Menengok Peternakan Berbasis Pesantren di Sigi

Oleh Adha Nadjemuddin

Kiyai Haji Zakir Hubaib, pimpinan pondok pesantren Kabeloa Alkhairaat Pewunu, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, duduk berteduh di bawah pohon.

Cahaya matahari yang menyelip di sela-sela dedaunan mengenai sebagian tubuhnya. Kecuali kepalanya sama sekali tak tersentuh sinar matahari karena tertutup dengan “toru”. “Toru” adalah nama topi khas lokal terbuat dari daun lebar. Seperti layaknya pakaian petani pada umumnya, Kiyai Zakir juga mengenakan pakaian serupa.

Siang itu, dia sedang memimpin kerja bakti di atas hamparan lahan seluas 14 hektare. Lahan itu gersang, berbatu kali, ditumbuhi pula pepohonan berduri. Saat matahari beranjak naik, hawa panas pun mulai menyeruak memanasi areal di lereng gunung Pewunu itu.

Sejak pagi hingga siang itu puluhan warga berjibaku membabat pohon dan mencungkil bebatuan. Ada juga beberapa santri ikut bekerja. Yang lain sibuk menyatukan batu-batu kali seukuran bola kaki yang berserakan ke satu tempat. Sejak Jepang menjajah Indonesia, areal itu dibiarkan terlantar tanpa diolah.

Areal gersang itu kini dibersihkan untuk lahan budidaya rumput gajah, sebagai pakan ternak sapi. Masih di areal sekitar, telah dibangun kandang ternak dan bangunan pengelolaan limbah kotoran sapi. Areal itu dipagari kawat berduri keliling sehingga sapi tidak seenaknya berkeliaran. Kiyai Zakir menyebut konsep peternakan ini dengan peternakan berbasis lingkungan pesantren.

“Disebut demikian karena masyarakat di sekitar pondok pesantren ikut terlibat dalam peternakan ini,” katanya.

Program ini berawal dari tahun 2008 saat mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Lukman Edy, berkunjung ke lingkungan pesantren Alkhairaat Kabeloa, 15 kilometer arah Selatan Kota Palu, ibukota Provinsi Sulteng.

Lukman Edy kemudian mencanangkan program tersebut dalam rangka percepatan pembangunan daerah tertinggal. Kecamatan Marawola dan sekitarnya kebetulan masuk dalam daftar daerah tertinggal di Indonesia.

Menurut Kiyai Zakir, program ini dikerjakan dalam tiga tahap. Tahap pertama, pemerintah pusat melalui KPDT telah mengucurkan dana sebesar Rp 1 miliar. Dana itulah yang digunakan membeli sapi, membangun kandang, dan pengelolaan limba kotoran hewan. Saat ini kandang itu telah berdiri di atas areal gersang dengan 86 ekor sapi.

“Induk sapi ini diperuntukkan kepada pesantren. Agar bisa berkembang biak, kami melibatkan masyarakat sekitar untuk sama-sama memelihara ternak ini. Mereka kami bagi dalam empat kelompok,” kata Kiyai Zakir.

Agar masyarakat sekitarnya juga merasakan manfaat peternakan itu, hasilnya dibagi. Induk sapi yang melahirkan anak pertama diberikan kepada masyarakat peternak. Anak kedua baru diberikan ke pesantren. Kalau anaknya dua, satu untuk pesantren, satu untuk masyarakat.

“Masyarakat memperoleh manfaat, pesantren juga terbantu,” katanya.

Masalahnya sekarang, peternakan tersebut butuh pakan yang tidak sedikit. Bahkan Kiyai Zakir memperkirakan, jika ternak itu sudah berkembang biak, akan sulit memperoleh pakan yang cukup. Sementara lingkungan yang gersang sangat tidak mendukung perkembanganbiakan ternak itu.

Itulah sebabnya lahan seluas 14 kektare itu dibuka untuk ditanami rumput gajah. Tanah itu dibeli oleh pesantren dari masyarakat sekitarnya. Pesantren dan masyarakat sekitar bekerjasama membuka lahan itu secara bertahap. Diperkirakan saat ini sudah terbuka sekitar lima hektare.

Kendala berikutnya adalah pengairan untuk menyiram budidaya rumput gajah. Masalah ini kata Kiyai Zakir, pemerintah sudah berjanji akan menyediakan pipa air. Sumbernya tidak begitu jauh, sekitar dua kilometer dari lahan budidaya rumput gajah itu.

“Tahap dua Pak Menteri KPDT sudah berjanji akan mengupayakan bantuan pipa. Sumber airnya sudah ada tinggal mau ditarik pipa dari sumber air itu,” kata Kiyai Zakir.

