Cudi Tambah “Gila”

Oleh : Adha Nadjemuddin

Wali Kota Palu, Rusdi Mastura alias Cudi, makin “gila”. Ya, makin gila dengan ide-idenya dalam mendobrak Kota Palu agar segera keluar dari berbagai problem yang hingga kini belum tuntas. Dia menyadari selama hampir lima tahun memimpin Kota Palu, ternyata masih banyak hal yang belum disukseskannya. Apa saja itu? Huts, nanti saja kita bicarakan pada paragraf-paragraf berikutnya.

Minggu malam, pada penutupan Palu Expo di Taman Ria Palu, Cudi memberikan sambutan sekaligus menutup Palu Expo sepekan itu. Hadir Ketua DPRD Kota Palu, Sidik Ponulele, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Sulteng, Hardy Yambas, dan sejumlah kepala dinas. Hadir pula Ketua DPD KNPI Kota Palu, Abubakar Hadado, selaku penanggungjawab penyelenggara Palu Expo. Kawan saya, Ruslan Sangdji alias Ocan–pemegang kendali media center wakil walikota Palu, Mulhanan Tombolotutu, juga ada di sana. Peran kawan saya itu belakangan ini cukup memberi andil dalam menggerakan organisasi Mulhanan Center. Wajar kalau dia juga ikut diundang. Kehadirannya mungkin mewakili Mulhanan Center, sebab saya juga tidak menanyainya. Ah, sudalah. Kita abaikan dulu tamu-tamu itu. Kita fokus ke Cudi.

Beberapa pikiran Cudi sebetulnya kerap ia kemukakan di tempat-tempat dialog, organisasi kepemudaan, di DPRD, kepada wartawan ataupun di tengah-tengah kerumunan orang. Sebut saja pemanfaatan sumberdaya alam seperti sub sektor perikanan dan kelautan. Cudi berpikir, jika saja sepanjang pesisir laut Sulteng dimanfaatkan untuk budidaya rumput laut, maka Sulteng akan jadi central rumput laut terbesar, mengalahkan Maluku atau Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sederhana sebetulnya pikiran mantan ketua DPD Golkar Kota Palu itu. Hanya saja belum ada aksi lapangan dan keberanian yang dilakukan pemerintah untuk mengalokasikan APBD dalam jumlah besar untuk menghidupkan sektor ini, sehingga hanya habis pada tingkat wacana saja. Padahal kalau 10 pemerintah kabupaten/kota masing-masing mengalokasikan dana Rp5 miliar untuk rumput laut, maka ada Rp50 miliar modal untuk menggerakkan sektor ini.

Tahun 2008 lalu, saya pernah jadi konsultan daerah tertinggal dalam program Percepatan Pembangunan Sosial Daerah Tertinggal (P2SEDT) dari Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT). Salah satu yang saya dorong bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Tolitoli waktu itu adalah budidaya rumput. Pulau Lingayan, sebuah pulau terluar di Tolitoli, kami jadikan pilot project. Saya mengusulkan hampir Rp1 miliar untuk proyek itu. KPDT setuju, tapi dananya hanya sekitar Rp800 juta, jauh lebih murah dibanding mobil dinas menteri atau mobil dinas kepala daerah.

Dana itu sudah termasuk bibit 75 ton, sampan plus katinting, panggung penjemuran, tali, dan segala tetek bengeknya. Semuanya ditumpahkan ke lima anggota kelompok tani. Satu kelompok 15 kepala keluarga. Jika dibagi rata, masing-masing kelompok dapat 15 ton bibit. Luas areal yang digunakan mungkin hanya 0,0 sekian persen dari 106 ribu hektare luas potensi budidaya rumput laut Sulteng.

Estimasi saya, jika 15 ton bibit itu benar diterima–tanpa rekayasa pengusaha, maka kurang dari dua bulan bibit itu berkembang menjadi dua kali lipat. Jika dikonversi ke rumput laut kering hasilnya 4.286 kilogram. Jika dijual Rp10 ribu perkilogram, maka satu kelompok mendapat Rp42,8 juta x 5 kelompok = Rp214,3 juta/dua bulan. Jika total anggota kelompok 75 kepala kelurga, praktis satu kepala keluarga dapat Rp 2,8 juta. Sebuah nominal rupiah yang tidak sedikit bagi pegawai rendahan seperti saya.

Kalau Sulteng mampu memproduksi setiap dua bulan 10 ribu ton rumput laut kering, maka uang yang beredar dari rumput laut ini sebanyak Rp100 miliar/dua bulan, atau sama dengan Rp600 miliar/tahun.

Sekadar referensi, produksi rumput laut Sulteng 2009 telah mencapai 42 ribu ton atau sama dengan 3.500 ton/bulan. Jika dirupiahkan dengan harga Rp10 ribu/kilogram, maka uang beredar dari sektor ini selama tahun 2009 mencapai Rp420 miliar. Jumlah tersebut baru empat persen pemanfaatan potensi budidaya yang tersedia. Jika pemanfaatan potensi tersebut dimaksimalkan hingga 50 persen dari potensi lahan maka prediksi saya pendapatan dari sektor ini mencapai Rp19,3 triliun/tahun.

