Telkomsel, yang Dibenci yang Dicinta

Oleh : Adha Nadjemuddin

Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sulteng, Achrul Udaya, suatu hari marah-marah. Jaringan komunikasi telepon genggamnya terganggu. Suara komunikan tak terdengar jelas, seperti tuning radio yang tidak tepat di frekuensinya.

Ketua Perhimpunan Pengusaha Kosgoro Sulteng, Albert Ciputra, juga punya pengalaman serupa. Suatu hari dia menelepon, tidak terdengar jelas suara lawan bicaranya. Dia pun menggerutu.

Fotografer anggota Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu, Zainuddin juga murung. Dia mencari sana-sini tempat yang jaringan komunikasinya bagus. Malam itu, Zainuddin sedang ada urusan penting untuk segera dibicarakan melalui jaringan telepon, tapi jaringan sedang tidak mendukung.

Dia tambah marah lagi karena pulsa yang ia pesan melalui anjungan tunai mandiri (ATM) tak kunjung masuk. Sementara stok pulsa di telepon genggamnya sudah kritis.

Dalam kasus lain, seorang konsumen menghubungi telepon seseorang, namun bukan pemilik nomor telepon yang mengangkat. Melainkan suara orang lain. Perempuan pula.

Anto, Kepala Dusun Pulau Lingayan, sebuah pulau terluar di Tolitoli, harus mencari tempat yang jaringan komunikasinya bagus. Lantaran itu, ia kerap teriak-teriak di pantat telepon genggamnya dengan harapan suaranya bagus diterima lawan bicaranya.

Begitulah kondisi jaringan telepon selular di Sulteng saat ini. Sudah overload. Telkomsel mengklaim jumlah pelanggannya telah mencapai 1,2 juta dari 2,3 juta penduduk di Sulteng.

Akhir Juni 2010 lalu, sebuah Forum Komunikasi Konsumen Telkomsel (KKL) terbentuk. Forum ini menggalang dukungan dari pengguna telepon genggam untuk menggugat Telkomsel. Perusahaan komunikasi itu dinilai telah merugikan konsumen akibat gangguan layanan di daerah itu.

KKL menggelar unjuk rasa ke Grapari Telkomsel Palu, meminta penjelasan kepada manajemen tentang kondisi saluran telepon yang memburuk. Meski jaringan buruk dan banyak pilihan provider jaringan, tetapi para pengguna jaringan tersebut tetap saja tidak bergeser dari Telkomsel. “Saya menggunakan jaringan ini sejak Telkomsel masuk di Palu,” kata Achrul Udaya.

Sejarah telepon seluler masuk di Kota Palu berawal dari tahun 1996. Saat itu, umumnya nomor telepon masih menggunakan area Makassar. Sistem ‘roaming’ masih berlaku. Sekali tersambung ke telepon lawan bicara, konsumen sudah harus siap mengeluarkan pulsa Rp3.000. Itu dulu. Telepon genggam juga masih barang langka.

Manager Grapari Telkomsel Palu, Hasbullah mengatakan, protes dan kejengkelan konsumen terhadap jaringan layanan Telkomsel harus dipahami sebagai kecintaan mereka terhadap anak usaha dari PT. Telkom Tbk itu. “Keluhan konsumen ini harus kami sikapi dengan memperbaiki kapasitas dan kualitas jaringan,” kata Hasbullah.

Bangun Infrastruktur

Sebagai pemimpin pasar bisnis telekomunikasi selular di Sulteng, Telkomsel dituntut memperbaharui kapasitas dan kualitas jaringannya yang saat ini baru didukung 400 lebih base transceiver station (BTS) di seluruh kabupaten/kota dan 23 Node-B (base transceiver station 3G). Tahun 2011 Telkomsel menargetkan penambahan sekitar 130 BTS dan 17 Node-B. “Ini untuk mendukung kapasitas dan kualitas jaringan sehingga pengguna nyaman berkomunikasi,” kata Hasbullah.

