Seni Memimpin Sidang

Oleh Adha Nadjemuddin

Tahun 1992, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Palu–tempat saya sekolah, menggelar Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). Banyak materi disajikan panitia pengarah. Metode kepemimpinan, mengelola uang organisasi, teknik berpidato hingga praktik memimpin persidangan. Semua diajarkan. Sebagai peserta tempo itu, saya senang sekali karena pelajaran yang diberikan itu belum pernah saya dapatkan di ruang kelas.

Forum sengaja dibikin gaduh panitia hanya karena satu masalah kecil. Ada yang teriak-teriak interupsi, ada juga yang mengancam melempar kursi, bahkan ada yang dipersiapkan merebut palu sidang. Suasana jadi kacau balau. Sahabat saya yang memimpin sidang ikut-ikutan pusing. Dua sahabat saya yang lain, wakil pimpinan sidang di sisi kiri dan kanan juga ikut-ikutan bengong. Maklum mereka baru kali itu praktik memimpin sidang dalam sebuah organisasi.

Dramatisasi suasana persidangan sengaja di-setting agar pimpinan sidang yang sedang berpraktik dapat menguasai forum dan mengakomodir keinginan forum. Kemampuan adaptif dan psikologi pimpinan sidang benar-benar diuji sejauhmana ia dapat memahami suasana kebatinan dari peserta rapat.

Tidak lama kemudian, saya terpilih ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di madrasah itu. siswanya lumayan banyak. Tidak kurang dari 400 siswa. Karakternya juga beragam. Paling sulit dihadapi adalah kakak tingkat. Mungkin karena merasa senior saja, sehingga ada keakuan meski mungkin mereka belum tentu semua dapat memimpin sidang. Keegoan orang ternyata sulit juga diatasi. Apalagi kalau dirinya menganggap paling benar atas dasar keegoannya, yang lain tak pernah dianggap benar.

Kondisi itu pula yang saya dapati ketika saya menjadi ketua Senat Mahasiswa di Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin di Palu tahun 1996/1997. Kelakuan kakak tingkat paling sulit dikelola. Itu tadi masalahnya, mungkin karena keegoan dan keakuan mereka.

Ternyata benar, menjadi pemimpin itu tidak gampang termasuk memimpin sidang. Mungkin ada yang menganggap pimpin sidang itu masalah sepele, tapi sebetulnya tanggungjawabnya berat. Apalagi kalau yang dibahas perkara rumit yang bersifat politis. Lengah sedikit, kita bisa diserang lawan politik dan dihajar habis dengan berbagai argumen.

Itulah yang dialami Marzuki Ali, Ketua DPR RI saat memimpin rapat paripurna Pansus Bank Century, Selasa (2/3). Keputusannya menutup rapat paripurna saat forum dihujani instrupsi ternyata berujung ricuh. Marzuki dihujat habis-habisan. Bahkan untuk keselamatannya, ia dievakuasi dari ruang paripurna DPR.

Terlepas dari kepentingan politik paripurna, tapi ini soal seni memimpin sidang. Andai saja Marzuki Ali, sedikit komunikatif dan memahami psikologi forum, paripurna DPR tidak berakhir ricuh seperti yang ditonton oleh publik Indonesia lewat media. Malah sebaliknya, Marzuki Ali aman dari amarah anggota DPR yang tidak tersalurkan aspirasinya saat rapat paripurna itu. Aksi anggota DPR itu mengingatkan saya tahun 1992, saat forum direkayasa oleh panitia LDK guna menguji mental sang pimpinan sidang.

Itulah mungkin pentingnya siswa apalagi mahasiswa belajar berorganisasi. Organisasi tidak sekadar kumpulan orang biasa yang punya tujuan, tapi dia memberi pelajaran masa depan saat kita terjun di tengah masyarakat, termasuk mempersiapkan diri menjadi pimpinan DPR ataupun MPR. Jangan sampai ketua DPR atau MPR mempertontonkan lelucon di tengah kehormatan anggota DPR/MPR. Apalagi kalau sampai memimpin sidang MPR banyak ucapan pimpinan salah sebut. Padahal jadi pimpinan DPR itu tidak perlu sibuk siapkan konsep karena naskah sidang semuanya sudah disiapkan oleh sekreatariat dewan. Ini bukan berarti, Marzuki Ali tidak pernah belajar menjadi pimpinan sidang. Buktinya sudah beberapa tahun ia lancar-lancar saja memimpin sidang-sidang di DPR.

Rapat paripurna kasus Bank Century sedikit berbeda dengan rapat-rapat DPR lainnya. Rapat ini menyangkut kredibilitas pemerintah. Marzuki Ali sedang diperhadapkan pada dua pilihan, satu sisi sebagai pimpinan DPR yang dituntut untuk tetap berdiri di atas semua kepentingan, namun sisi lain Marzuki juga menjaga kredibilitas partainya sebagai partai penguasa. Jika Marzuki gagal mengelola jalannya paripurna dengan tidak berpihak pada partai penguasa, ini bisa mencederai perjalanan politik Partai Demokrat sebagai partai penguasa. Wajar jika performa Marzuki akhirnya terganggu.

Ah, sudalah, ini kan soal politik. Lagi pula kasus Century yang mestinya menjadi ranah hukum digeser ke area politik. Yah, begitulah jadinya. Tarik menarik kepentingan politik kian melebar. Masing-masing pihak punya argumen sendiri. Partai yang cenderung memihak ke Century menganggap tak ada masalah. Yang beda tentu menganggap Century adalah jalan untuk menggorogoti keuangan negara melalui kebijakan bailout.

Bagi saya, yang penting adalah tidak ada lagi kebijakan bailout di masa mendatang dan tidak ada lagi pimpinan rapat DPR mengambil keputusan sendiri. Bersikap otoriter tanpa mempertimbangkan kepentingan pihak lain. Dunia ke-DPR-an kita sedang diuji. Ayo! Kita belajar lagi seni memimpin sidang seperti waktu di SMA dulu.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s