Potensi Alkhairaat Dalam Episentrum Kekuasaan

Oleh : Adha Nadjemuddin

Lamaran Partai Golkar kepada tokoh Alkhairaat Lukman S Tahir untuk menjadi calon Wakil Gubernur Sulawesi Tengah mendampingi calon gubernur Aminuddin Ponulele, menjadi isu politik yang hangat menjelang Pilkada 2011 dalam sepekan terakhir.

Sepanjang sejarahnya, baru kali ini ada partai politik yang menyurat secara resmi ke Alkhairaat untuk meminta Ketua Utama Habib Sagaf Aljufri merestui Rektor Universitas Alkhairaat Lukman Thahir disandingkan dengan Aminuddin Ponulele dalam Pilkada yang dijadwalkan berlangsung April 2011.

Wacana tersebut adalah bagian terkecil dari tapak-tapak sejarah Alkhairaat dalam persinggungannya dengan dunia politik praktis.

Setiap menjelang momentum perhelatan demokrasi lima tahunan mulai pemilihan umum, pemilihan presiden, pemilihan kepala daerah provinsi dan pemilihan kepala daerah kabupaten/kota, Alkhairaat selalu menjadi incaran tokoh untuk mendapat dukungan dalam merebut posisi tampuk kekuasaan.

Alkhairaat sebuah lembaga dakwah dan pendidikan tertua berpusat di Palu, Sulawesi Tengah, bak magnet yang daya rekatnya sangat kuat sehingga politisi berebut mendekatkan diri ke organisasi yang didirikan syeh kelahiran Taris, Hadramaut, Habib Said Idrus bin Salim Aljufri ini.

Tidak sedikit kandidat presiden, calon menteri, gubernur, bupati/wali kota, berusaha meraih simpati dari Alkhairaat. Kepentingan itu diapreasisikan dalam berbagai bentuk seperti memberikan sumbangan untuk pengembangan dakwah Alkhairaat, meminta restu dan doa kepada Ketua Utama Alkhairaat Habib Sagaf Aljufri–cucu pendiri Alkhairaat.

Kandidat doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bidang studi politik Islam Abdul Gani Jumat menilai, banyaknya tokoh yang ingin meraih simpati dari Alkhairaat menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan masyarakat kepada Alkhairaat dan ketokohan Habib Idrus yang auranya turun ke cucunya, Habib Sagaf Aljufri.

“Ini fakta bahwa keulamaan Habib Sagaf itu sungguh sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat kita,” katanya, di Palu, Minggu.

Gani mengatakan, Habib Sagaf adalah satu-satunya tokoh di Sulteng yang berpengaruh dan kharismatiknya masih terjaga dan terawat. Kharismatiknya menembus jauh ke dalam batasan golongan dan strata sosial masyarakat.

Menurut Gani, pendiri Alkhairaat Habib Idrus, tahun 1957 sampai era 1960-an sudah mempraktikkan model demokrasi dalam konteks toleransi beragama. Waktu itu, Habib Idrus mengajak Entoh, seorang pendeta Kristen Pantekosta mengajar ilmu dagang di Alkhairaat.

“Ini langkah yang terbuka bagi Alkhairaat dimana Indonesia ketika itu baru belajar bertoleransi tetapi Habib Idrus sudah mempraktikkannya di lembaga pendidikan Alkhairaat,” kata Gani, yang saat ini tengah menyusun disertasi pemikiran politik kebangsaan Habib Idrus bin Salim Aljufri.

Ketokohan Habib Idrus kata Gani, muncul secara kultural dan ini pulah yang turun ke Habib Sagaf Aljufri. Tidak sedikit kata dia, tokoh-tokoh nonmuslim yang berempati dan berebut membantu Habib Sagaf dalam mengembangkan pendidikan di Sulteng.

“Hanya Habib Sagaf saja yang kadang menolak diberi bantuan,” kata Gani.

Tak bergigi

Banyaknya daftar tokoh yang meminta restu, meminta didoakan bahkan terang-terangan meminta didukung politik, ternyata berimplikasi negatif terhadap nama Alkhairaat, sebab tidak sedikit tokoh yang maju di pilkada menyeret nama Alkhairaat dalam kancah politik praktis namun kemudian kalah.

Opini pun terbentuk, Alkhairaat tak bergigi lagi. Faktanya, calon yang didukung tidak menang.

Menurut Gani Jumat, opini tersebut sangat keliru, sebab dalam sejarahnya Alkhairaat tidak pernah memberikan dukungan secara institusi baik lisan maupun tertulis kepada salah satu calon gubernur/bupati/walikota.

“Mungkin hanya kecenderungan personal orang Alkhairaat mendukung si A atau si B. Inilah yang digeneralisasi dan dipersepsikan publik bahwa si A didukung Alkhairaat, padahal sesungguhnya itu hanya kecenderungan dukungan personal,” kata Gani.

