Rela Tidur di Emperan Demi Berobat Gratis

Adha Nadjemuddin

Pria itu duduk termenung di kursi sebuah gang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Di pangkuannya ada seberkas kertas berupa surat Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Tidak jauh dari sisinya terdapat dua tas tua, sebotol air mineral, dan gulungan tikar.

Pria itu bernama Ahmad (60), dari desa Sukamakmur, Kecamatan Sukakarya, Bekasi. Dia sedang menunggui istrinya, Nami (41), yang menjalani pemeriksaan radioterapi akibat kanker rahim yang dideritanya.

Sudah sebulan Nami menjalani pengobatan intensif di rumah sakit itu, yaitu setelah dirujuk dari RSUD Bekasi pada 13 April 2009.

Sejak itu pula, suami istri ini menghabiskan sebagian besar hidupnya di seputaran RSCM dengan status pasien rawat jalan.

“Setiap hari Senin sampai Jumat, saya dan istri di rumah sakit ini. Pulang ke Bekasi nanti Jumat sore setelah selesai diperiksa,” kata Ahmad mengawali kisahnya.

Praktis, Ahmad dan Nami hanya dua hari tinggal di rumahnya di Bekasi. Setelah itu, mereka kembali ke RSCM untuk menjalani terapi selama lima hari di rumah sakit rujukan nasional itu. Selama itu pula, Ahmad dan Nami harus rela tidur di emperan rumah sakit. “Saya dan istri seperti gembel, tidur di emperan rumah sakit ini,” katanya.

Beberapa tempat yang dianggap aman sudah pernah ditempati Ahmad dan istrinya tidur atau sekadar melepaskan lelah. Salah satunya di mushala.

Beberapa malam lalu, ia tidur di tempat parkir, di sebuah sudut yang tidak kelihatan oleh satpam rumah sakit itu. “Sudah dua kali saya diusir sama Satpam. Satpamnya tidak mau tahu kita orang susah,” ujarnya.

Menurut pengakuan Ahmad, bukan hanya dia dan istri yang tidur di emperan rumah sakit. Beberapa malam belakangan, mereka menempati emperan bersama lima orang lainnya.

Sama seperti suami istri Ahmad-Nami, orang-orang itu juga keluarga pasien yang tempat tinggalnya di luar kota. Mereka tidak pulang ke rumah karena menghindari biaya transportasi.

Ahmad, yang bekerja sebagai petani, memilih tidur di rumah sakit karena tidak memiliki uang untuk ongkos pergi pulang ke Bekasi. Sekali ke Bekasi, menurut dia, menghabiskan biaya hingga Rp50 ribu untuk dua orang. Itu di luar biaya makan dan minum.

Dia bersama istrinya mengaku sedih karena di hari tua mereka tidak ada anak yang bisa membantu meringankan beban ekonomi keluarga.

Ahmad dan Nami pernah dikaruniai tiga orang putra. Namun usia ketiga anaknya itu hanya berlangsung paling lama tiga tahun.

Ahmad mengaku, selama ia menemani istrinya berobat belum pernah merasakan tidur di kamar rumah sakit. “Pernah menginap waktu masih dirawat di RSUD Bekasi, tapi hanya beberapa jam saja. Setelah itu istri saya langsung dirujuk,” kata pria tua itu.

Selama di RSCM, mereka hanya membawa pakaian ganti secukupnya dan selembar tikar. Untuk makan, mereka mencari tempat murah meriah sekadar mengganjal perut agar keesokan harinya bisa melanjutkan pengobatan dengan harapan kanker rahim yang diderita Nami bisa sembuh. “Biarlah kami tidur di emperan yang penting sembuh,” katanya.

Kesabaran dan semangat mereka untuk tetap menjalani pengobatan itu, emnurut Ahmad, karena segala pelayanan di rumah sakit itu gratis.

Selama berobat di rumah sakit pemerintah itu, Ahmad mengaku, belum mengeluarkan sepeser pun UANG untuk biaya obat maupun perawatan medis.

Padahal, untuk sekali menjalani radioterapi biayanya mencapai Rp700 ribu. Sejak dirujuk ke RSCM, Nami sudah menjalani 16 kali radioterapi.

“Kalau harus bayar, kami pasti tidak bisa berobat lagi. Di mana kami mengambil uang sebesar itu, sementara kami hanya petani,” kata pria kurus berkacamata itu.

Hanya bermodalkan kartu Jamkesmas dan surat keterangan rujukan dari RSUD Bekasi, Nami bisa berobat secara gratis.

Menurut Ahmad, dia hanya perlu memperbanyak berkas Jamkesmas tersebut beberapa rangkap. Setiap kali pemeriksaan atau meminta obat, dia cukup menyerahkan satu photocopy di setiap loket yang dilaluinya.

Yang tidak kalah meneriknya, menurut Ahmad, dokter di RSCM yang ramah melayani mereka dengan ramah. Bahkan, katanya, dokter yang menangani istrinya kerap memberikan dorongan hidup. “Itu yang membuat kami betah berobat,” katanya.

RSCM dengan status milik Departemen Kesehatan itu setiap harinya melayani sekitar 2.000 pasien. 70 persen di antara pasien itu masyarakat miskin. Dari 1.220 tempat tidur yang tersedia, sekitar 80 persen terisi untuk rawat inap.

Untuk rawat inap, manajemen RSCM menyiapkan gedung A yang diberi nama Wing Publik untuk pasien dari kalangan masyarakat miskin.

“Di sinilah fungsi pelayanan sosial dari RSCM,” kata staf bagian pemasaran dan humas RSCM, Poniwati Yacub.

Untuk menjalankan fungsinya itu, pihak RSCM menerima layanan pasien yang menggunakan Jamkesmas dan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Pasien yang memiliki kartu Jamkesmas bebas dari segala biaya pengobatan dan perawatan.

“Kalau yang hanya mengantongi SKTM kami kenakan tarif tapi tidak sepenuhnya. Malah banyak juga yang hanya membayar sesuai kemampuan mereka,” kata Poniwati.

Melalui kenyataan itu, kata dia, tidak beralasan jika ada yang mengatakan RSCM mengabaikan fungsi pelayanan sosial, sebab terbukti hingga saat ini rumah sakit tertua di Indonesia itu tetap memperhatikan pasien dari golongan masyarakat miskin.***

Jakarta, 22 Juni 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s