Kolam Renang Tertua di Loli Indah

Oleh : Adha Nadjemuddin

Impian Haji Radi (69) membangun taman rekreasi seeksotis Selecta, di Kota Palu, Sulawesi Tengah, telah terwujud sejak tahun 1981 silam.

Taman rekreasi seluas tiga hektare itu diberi nama Loli Indah. Loli adalah nama sebuah desa berbatasan Kota Palu dan Kabupaten Donggala. Loli Indah Kini masih bertahan di tengah tumbuhnya pusat-pusat wisata alternatif dengan fasilitas modern di Kota Palu dan sekitarnya.

Taman rekreasi Loli Indah pernah mencapai kejayaannya tahun 1980-an hingga akhir 1990-an. Tahun itu, Loli Indah adalah satu-satunya taman rekreasi pertama yang menyediakan kolam renang di Palu. Era tahun 2000-an belasan kolam renang telah hadir, tetapi Loli Indah masih tetap menjadi primadona dengan dukungan alamnya yang khas.

“Sejak saya bangun tahun 1981, alhamdulillah sampai sekarang masih dikunjungi orang walaupun tidak seramai tahun 80-an dan 90-an,” kata Haji Radi mengawali percakapannya.

Kiri-kanan dan belakang Loli Indah dikelilingi bukit. Di depannya terdapat pemandangan hamparan laut. Namun kini terhalang oleh bangunan rumah penduduk yang kian padat. Anda bisa menikmati keindahan laut, jika sedikit mengambil posisi bagian barat dari lokasi ini.

Suara jengkrik melengking bak di hutan belantara menjadi satu ciri khas dari sekian banyak keindahan Loli Indah. Pepohonan yang rimbun masih memberi kesejukan bagi pengunjung. Ada pohon kamboja, akasia, mangga, dan ketapang sebagai tempat bernaung dan parkiran kendaraan tanpa pungutan retribusi.

Pepohonan itu sekaligus penyejuk belasan rumah panggung ukuran 2 x 2 meter. Rumah-rumah berdinding setengah dada itu disewa hanya Rp5.000 sekali pakai. Cocok untuk keluarga menikmati hari-hari libur. Di sana tersedia aliran listrik, bisa membawa alat elektronik seperti laptop atau radio. Cape berbaring Anda bisa menyeburkan diri ke dalam kolam renang.

Di Loli Indah tersedia dua kolam renang. Satu untuk orang dewasa, 25 x 15 meter dengan kedalam mencapai dua meter. Satu lagi untuk anak-anak, 9 x 11 meter kedalaman kurang satu meter. Airnya dingin, bersumber dari gunung Loli, sekitar 500 meter dari areal taman rekreasi itu.

“Air dari gunung masuk ke kolam menggunakan pipa. Kolam selalu kami bersihkan dengan alat khusus sehingga kesehatannya terjamin,” kata Haji Radi.

Mandi di kolam ini biayanya relatif lebih murah di banding kolam renang lainnya di Palu. Sekali masuk hanya Rp5.000 perorang. Pengunjung sudah bisa mandi sepuasnya. Kolam renang anak-anak lebih murah lagi, hanya Rp3.000 perorang.

“Mungkin ini sudah kolam renang paling tua dan paling murah di Palu,” kata Haji Radi.

Tiket masuk ke lokasi ini pun cukup murah. Hanya Rp1.000 perorang. Jika pengunjung membawa sepeda motor juga hanya dikenakan biaya Rp1.000.

Di puncak taman rekreasi itu, terdapat jejeran warung. Di sana pengunjung bisa menikmati pisang goreng, mie, kopi atau teh hangat. Selepas berenang pengunjung bisa memesan pisang goreng dengan sambel yang lumayan membuat bibir bergetar karena pedisnya.

“Kalau lapar Bapak bisa pesan kaledo di desa. Bisa di makan di tempat ini,” kata salah seorang petugas.

Kaledo adalah makanan khas masyarakat Palu. Makanan ini terbuat dari tulang kaki sapi. Setelah dimasak hasilnya seperti sup. Makanan ini biasanya dicampur asam jawa mentah, bumbu cabe rawit, garam, jeruk nipis. Kalau mau lebih wangi bisa ditambah dengan bawang goreng khas Palu.