Dia mengatakan, dengan banyaknya tokoh meraih simpati ke Alkhairaat menunjukkan betapa bijaksana dan kuatnya kharisma Habib Sagaf Aljufri dalam menyikapi keinginan politik orang tertentu.

Siapa saja yang datang kepada Habib Sagaf tidak pernah ditolak, sehingga semua yang datang kepadanya beranggapan mendapat restu dari Alkhairaat. Inilah yang dipersepsikan secara personal oleh tokoh yang mendatangi Habib bahwa ia mendapat dukungan dari Alkhairaat.

Menurut Gani, jika Alkhairaat secara institusi memihak dan bekerja untuk kepentingan seseorang calon gubernur/bupati, dia yakin akan menang dalam pertarungan politik. Tetapi itu tidak mungkin terjadi mengingat eksistensi Alkhairaat sebagai lembaga dakwah.

Sekretaris DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sulteng Andi Parenrengi berpendapat, Alkhairaat cenderung pecah dalam mendukung setiap calon kepala daerah. Tidak solidnya Alkhairaat membuat sejumlahnya pentolan Alkhairaat yang bertarung di pentas politik praktis menderita kalah.

Menurut Andi, untuk memantik simpati dari Alkhairaat sebaiknya menggunakan jalur saya-sayap organisasinya seperti Wanita Islam Alkhairaat (WIA). Person WIA, kata dia, lebih solid.

“Kalau saya, lebih baik kita mendekat ke WIA. Peluang solidnya lebih besar,” katanya.

Saat ini tidak sedikit tokoh-tokoh Alkhairaat masuk dalam jantung PKS, seperti Menteri Sosial Salim Aljufri (Dewan Ulama Alkhairaat), Sakinah Aljufri (Penasehat WIA dan anggota DPRD Sulteng) serta Zainuddin Tambuala (Ketua PKS Sulteng).

Zainal Daud, politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menilai, dengan masuknya tokoh-tokoh penting di Alkhairaat itu menyebabkan ada pihak yang mempersepsikan bahwa Alkhairaat lebih dekat dengan PKS.

Di sisi lain tidak sedikit pula tokoh Alkhairaat seperti Fadel Muhammad (Ketua Yayasan Alkhairaat) justru berkiprah di Golkar. Tokoh lainnya adalah Ridwan Yalidjama juga berkibar di Golkar. Di PKB ada KH. Zakir Hubaib, salah satu murid Habib Idrus.

Menurut Gani Jumat, penyebaran kader Alkhairaat tersebut membuktikan keterbukaan Alkhairaat dalam pergaulan politik di tingkat lokal maupun nasional sebagaimana keterbukaan pendiri Alkhairaat Habib Idrus bin Salim Aljufri pada semua golongan.

Kedekatan Kultural

Masuknya nama Lukman Thahir dalam wacana perebutan kursi gubernur/wakil gubernur di Pilkada Sulteng 2011 mendatang dipastikan tidak akan mendapat dukungan kelembagaan Alkhairaat.

Hal ini dibuktikan dengan dikeluarkannya surat oleh Pengurus Besar Alkhairaat kepada DPD Partai Golkar yang ditandatangani Ketua Utama Habib Sagaf.

Salah satu poin dari penegasan itu adalah Alkhairaat tidak boleh mengeluarkan surat dukungan untuk kepentingan politik praktis.

Meski demikian, Gani Jumat berpendapat, meskipun nantinya Alkhairaat tidak memberikan dukungan tertulis kepada Lukman Thahir tetapi warga Alkhairaat akan terpanggil secara kultural dan ideologis untuk mendukung Rektor Unisa Palu itu.

“Garis kultural dan ideologis itu yang mengikat kuat terhadap Lukman Thahir sehingga peluang untuk didukung oleh warga Alkhairaat sangat kuat,” kata Gani.

Alkhairaat menjadi rebutan karena dinilai memiliki pengikut yang jumlahnya mencapai ratusan ribu yang tersebar di kawasan timur Indonesia.

Salah satu mesin kaderisasi Alkhairaat adalah melalui madrasah/sekolah yang jumlahnya mencapai 1.561 dan 35 pondok pesantren.

Selain itu, Alkhairaat juga memiliki perguruan tinggi dengan enam fakultas yakni Fakultas Agama, Fakultas Pertanian, Fakultas Perikanan, Fakultas Ekonomi, Fakultas Sastra dan Fakultas Kedokteran.

Alkhairaat juga mengembangkan sayap organisasi melalui Wanita Islam Alkhairaat (WIA), Himpunan Pemuda Alkhairaat (HPA), Ikatan Alumni Alkhairaat, dan Banaat Alkhairaat. Struktur organisasi ini terbentuk dari pusat sampai ke tingkat desa dan kelurahan.(antara)

One thought on “Potensi Alkhairaat Dalam Episentrum Kekuasaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s