Tojo Unauna, Poso dan Kabupaten Tolitoli. Untuk efisiensi penyelenggaraannya, Komisi Pemilihan Umum Sulteng berencana akan menggelar Pemilukada secara serentak Juni 2010 di lima kabupaten/kota tersebut.

Meski waktu pelaksanaanya masih enam bulan lagi, tetapi geliat orang-orang yang ingin menjadi bupati dan walikota sudah mulai memengaruhi opini publik dengan membangun citra di basis-basis pendukung. Suhu politik yang sangat sudah mulai terasa panas terjadi di Tolitoli. Bukan berarti di kabupaten dan kota lainnya suhu politiknya adem. Kondisi yang adem justru sulit ditebak karena konflik politiknya tidak muncul ke permukaan. Tentu saja kita berharap, tidak ada Pemilukada yang berakhir dengan konflik. Kita mendambakan Pemilukada yang dewasa, agar kelak tumbuh dinamika demokrasi yang sehat dan rasional.

Perang baliho sudah dilakukan. Upaya mencari simpati oleh pendukung kandidat juga sudah menyeruak melalui jejaring sosial (facebook) maupun di warung-warung kopi, bahkan di acara pesta pernikahan. Kondisi itu seakan-akan Pemilukada sudah digelar besok.

Tidak ada yang salah, karena begitulah budaya politik kita saat ini dalam merebut kekuasaan. Kita masih menganut politik pencitraan (The political of image)  dan ini sudah menjadi tren politik masa kini. Apapun bisa dilakukan termasuk membersihkan diri dari kelam masa lalu. Kelakuan dipoles, didesain sedemikian rupa agar kelihatan memikat, bersih, punya nilai jual sehingga pantas untuk dipilih. Itulah politik pencitraan.

Gaya politik pencitraan tak ubahnya seperti pemain sulap. Permainan sulap membuat orang menjadi kagum dan berdecak. Banyak yang kagum dengan David Copperfield, karena ia tersohor menyulap. Hanya dengan “sim salabin” mata penonton melotot berdecak. David berhasil meraih kepercayaan penonton karena ahli sulapnya.

Hasrat merebut kekuasaan dapat mengaburkan mata, sehingga bisa melakukan apa saja. Menyulap diri menjadi bernilai tinggi. Hasrat itu, mengalahkan hasrat politik pembangunan yang bertujuan memperbaiki daerah dari keterpurukan. Menjelang Pemilukada, tenaga diforsir agar bisa menang. Bila perlu menggadaikan apa yang dipunyai. Tapi aneh, perlakuan kita untuk memenangkan pertarungan merebut kekuasaan, memudar ketika daerah ditimpa krisis. Perlakuan kita dalam mengurus daerah tidak sekuat tenaga seperti saat kita bertarung merebut kekuasaan dulu.

Ketika pertarungan belum selesai, sekejap pun tidak ada kandidat beserta barisan tim suksesnya yang ingin lengah. Barisan dirapatkan semaksimal mungkin agar tidak masuk angin. Jika modal habis, apapun dilakukan. Lobi sana, melobi sini agar bisa dapat donatur dan dana segar untuk kampanye. Bahkan tidak jarang yang menggadai harta benda. Habis kalau mau habis. Sudah terlanjur, pertarungan harus dilanjutkan.

Ongkos politik pencitraan tidaklah sedikit, sehingga tidak sedikit pula opotunisme politik lahir bersamaan dengan musim Pemilukada. Musim Pemilukada juga musim penggelontoran uang. Sejauh ini belum ada data berapa banyak uang digelontorkan oleh kandidat bupati/walikota dan gubernur di Sulawesi Tengah setiap Pemilukada. Kita perkirakan saja paling rendah Rp 1 miliar, bahkan mungkin sampai Rp 5 miliar.

Itulah biaya politik pencitraan, yang ingin mendapatkan dukungan dan menggalang simpati pemilih untuk meningkatkan popularitas, meyakinkan pemilih yang masih bingung, meraih dukungan, menjelaskan visi dan misi, dan menjaga citra sang calon.

Sensitifitas setiap calon juga meninggi. Jika ada masalah sedikit, tokoh yang dianggap berpengaruh diundang. Ulama dan kiyai didatangi, minta restu dan dukungan. Orang-orang yang lincah dan dianggap mahir bekerja politik dijemput tengah malam dengan mobil mewah. Diskusi hingga larut malam menghabiskan bergelas-gelas kopi dengan harapan segera ada solusi untuk meraih kemenangan.