Pendiri taman rekreasi ini melengkapi areal wisata itu dengan bangunan aula yang bisa menampung 100 orang. Cocok untuk pertemuan resmi ataupun kegiatan rapat organisasi atau kantor. Sewanya murah, hanya Rp350 ribu sekali pakai. Ada jaringan listrik dan soundsistem.

Tak jauh dari sini, terdapat sebuah mushallah. Kapasitasnya kira-kira 50 orang jamaah. Musallah ini berada di ketinggian membelakangi dua kolam renang. Tiba waktu shalat, pengunjung bisa langsung shalat di mushallah itu.

Meski tidak ada koteks, tapi ada juga yang memilih bermalam di taman rekreasi ini. Haji Radi bukannya tidak mau membangun koteks. Hanya saja ia khawatir koteks itu justru menjadi tempat maksiat.

“Saya ini sudah tua. Saya mau memakan makanan yang halal dan sumbernya jelas. Untuk apa bangun koteks kalau hanya dijadikan tempat maksiat,” katanya.

Sang pengembang wisata Loli Indah itu memang sudah berumur 69 tahun. Sebelum mengembangkan Loli Indah, tahun 1970-an, Haji Radi adalah pedagang kopra terkenal di Kabupaten Donggala. Ia kerap bolak-balik Donggala-Surabaya. Saat di Surabaya itulah, Haji Radi kerap berkunjung ke Selecta, sebuah taman rekreasi di Kota Baru, Jawa Timur yang didirikan oleh seorang warga negara Belanda, Ruyter de Wildt, tahun 1930. Haji Radi mengaku menikmati keindahan kolam renang Selecta yang luas, taman bunga, play ground, dan berkano ria di kolam beton. Dari sinilah, Haji Raji terinspirasi membangun Loli Indah.

“Awalnya dari sana (Selecta) sehingga saya membangun Loli Indah,” katanya.

Setelah membangun Loli Indah, haji Radi akhirnya berhenti bisnis kopra. Ia terus merawat dan mengembangkan Loli Indah hingga menjadi sebuah pusat wisata eksotis yang terus bertahan hingga saat ini.

Mengunjungi Loli Indah dapat ditempuh dengan mobil ataupun roda dua. Dari Kota Palu jaraknya 15 kilometer atau hanya selisih tiga kilometer lebih dekat dari Banawa, ibukota Kabupaten Donggala. Wisata ini luasnya kurang lebih tiga hektare.

Perjalanan dari Palu ke Loli Indah tak terasa jauh sebab dalam perjalanan juga tersedia wisata industri pertambangan batu pecah. Pengunjung dapat melihat batu pecah yang bergunung dan aktivitas pemuatan ke tongkang-tongkang besar berkapasitas ribuan ton.

Menurut Haji Radi, Loli Indah akan dikembangkan lagi sesuai tuntutan zaman. Dia berharap, Loli Indah itu akan dikembangkan oleh cucunya yang kini sedang menyelesaikan pendidikan di Jogyakarta.

Haji Radi hanya punya satu orang putri, Haja Lisda. Ia menikah dengan seorang pegawai Pertamina bernama Haji Bintang. Bintang pernah bertugas di Luwuk Banggai dan Kalimantan. Sekarang bertugas di Palembang.

Mereka kini dikaruniai tiga orang putra/putri. Anak tertuanya sedang kuliah di Jogyakarta, anak keduanya kuliah di Makassar di fakultas kedokteran salah satu universitas. Anak ketiganya kini bersama Haji Radi di Donggala dan sedang menempuh pendidikan formal di SMA Donggala.
“Saya berharap taman rekreasi ini dikembangkan lagi cucu saya,” katanya.

Hampir setiap hari-hari libur, Haji Radi bersama istrinya, Cabo, datang ke taman wisata ini. Ia dibantu enam karyawan dengan tugas kerja masing-masing. Ada yang urus kolam renang, instalasi listrik dan air, bagian kebersihan, dan penjagaan tiket masuk. Sang istri kerap masih kerja di bagian penjagaan pintu masuk kolam renang.

Jika Haji Radi dulu pengusaha kopra, istrinya justru berusaha dibidang angkutan umum. Keduanya berhenti berbisnis setelah membangun Loli Indah, seiring dengan usia mereka yang kian menua.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s