Ketika Senjata Api Mengoyak Hati Rakyat Buol

Oleh Adha Nadjemuddin

Stevani Verawaty, 17 tahun, terkulai tak berdaya. Tubuhnya tampak lentur sekali seperti tak bertulang saat digendong masuk ke kamarnya.

Wartawan foto dan kamerawan televisi segera menyorot putri pertama Saktipan Kapuung, suami Dahlia Sondak yang merupakan ayah dan ibu Verawaty.

Dia shok atas tragedi kemanusiaan yang menewaskan ayahnya Saktipan Kapuung dalam bentrokan antara warga sipil bersenjata batu melawan polisi yang memegang senapan mesin otomatis di Buol, Sulawesi Tengah pada Rabu dini hari, 1 September 2010.

Saktipan bersimbah darah di atas motornya saat timah panas bersarang di rusuk kiri bapak empat anak itu.

Nasib nahas itu menimpanya saat pulang dari rumah sakit setelah membawa seorang korban penembakan lainnya. Dalam perjalanan pulang itulah, Saktipan tertembak hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit pada Kamis (2/9).

“Kami berpikir penembaknya tersebar karena ia ditembak jauh dari kerumunan aparat dan orang-orang yang berhadapan dengan polisi,” kata Abdi Turungku, adik ipar korban.

Abdi menduga, kakak iparnya itu dua kali ditembak karena dua lubang sekaligus melukai bawah ketiaknya. Tapi anehnya tidak ditemukan proyektil bersarang di tubuh pria itu.

“Tidak mungkin hanya satu peluru dalam dua lubang yang berbeda,” kata Abdi.

“Kami sakit sekali. Terus terang ini sadis,” tambah Abdi.

Kelurga almarhum meminta kasus ini segera dituntaskan sebab sampai malam ketiga kematian almarhum belum ada tanda-tanda tegaknya kebenaran di mata keluarga korban.

Pada 1 Oktober tahun ini, usia Saktipan genap 48 tahun. Sebagai Kepala UPT Transmigrasi Buol, Saktipan baru saja menyelesaikan pendidikan transmigrasi di Jakarta.

Ia pulang ke Buol berkumpul bersama keluarga mengisi bulan Ramadhan, menanti tibanya Idul Fitri. Tapi takdir berkata lain, Tuhan memanggilnya lebih awal sebelum Idut Fitri tiba.

Timah panas dari senapan otomatis milik polisi yang melukainya membuat empat putrinya menjadi yatim dan istrinya Dahlia kini berstatus janda.

“Saya sangat berharap masalah ini segera tuntas,” tutur Dahlia Sondak, istri almarhum.

Berubah sikap

Menurut dia, almarhum mengalami perubahan sikap dalam keluarga sepulang dari pendidikan di Jakarta. Dia banyak diam bahkan sehari sebelum wafatnya, almarhum meminta maaf kepada sang istri dan menitip putri bungsunya Apriali Ningsih (5 tahun) untuk dirawat.

Dahlia tidak menyangka kalau sikap almarhum itu merupakan pertanda ia akan segera pergi selamanya ke pangkuan sang pencipta.

Malam itu malam ketiga meninggalnya almarhum. Suasana rumah sedikit masih sepih karena jemaah ta`zia belum berdatangan. Sebagian besar masih di masjid menunakan salat tarwih.

Silvena, 15 tahun, putri kedua almarhum dan dua adiknya yang lain sudah duduk bersila hendak menyambut tamu malam ketiga. Silvena merunduk. Air mata di pipi disekanya dengan jilbab yang bertenger di kepala. Foto ayahnya yang telah tiada itu dipangkunya.

“Sebelum meninggal, papa bilang saya sudah besar. Papa tepuk bahu saya. Kata papa, saya sudah besar. Sekolah yang baik nak,” ucap Silvena mengenang pesan terakhir sang ayah.

Tak pernah dijajah

Tragedi berdarah di Buol yang menewaskan delapan orang dan puluhan lainnya luka-luka adalah peristiwa paling buruk dalam sejarah Kabupaten Buol.