Anda masih kurang yakin? Coba buktikan bersama orang “gila” seperti Cudi. Saya yakin hanya mereka yang “gila” berani melakukan itu di masa mendatang untuk kepentingan rakyat Sulteng. Cudi, bagi saya mestinya bukan lagi mengurus Kota Palu. Tapi sudah harus mengurus Sulteng. Cudi harus mampu mengantar Sulteng ke depan pintu gerbang kemerdekaan ekonomi, he..he..he seperti teks undang-undang dasar saja.

Itu baru di sektor hulu. Belum lagi jika industri hilirnya dikembangkan, seperti tepung rumput laut. Sayangnya saya belum melakukan ini. Saya bersama nelayan di Pulau Lingayan, sementara menyiapkan konsep pengembangan usaha lanjutan dari rumput laut itu. Doakan saja agar bibit rumput laut mereka berkembang dan pengusaha yang mengerjakan proyek itu jujur dalam distribusi bibitnya. Tapi, di Luwuk Banggai sudah ada pabrik yang beroperasi di sana. Investasinya dari swasta. Saya belum tahu perkembangan terakhirnya.

Menurut Cudi, ada empat korps yang memiliki kompetensi daerah yang perlu segera dikembangkan di Sulteng, yakni rumput laut, rotan, kakao dan kelapa. Sulteng kaya dengan potensi ini. Rotan misalnya, Sulteng masih memegang peranan sekitar 60 persen dari total kebutuhan rotan nasional. Kakao juga begitu. Sulteng diurutan kedua setelah Sulawesi Selatan. Kalau program Gerakan Nasional Kakao berhasil, mungkin Sulteng bisa memimpin produksi kakao di Indonesia. Tapi, kelihatannya agak susah, karena produksi biji kakao kering di Sulteng tahun 2009 sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya. Tahun 2008 produksi mencapai 120 ribu ton, sementara tahun 2009 kurang lebih 105 ribu ton.

Jika dirupiahkan dengan estimasi Rp20 ribu/kilogram, berarti uang yang beredar dari kakao tersebut selama tahun 2009 sebanyak Rp2,1 triliun.

Sekadar referensi, produksi kakao tersebut diperoleh dari lahan seluas 221 ribu hektare. Luas lahan itu hanya sekitar 160 ribu yang menghasilkan. Berati masih ada 61 ribu hektare yang belum beproduksi, sebagian karena sudah tua dan rusak.

Tapi bagi Cudi, itu bisa ditingkatkan sepanjang ada kemauan dan kesadaran semua pemangku kepentingan untuk mendorong perbaikan mutu kakao di Sulteng. Soal kakao ini, Cudi malah berpikir perlu gerakan besar dalam investasi perkebunan kakao. Kota Palu saja yang tidak punya kakao, toh bisa dapat retribusi dari sektor perkebunan ini. Apalagi kalau daerah yang memang punya potensi.

Datangkan Guru Elektronik Cina

Mungkin baru saya dengar, tapi bagi saya ini wacana baru lagi dari Cudi. Datangkan guru perakit handphone dari Cina. Menurut Cudi, Cina itu cukup diperhitungkan dalam rekayasa teknologi terutama elektronik. Dia yakin di sana banyak guru elektronik yang bisa disewa. Mereka didatangkan dari sana mengajar di Palu. Mereka ditempatkan di sekolah jurusan elektronik. Buat satu jurusan khusus perakitan handphone. Guru-guru dari Cina itu kita gaji mengajari anak-anak Sulteng merakit handphone. Gagasan ini menurut Cudi pendidikan berbasis pasar. Kalau ini bisa diwujudkan, bukan tidak mungkin, Sulteng menjadi salah satu produsen handphone di Indonesia. Tinggal kita butuh dukungan dari provider seluler saja. Kalau setahun ada 100 anak didik yang lulus dari sekolah handphone itu, sungguh ini sumberdaya yang luar biasa.

Kalau Palu sudah berhasil membuka sekolah jurusan rotan, bukan tidak mungkin Palu juga membuka sekolah jurusan handphone. Ini peluang dalam menjawab globalisasi elektronik. Sulteng bisa bersaing dengan pusat-pusat industri di Jawa.

Begitu kira-kira yang saya tangkap dari beberapa gagasan Wali Kota Palu Rusdy Mastura dalam mendobrak ketertinggalan Sulteng dari daerah-daerah lainnya yang sudah maju. Bagaimana ide Cudi yang lain? Ohh nanti saja kita bicarakan, sebab saya takut, bukan Cudi saja dianggap “gila” tapi saya yang menulis juga nanti dianggap ikut gila. Gila benaaar.***

One thought on “Cudi Tambah “Gila”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s