Menyelami Manuver NU Sulteng

Oleh : Adha Nadjemuddin

Beberapa hari wafatnya KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur, aktivis muda Nahdlatul Ulama (NU) di Palu, mulai sibuk. Ragam kegiatan pun digagas. Mulai dari tahlilan hingga menjurus bedah pemikiran Gus Dur.

Cendekiawan muda NU, Lukman S Thahir, saat ini menjabat Rektor Universitas Alkahiraat Palu, tampil gagah dan cerdas dalam bedah pemikiran Gus Dur di Pogombo, Kamis kemarin. Pikiran Gus Dur dari berbagai sudut pandang dieksplorasinya. Panitia juga mengundang tokoh Kristen Protestan, Pdt Rinaldy Damanik. Dari Jakarta, hadir pula Luluk Nurhamida, tokoh perempuan NU yang masih familih dengan Gus Dur.

Ketiga tokoh itu sama-sama pernah bertemu bahkan dekat dan menyelami sepak terjang Gus Dur dalam beberapa tahun. Lukman S Thahir misalnya, selama enam tahun, ia bersama dengan Gus Dur. Sejak pertemanan itu, Lukman tidak pernah disuruh membaca tafsir oleh Gus Dur. Malah sebaliknya, diminta membaca buku-buku Khalil Gibran dan karya novelis Sidney Sheldon, seperti Malaikat Keadilan. Belakangan karya-karya itu ternyata ikut memberi pengaruh dalam karakter berpikir Lukman S Thahir.

Belakangan ini, NU menggagas lagi dialog nasional kebangsaan dalam upaya mengokohkan tradisi demokrasi yang bermartabat. Tidak tanggung-tanggung, kegiatan ini akan dihadiri oleh sejumlah pengurus wilayah dari kawasan Timur Indonesia dan dedengkot NU seperti Hasyim Muzadi, Said Aqil Siraj, Ahmad Bagdja, Solahuddin Wahid, Masdar Farid Mas’udi, Slamet Efendi Yusuf dan Andi Djamaro. Bahkan jika Gus Dur belum wafat, NU juga akan mendatangkan tokoh bangsa itu.

Kegiatan yang akan berlangsung tanggal 12-14 Februari tersebut adalah bagian dari pra Muhtamar NU ke-32 di Makassar Maret mendatang. Momentum warga NU ini sekaligus upaya untuk merumuskan pikiran-pikiran cerdas sebagai solusi atas berbagai problem keagamaan dan kebangsaan yang dihadapi saat ini.

Di tempat lain, ada juga aktivis muda NU yang sibuk melakukan lobi politik agar tokoh-tokoh muda NU seperti Iskandar Nasir, Syamsuddin Pay, Tahmidi Lasahido dan Ridwan Yalidjama bisa lolos menjadi kandidat bupati di Tolitoli, Tojo Unauna dan Sigi.

Perempuan NU yang tergabung dalam Muslimat NU, juga sibuk dengan kegiatan keperempuanan. Karena kegiatan itu, mereka lambat mengikuti bedah pemikiran Gus Dur.

Rabu (10/1) malam, di sebuah rumah makan mewah, Gerakan Pemuda Ansor Sulteng, salah satu badan otonom NU yang disegani melakukan konsolidasi guna membahas berbagai program penting di Sulteng lima tahun mendatang. Ketua Ansor, Syaifullah Yusuf dijadwalkan datang ke Palu. Selain melantik pengurus Ansor terpilih, Wakil Gubernur Jatim itu juga dijadwalkan bertemu dengan Gubernur Sulteng guna membicarakan hubungan kemitraan pembangunan daerah. Ansor Sulteng bahkan sudah mendapat jaringan bisnis multimedia dari Jawa. Tinggal menunggu waktu, program itu akan diluncurkan.

Praktis hampir tiga bulan terakhir, NU di Sulteng terus bergerak diawali dari momentum Konferensi Wilayah NU yang memutuskan Husen Habibu dan Muhsen Al Idrus sebagai ketua dewan syuro dan tanfidz NU Sulteng periode 2010-2015.

Gegap gempita aktivis NU ini tidak bisa dipandang remeh, karena bisa jadi hasilnya dahsyat bagi sebuah perubahan di Sulawesi Tengah lima atau bahkan 20 tahun mendatang.

Pertanyaannya sekarang, kenapa belakangan ini geliat NU di Sulteng cukup membanggakan. Bukankah NU sejak tahun 1960-an sudah ada di Sulteng? Bukankah NU sudah mengakar? Bukankah sebagian besar yang memegang jabatan strategis di pemerintahan dan partai politik adalah mereka dari NU? Pengusaha NU? Lalu apalagi?

Tidak ada yang salah. Justru menjadi kesalahan besar bagi kalangan NU jika tidak melakukan reposisi peran dalam membangun daerah dan bangsa ini. Reposisi peran dalam pikiran saya adalah menjandikan NU sebagai organisasi keagamaan terdepan yang kokoh, berpengaruh dalam pergulatan pemikiran, demokrasi dan aksi.

Sudah cukup NU termarginalisasi 32 tahun. Pikiran-pikiran para kiyai NU tidak terserap ke masyarakat karena terkekang dalam pengawasan kekuasaan. Sudah cukup pula NU membesarkan partai politik yang belum tentu memperhatikan kebesaran NU. Sudah saatnya NU menoleh partai yang dilahirkan dari rahimnya sendiri. Sudah waktunya NU merawat kekuatan politiknya untuk kepentingan yang lebih besar. Di seluruh jajaran NU sudah harus mereposisi perannya termasuk dalam politik ala NU.

NU sudah harus sadar, mungkin banyak orang yang dibesarkan, namun lupa membesarkan NU. Mereka lupa komunitasnya. Padahal komunitas besar ini masih “terbelakang”. Masih banyak sekolah-sekolah NU butuh sentuhan dan menunggu kebijakan baru pemerintah yang memihak kepada sekolah berbasis agama.

Demikian halnya dalam konteks berpikir. NU sebaiknya dan harusnya tidak saja menjadikan Gus Dur sebagai icon demokrasi, pluralisme, pembaharu, egaliter dan sebagainya dalam tataran ide, tetapi mewujudkan pikiran-pikiran Gus Dur dalam realitas kehidupan berbangsa dan berdaerah. Pikiran Gus Dur sudah harus dibumikan.

Contoh sederhana, ketika Gus Dur dalam panggung politik orde baru termasuk organisasi yang dipimpinnya, NU, dimarginalisasi. Tetapi Gus Dur tetap memperlihatkan hubungan kemanusiaan yang baik diantara pelaku politik orde baru. Gus Dur malah menemui mantan Presiden Soeharto. Sama-sama mantan presiden memberikan contoh politik yang bermartabat bagi bangsa ini. Adakah kesediaan seperti Gus Dur itu di daerah kita?

Inilah yang dalam pikiran saya, sedang digagas oleh NU saat ini. Aktivis Nu sedang berusaha mencari jalan baru guna menguatkan tradisi intelektual dan tradisi demokrasi yang bermartabat.***

(Tulisan ini pernah dipublikasi di media Alkhairaat Palu tanggal 12/2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s