KNPI Warung Kopi

Tokoh muda yang pernah berkecimpung di KOmite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) pasti tidak setuju kalau KNPI dibilang sama saja seperti warung kopi. Komunitas warung kopi pasti kenal betul bagaimana suasana di warung kopi itu. Banyak isu yang menggelinding liar di sana. Isu soal KNPI dalam dua bulan terakhir juga menggelinding hebat di sana. Dulu saya menyebut karakteristik di warung kopi dengan Liberalisme Warung Kopi. Soal yang satu ini tidak perlu kita perdebatkan lagi.

Bagi mereka yang tidak setuju dengan sebutan “KNPI Warung Kopi”, itu Wajar, karena mungkin mereka telah dibesarkan oleh organisasi yang katanya laboratorium kader generasi muda itu. Tapi bagi saya, itu tidak penting. Mau dibilang seperti warung kopi ataupun tidak, toh KNPI sangat tergantung kepada siapa yang menahkodai, apa yang ia lakukan, dan untuk apa ia melakukan itu. Ini juga berlaku bagi KNPI di daerah paling timur atau barat Indonesia sekalipun.

Di Sulawesi Tengah, dua bulan terakhir nama KNPI ikut-ikutan terseret dalam kasus dugaan dana hibah rehab gedung KNPI Sulteng sebesar Rp900 juta. Dan kasus ini terus menggelinding liar di warung-warung kopi kota Palu. Bukan KNPI-nya yang jadi masalah sebetulnya, tapi orang-orang yang diduga berada di balik pencairan dana hibah itu. Siapa saja mereka? Adakah keterlibatan pejabat? Itu tidak penting, biarlah aparat penegak hukum yang mengurusnya. Saya percaya ko’ kasus ini bisa tuntas. Kecuali bagi Anda yang tidak punya keyakinan kasus ini tidak tuntas di tangan aparat penegak hukum, itu urusan lain lagi he he he.

Yang penting bagi bagi saya, bagaimana para aktivis KNPI dan pemuda bisa menyelamatkan nama KNPI. Ini penting, sebab KNPI dan pengurusnya bagai sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Kalau gara-gara kasus ini KNPI ikut rusak, kiamatlah KNPI. Kredibilitasnya yang selama ini disebut sebagai laboratorium kader bisa runtuh.

Tapi saya masih yakin, orang-orang tidak semudah itu mengkambinghitamkan KNPI sepanjang dugaan kasus dana hibah itu terang benderang, seperti kata Susilo Bambang Yudhoyono, kasus bank century harus dibuka agar terang benderang. Bukan berarti KNPI Sulteng, juga seperti centurygate. Kalaupun ada yang beranggapan seperti itu, ada juga benarnya. Kenapa? yah, karena dana hibah itu dikucurkan setelah proyeknya selesai dikerjakan. Ini untuk menyelamatkan dana pengusaha yang telah mengerjakan rehabilitasi gedung KNPI. Kira-kira begitu pendekatannya.

Kita sebaiknya mengambil sisi manfaat dari kasus ini. Pertama, pemerintah daerah harus selektif dan menguji benar asas kepantasan penerima dana hibah. Mungkin menurut pemerintah, KNPI memang pantas dapat dana hibah, tapi teliti prosedur pengucuran dan besaran dana yang dibutuhkan. Apakah KNPI itu sudah pantas dibantu agar tidak berdampak sistemik terhadap urusan kepemudaan atau tidak (he he seperti kasus century saja). Jika tidak, kan tidak ada salahnya dana itu dihibahkan ke masyarakat desa yang mungkin butuh sarana air bersih, alat-alat pertanian, atau untuk UMKM yang nasibnya kini sedang merana lantaran modal usaha mulai tergerus akibat persaingan usaha. Ini pasti lebih bermanfaat.

Kedua, jangan berani melakukan pengerjaan proyek pembangunan sebelum jelas sumber dananya. Sebab ini bisa menjadi polemik dikemudian hari. Kecuali itu dalam kondisi darurat seperti bencana alam. Jika dalam kondisi seperti itu wajar dilakukan tindakan emergency, bila perlu berkorban untuk keselamatan semua.

Ketiga, organisasi kepemudaan atau ormas tidak usah urus proyek, apalagi kalau dananya bersumber dari APBD/APBN atau dana hibah. Biarlah pemerintah yang menunjuk perusahaan yang kredibel mengerjakan itu. Pemuda fokus saja membangun sumber daya manusia generasi muda. SDM kita saat ini kan masih sangat ketinggalan sekali.

Keempat, bangunlah komitmen untuk saling mengingatkan atau kritik otokritik. Jika ada kawan pemuda yang dinilai keliru, kita ingatkan dia agar tidak melakukan perbuatan tercela. Hanya saja agak susah karena biasa ada orang yang tidak suka diingatkan apalagi dikritik. Malah kalau diingatkan kita dianggap musuhnya. Ini susah punya.

Kelima, bangkitkan kesadaran ber-KNPI. Ini manfaat utama dari kasus KNPI-gate Sulteng. Harus ada kesadaran ber-KNPI, termasuk saya. Dalam beberapa tahun terakhir saya mengamati semangat kita untuk ber-KNPI sudah memudar. Entah mungkin karena dianggap KNPI sudah macan ompong, tidak menjanjikan lagi sebagai batu loncatan menjadi pejabat, sehingga semangat ber-KNPi itu kian memudar.

Dulu waktu saya menjadi ketua Ikatan Putra Nahdlatul Ulama (IPNU), saya tidak merestui kader IPNU masuk di KNPI. Bukan berarti saya tidak mencintai KNPI, tapi saya ingin IPNU bermain di luar lingaran agar menjadi organisasi kritis terhadap KNPI. Posisi ini saya pilih sebagai penyeimbang kekuatan agar KNPI tidak terbuai dengan dukungan OKP semata. Tapi malah saya dianggap tidak pro KNPI. Ini juga susah punya, karena kita belum terbiasa melangkah bersama dalam perbedaan. Kenapa kita tidak berusaha seperti komunitas warung kopi, selalu berbeda pendapat, namun tetap satu tujuan minum kopi sama-sama di tempat yang sama. KNPI baiknya berkaca dari Liberalisme Warung Kopi itu.

Adha Nadjemuddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s