Inilah yang sedang dipersiapkan masyarakat dengan melakukan kerja bakti membersihkan lahan. Saban Sabtu dan Minggu mereka bekerja. Mereka tidak bekerja begitu saja, tapi Kiyai Zakir mengupah Rp20 ribu persetengah hari. Masyarakat juga diberi kesempatan mengumpul batu-batu kali di areal itu lalu dijual ke kontraktor yang membutuhkan.

“Mereka tidak hanya kerja saja, tapi saya bayar sebelum kering keringatnya. Masyarakat juga dapat batu yang bisa dijual perkubik,” katanya.

Masalah pupuk kata Kiyai Zakir, tidak perlu dibingungkan lagi, sebab kotoran sapi yang diolah dalam satu wadah untuk dijadikan pupuk kompos setiap saat siap ditaburkan.

Menurut Kiyai Zakir, peternakan tersebut dibangun sebagai pengembangan ekonomi di lingkungan pesantren. Tujuannya, agar pesantren tetap eksis dan mampu membiayai seluruh kepentingan pendidikan, biaya hidup santri, dan juga memberi dampak ekonomi terhadap masyarakat di lingkungan pesantren.

“Ini cara pemerintah membangun ekonomi berbasis pesantren. Kami diberikan kail agar bisa memancing ikan. Sekarang tugas kami menjaga kail ini agar tetap bisa digunakan memancing,” kata Kiyai Zakir.

Ponpes Kabeloa Alkhairaat Pewunu dibangun tahun 1989. Oleh para pendirinya, Kiyai Zakir dipercaya sebagai pimpinan pondok sampai sekarang. Ketua badan pendirinya yakni Kiyai Haji Moh Hagil Latjambo telah wafat. Pendiri lainnya sekaligus ketua yayasan, Rustam Lawido, juga sudah wafat.

Sebagai gantinya, Yayasan Pesantren Kabeloa tersebut kini dipimpin oleh Hidayat, seorang pengusaha lokal di Palu.

Menurut Kiyai Zakir, awalnya pesantren itu hanya berupa taman pengajian. Setelah muncul animo masyarakat sekitarnya, dibangunlah madrasah ibtidaiyyah, setingkat sekolah dasar. Dari sana terus dikembangkan dengan membuka madrasah tsanawiyah, setingkat SMP. Dan kini sudah lengkap hingga madrasah aliyah, setingkat SMA. “Sekarang siswanya lebih 300 orang, sebagian tinggal di dalam pesantren,” katanya.

Sejak berdiri, pesantren itu telah melahirkan ribuan santri. Sebagian besar dari lulusan pesantren tersebut sudah bekerja, baik di instansi pemerintah maupun swasta. Sebagian memilih berwiraswasta.

Menurut Kiyai Zakir, pembangunan pesantren tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi masyarakat sekitar kompleks Ponpes tersebut yang masih hidup primitif era tahun 1970-an. Era itu kata dia, kehidupan masyarakat sekitarnya jauh dari kehidupan agama. Dari sanalah sehingga muncul gagasan mendirikan pondok pesantren.

Waktu tempuh menuju lokasi pesantren menggunakan mobil kurang lebih 20 menit dari Kota Palu. Memasuki Desa Pewunu, Anda akan melihat papan pengenal pesantren itu. Hanya saja Anda harus masuk ke jalan desa sekitar 300 meter ke lereng gunung. Sementara lokasi peternakan, sedikit lebih jauh dari pondok. Di sekitar pondok berdiri rumah-rumah penduduk yang tampak kumuh. Halaman rumah mereka masih dijadikan kandang ternak hingga menimbulkan aroma busuk.

“Inilah yang membedakan pondok pesantren kita dengan pulau Jawa. Di Jawa umumnya rumah-rumah penduduk di sekitar pondok sudah permanen. Ekonomi mereka juga sudah mapan,” kata Kiyai Zakir.

Kiyai Zakir lahir di Desa Kalukubula, Kecamatan Dolo, 2 Juli 1942 adalah salah satu murid dari Habib Idrus bin Salim Aljufrie, penebar Islam asal Hadramaut yang menghabiskan separuh usianya di Indonesia untuk menegakkan tonggak Islam di kawasan timur Indonesia. Guru tersohor itu lebih dikenal dengan Guru Tua. Salah satu peninggalan terbesarnya adalah Perguruan Islam Alkhairaat.***

One thought on “Menengok Peternakan Berbasis Pesantren di Sigi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s