Tetapi kegaduhan seperti itu tidak lagi dilakukan ketika kekuasaan sudah direngkuh. Tidak ada tim sukses yang gaduh jika listrik padam. Tidak ada lagi yang mau mengundang tokoh untuk berdiskusi ketika kakao petani tidak berproduksi bagus. Tidak ada lagi kegelisahan segelisah dulu jika jalan pertanian rusak. Tidak ada lagi yang mau datang ke ulama dan kiyai untuk minta restu atau nasihat agar tidak korupsi dan menyalahgunakan jabatan dan wewenangnya. Tidak ada lagi yang mau bersusa-susa turun ke pasar-pasar tradisional berdiskusi dengan pedagang tentang masalah yang mereka hadapi. Semuanya seakan-akan tuntas jika diputuskan di belakang meja.

Dia lupa politik pencitraan yang pernah dia bangun. Politik pencitraan itu berubah menjadi politik lupa. Radhar Panca Dahana, seorang Sastrawan dalam opininya mensinyalir inilah yang disebut dengan kekuasaan yang lupa. Lupa untuk apa dan demi siapa ia berkuasa.

Politik lupa sangat kontra dengan politik ingat. Menjelang hajatan pesta demokrasi seperti Pemilukada, politik ingatan tertabur begitu kuat hingga menukik ke ruang-ruang publik. setiap hari publik selalu diingatkan tentang hajatan demokrasi. Segala macam media disesaki dengan pesan-pesan ingatan. Baliho, spanduk, selebaran, internet, baju, media cetak dan elektronik ditumpuki pesan-pesan politik ingatan, agar orang ingat wajah, nomor urut, bahkan cara mencoblosnya. Belum cukup dengan itu, kerumanan orang diciptakan. Mereka diangkut dari berbagai pelosok desa untuk menonton dan mendengarkan pesan-pesan politik. Semakin banyak orang berkumpul dianggap semakin kuat legitimasi politiknya sebagai kandidat bupati atau walikota. Politik akhirnya hanya dipahami sebatas ruang, tanah lapang atau gedung.

Merawat Kepercayaan

Begitu kuatkah magnet kekuasaan, sehingga dengan mudah kandidat melupakan kerja-kerja politiknya dalam meraih simpati masyarakat? Padahal kekuasaan adalah amanah (kepercayaan) yang dititip sementara kepada manusia sebagai pemilik akal sehat. Kekuasaan tidak abadi seperti halnya ketidakabadian hidup manusia. Tetapi kenapa  kekuasaan tidak lagi dipandang sebagai sebuah kepercayaan, malah dianggap sebagai kekayaan, sebagai harta yang harus dibela mati-matian.

Amanah secara terminologi adalah sesuatu yang dipercayakan (dititipkan) kepada orang lain. Namanya titipan, dia harus dijaga, dirawat, agar tidak rusak akibat kelalaian penerima amanah. Kata amanah masih sebatas konsep yang indah diucapkan, lentur dalam pengucapannya, tapi sulit menjaganya.

Dalam perspektif Islam, kekuasaan itu sesungguhnya hanya milik sang pencipta.Untuk mengatur bumi ini, kekuasaan itu diamanahkan kepada manusia, sebab langit, bumi dan gunung-gunung pernah ditawarkan untuk memegang amanah itu tapi ditolaknya karena demikian beratnya. Lalu manusialah yang menerima tawaran itu. Karena itulah manusia disebut sebagai khalifah, wakil Allah di muka bumi.

Dalam perspektif itu, jelas manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang diberikan. Tidak ada jalan lain yang harus ditempuh kecuali mengawal kepercayaan itu agar bisa dipertanggungjawabkan kelak.

Bagaimana menjaga kepercayaan itu? Disinilah pentingnya peran nilai-nilai religius dalam memimpin bangsa dan daerah ini. Pemimpin harus dikawal dengan nilai-nilai religius. Pemimpin harusnya lebih mengedepankan nilai religiusitas dengan tetap memegang teguh janji-janji politik pencitraannya saat kampanye lalu. Bukan justru mengedepankan ambisi politiknya dengan menghalalkan segala cara. Pemimpin harus selalu menghadirkan Tuhan dalam setiap langkah dan keputusan-keputusannya.

*Penulis adalah wartawan Kantor Berita Indonesia, ANTARA. Tulisan ini pernah dipublikasi di Harian Media Alkhairaat, Rabu 13 Januari 2010.

One thought on “Pemilukada, Politik Pencitraan dan Politik Lupa

  1. jauhari.b.t 19 Januari 2010 / 11:07 am

    lupa…..lupa….kalau sudah jadi.lupa….lupa akan janji kalau sudah duduk enak.korupsi mulai jaqlan,alasannya pasti lupa. moga,ingat…. ingat kalau sudah makai hasil korup.moga yg korup….cepatlah mampus, mampus…. sampai anak dan keluargannya.doa masyarakat kecil,pasti terkabulkan.semoga tolis di pimpin orang yg ngerti orang kecil.amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s