Demokrasi dari Warung Kopi

”Kalau kita pergi ke Manggar, jangan lupa singgah ke pasar.
Minum kopi sambil kelakar. Mata ngantuk jadi segar.
Kopi manggar luar biasa. Tak percaya, tuanlah coba…”

Penggalan lirik ”Kopi Manggar” yang dinyanyikan Sidik itu mengalun riang dari VCD player di sebuah warung kopi. Bangunan warung itu semipermanen, mirip beranda rumah terbuka. Meja dan kursi kayu ditata berjejer sekenanya. Ilham Khoiri & Lusiana Indriasari

Puluhan warung serupa berderet memenuhi pasar Manggar, kota kecil di pusat Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Di warung, orang-orang duduk santai sambil sesekali menyeruput segelas kopi.

”Ada 60-an warung kopi di sini. Warung-warung itu jadi pusat pergaulan masyarakat,” kata Hiu Yudi Pangestu alias Ayung (46), Sekretaris Asosiasi Kopi Manggar, saat berbincang di warung pada suatu malam, pertengahan Februari lalu.

Bisa dibilang, denyut kehidupan warga Belitung Timur memusat di warung kopi. Mereka terbiasa nongkrong di warung, entah pada pagi, siang, sore, malam, bahkan dini hari. Sambil menyeruput segelas kopi seharga Rp 3.000-an, mereka bersantai, bertemu kawan, berbagi informasi, bahkan bertransaksi ekonomi.

Yang menarik, saat masuk warung, mereka semua berbaur tanpa batasan suku, agama, dan sekat-sekat lainnya.

”Di warung kopi inilah kami menyelesaikan bermacam masalah dan membangun kebersamaan,” kata Asin Medan (40), salah satu pemilik warung kopi.

Masyarakat Belitung Timur, seperti halnya kawasan lain di Kepulauan Bangka Belitung, terdiri dari berbagai suku: Melayu, China, Jawa, Batak, Bugis, Minang, Sunda, dan Suku Laut. Beragam agama tumbuh, terutama Islam, Kristen, Katolik, Konghucu, Buddha, dan Hindu. Hubungan sosial di antara mereka cukup harmonis.

Ketika terjadi kerusuhan sosial di Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia tahun 1998, banyak warga China dari Jakarta dan kota lain menyelamatkan diri ke Pulau Bangka Belitung. Kawasan itu dianggap aman dan punya tenggang rasa terhadap perbedaan. Kondisi itu bertahan hingga sekarang.

”Kami semua ingin menjaga kedamaian ini, dan itu kami pupuk lewat warung kopi,” kata Santo (30), warga Manggar.

Kualitas

Warung kopi di Manggar juga menjadi sarana menyemai demokrasi. Dalam pilkada Bupati Belitung Timur tahun 2005, misalnya, masyarakat memilih pasangan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Khairul Efendi. Padahal, Ahok adalah pengusaha keturunan China dan beragama Kristen. Sementara mayoritas masyarakatnya Melayu-Muslim.

Tak jadi soal juga bahwa pasangan itu diusung dua partai kecil, yaitu PNBK dan PIB. Padahal, selama ini kawasan itu merupakan basis kuat PBB. Maklum, Manggar merupakan kampung halaman mantan Ketua Umum DPP PBB Yusril Ihza Mahendra.

Kemenangan Ahok itu menandai sejarah demokrasi baru di Indonesia. Calon dari kelompok minoritas ternyata dipilih menjadi pemimpin oleh masyarakat mayoritas. Kenapa itu terjadi?

”Masyarakat memilih pemimpin karena kualitas sosoknya. Pemilih Ahok tak hanya kelompok China, tetapi juga Melayu Muslim,” kata Marwansyah, Ketua KPU Belitung Timur saat itu.

Hanya satu setengah tahun jadi bupati, Ahok lantas maju berkompetisi dalam Pilkada Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Februari 2007. Kalah oleh pasangan Eko Maulana Ali-Syamsuddin Basari, pasangan Ahok berada di urutan kedua dengan perolehan suara terpaut tipis dari urutan pertama. Ahok lantas terpilih menjadi anggota DPR dari Partai Golkar pada pemilu April 2009.

”Saya optimistis, pemimpin yang baik akan tetap mengena di hati rakyat, tanpa dipersoalkan apa latar belakang etnis dan agamanya,” kata Ahok.

Kehidupan demokrasi tanpa sekat di Bangka Belitung semakin kuat. Dalam beberapa pilkada selanjutnya, calon pemimpin muncul dari beragam agama dan etnis. Sebagian anggota legislatif di DPRD kabupaten/kota dan di DPR terpilih juga berasal dari kalangan berbeda-beda.

Dijaga

Masyarakat Bangka Belitung berusaha menjaga hubungan penuh tenggang rasa itu dengan berbagai cara, seperti lewat kawin campur, gerak ekonomi, dan kegiatan seni-budaya. Kawin campur terjadi sejak berabad-abad lalu dan terus berlangsung sampai sekarang. Perempuan atau laki-laki dari kelompok China, Melayu, atau etnis lain bebas berpasangan dan membina rumah tangga satu sama lain. Sejauh ini, sistem perkawinan itu baik-baik saja, bahkan melahirkan generasi yang lebih cair lagi.

Dalam bidang ekonomi, masyarakat China tak membatasi diri hanya jadi pengusaha, tetapi juga menekuni beragam pekerjaan. Di kawasan Jebus, Sungailiat, atau Kota Pangkalpinang, kita mudah menemukan mereka menjadi tukang batu, pedagang loak, petani, sopir, nelayan, atau tukang ojek.

Jika menjadi pengusaha sukses, sebagian tetap mau membantu kelompok lain. Johan Ridwan, pengusaha etnis Tionghoa, contohnya, mendirikan Bangka Botanical Garden di daerah Ketapang, Pangkalpinang. Kebun itu menyediakan bibit tanaman dan ikan secara gratis untuk petani dan nelayan.

Ekspresi seni-budaya memperlihatkan peleburan lebih kental lagi. Banyak bentuk kesenian yang mempertemukan berbagai kelompok. Barongsai, tanjidor, atau tari campak biasa dimainkan oleh siapa saja, baik seniman China, Melayu, Jawa, Bugis, maupun etnis lain.

”Kolaborasi seni itu sudah berlangsung lama sekali,” kata Yan Megawandi, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kepulauan Bangka Belitung.

Perayaan Imlek, 14 Februari lalu, bisa memperlihatkan perbauran itu. Ribuan warga menonton pentas barongsai dan liong di Kelenteng Kwan Tie Miau di Kota Pangkalpinang. Tanpa batas apa pun, masyarakat berjubel menikmati tarian naga dan singa berwarna-warni di tengah malam yang dingin itu.

Rakyat mampu membangun hubungan harmonis secara mandiri. Mereka telah menumbuhkan kedamaian di tengah keberagaman, jauh sebelum kalangan elite negeri ini mewacanakan jargon-jargon gagah seperti pluralisme, multikulturalisme, atau toleransi. Pluralisme di wilayah ini tidak jatuh pada sesuatu yang sloganistik. Ia benar-benar dihayati dan dijalankan sejak berabad-abad silam….

Simak saja pantun lama sebagaimana dituturkan Mokhtar Adjemain, Ketua Dewan Kesenian Bangka Barat, ini: Anak China bermain silat. Anak Melayu bermain gasing/ Seni budaya di Bangka Barat. China-Melayu duduk bersanding.

(sumber : kompas.com.7 Maret 2010)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s