Selama ada gejolak di daerah ini, belum ada darah yang tumpah ke bumi dan nyawa yang melayang sia-sia, kata Raja Buol XII Ibrahim Turungku.

“Di sini sering ada demo, tapi tidak sampai seperti ini. Peristiwa ini paling buruk selama Buol ini ada,” katanya menambahkan.

Lain daerah lain pula adat istiadatnya. Begitu juga di Buol. Kekerabatan dan kekeluargaan masyarakat Buol sangat kental sebab asal muasal Buol hanya satu rumpun. Tidak ada sub etnis di Buol. Jika etnis Bugis menyebut kata ibu beragam nama, seperti indo, emma, mama, yang semuanya artinya ibu, maka di Buol sebutan ibu hanya satu, `tiina.`

“Ini yang membuat kami kuat,” kata Ibrahim.

Selain mengenal sistem pemerintahan, masyarakat Buol juga masih kental dengan sistem kerajaan. Kerajaan Buol sudah ada sejak tanggal 15 Agustus 1858. Raja pertamanya bernama Mohammad Noer Aladin. Sekarang Buol sudah dipimpin raja ke-12.

“Catatan Kerajaan Buol yang ada di tangan kami ini difoto copy dari Nederland,” kata Ibrahim.

Menurut Ibrahim, etnis Buol tidak pernah dijajah oleh Belanda. Memang ada Belanda di Buol, tetapi tidak berhasil menjajah. Kerajaan Buol tidak mau dijajah sehingga Belanda mengajak masyarakat Buol bekerja sama dalam membangun.

“Terus terang kami tidak pernah dijajah. Tapi kami bekerja sama, buktinya istana raja ini dibikin oleh Belanda,” kata Ibrahim.

Abd Razak M Razak, tokoh muda terdidik Buol mengatakan, karakter masyarakat Buol sangat terbuka.

“Sepanjang kami tidak diinjak, `welcome`,” kata Razak.

Dia menilai, tragedi Buol adalah bentuk perlawanan rakyat atas berbagai masalah dan ketidakadilan.

Menurut Razak, konflik vertikal di Buol saat ini adalah akumulasi kekecewaan masyarakat dari berbagai masalah yang selama ini terpendam seperti diskriminasi penanganan unjuk rasa, arogansi oknum aparat keamanan, dan tindakan-tindakan negatif lainnya seperti kompensasi uang dari pelanggaran lalu lintas.

“Sudah jadi rahasia umum, `sweeping` sepeda motor di sini kompensasinya Rp50 ribu tiap satu pelanggaran,” kata Razak.

Kapolda Sulteng, Brigjen Pol Muh Amin Saleh mengatakan, akan bertindak tegas dan objektif sesuai fakta-fakta di lapangan.

“Sampai sekarang kita masih kumpulkan bukti-bukti,” kata Amin Saleh.

Kasus Buol, menurut Kapolda, dibagi dalam tiga kategori kejadian yakni tewasnya tahanan di Polsek Biau, warga yang meninggal karena tertembak dan peristiwa penembakan tanggal 1 September 2010.

Begitu juga dengan materi pelanggaran. Pelanggaran dalam tragedi Buol terdiri atas pelanggaran disiplin, kode etik, dan pelanggaran pidana.

Hingga hari ke empat pascabentrokan, baru satu anggota Polri berpangkat brigadir yang mengarah pelanggaran pidana.

Tragedi berdarah di Buol ini pecah pascakematian Kasmir Timumun di sel tahanan Polsek Biau pada Senin (30 Agustus).

Polisi mengatakan Kasmir menngal karena bunuh diri, namun rakyat tidak percaya dan menunduh polisi melakukan penganiayaan karena di tubuh korban ditemukan luka-luka memar dan mulutnya tersumpal kertas.

Ribuan warga kemudian berdemo ke Mapolsek Biau Selasa (31/8) namun mereka dihadang personel polisi dan sejumlah anggota Brimob bersenjata otomatis dan mepeaskan tembakan dengan alasan membubarkan massa dan mempertahankan diri dari serbuan warga.
(antara)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s