Pembangunan BTS dan Node-B tersebut antara lain untuk memperkuat wilayah tertentu seperti Tolitoli dan Kabupaten Banggai. Pengguna telepon genggam di dua wilayah ini juga kian tumbuh. Luwuk, ibu kota Kabupaten Banggai merupakan kota terpadat kedua di Sulteng setelah Palu.

Telkomsel terus memacu investasi karena menyadari pertumbuhan pengguna layanan terus bergerak naik khususnya pengguna multimedia sekelas 3G. Mau tidak mau, Telkomsel harus memperbesar broadband-nya. “Broadband adalah bisnis masa depan,” kata Hasbullah.

Hasbullah tidak bersedia membebeberkan jumlah investasi yang akan digelontorkan di daerah penghasil kakao ini karena itu kewenangan kantor pusat. Sebagai perusahaan berbadan usaha milik negara, Telkomsel memiliki beban yang tidak saja bertugas mendapatkan keuntungan tetapi juga pelayanan sosial. Masih ada beberapa daerah strategis seperti kawasan wisata Danau Lindu belum tersentuh jaringan.

“Di Lindu kami susah mencari jaringan. Sudah naik ke puncak gunung pun tidak bisa dapat jaringan,” kata Moh Sarfin, kontributor TVOne di Palu yang pernah bertugas liputan Vestifal Danau Lindu, di Lindu.

Untuk mendapatkan jaringan, Sarfin harus turun ke desa lain yang jaraknya sekitar 17 kilometer dari Lindu. Karena medan yang berat, jarak itu ditempuh selama satu jam. Di sanalah baru bisa mendapat jaringan yang lumayan bagus.

Beberapa bulan lalu, Telkomsel berencana memperluas jaringan hingga menjangkau Lindu dan sekitarnya. Tetapi, Telkomsel masih berpikir panjang karena investasinya tidak sedikit. Untuk membangun satu BTS saja, butuh anggaran lebih dari Rp1 miliar. Belum lagi biaya operasional seperti bahan bakar minyak untuk pembangkit generator. “Meski kami sadari bahwa jaringan telekomunikasi di Lindu bagian dari tanggungjawab kami sebagai penyedia jasa layanan komunikasi, tetapi Kami masih berpikir untuk investasi,” kata Hasbullah.

Jaringan tenaga listrik ternyata memegang peranan penting dalam bisnis komunikasi. Itu yang saat ini sedang dirasan Telkomsel akibat keterbatasan pasokan listrik di Sulteng. Telkomsel terpaksa menyediakan puluhan generator portable. Saat listrik padam, belasan generator langsung digerakkan. “Di Tolitoli kami sudah bertemu PLN di sana. Tahun ini mereka akan menjamin ketersediaan listrik,” kata Hasbullah.

Mantan Manager Grapari Telkomsel Kendari itu, baru beberapa bulan menjabat manager di Palu. Dia mengaku kaget setelah melihat topografi Sulteng yang umumnya bergunung. Dari kabupaten satu ke kabupaten lainnya harus melewati beberapa gunung. Topografi ini praktis menyedot banyak investasi karena membutuhkan bentangan tower yang tidak sedikit. Di Kota Palu, ibu kota provinsi saja masih ada beberapa tempat tertentu yang jaringan komunikasinya lelet. Pengguna harus mencari tempat yang strategis dulu, lalu mentok di tempat itu. Bergeser sedikit, jaringan terganggu.

Pendulum Ekonomi

Kehadiran bisnis telekomunikasi telah memberi dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat setempat. Di Sulteng, tersebar sekitar 1.400 outlet penjualan pulsa, pesawat telepon dan seluruh aksesorisnya.

Diperkirakan mereka yang terlibat dalam pekerjaan dan mendapat keuntungan dari bisnis tersebut mencapai belasan ribu orang. Begitu juga mereka yang memiliki tingkat mobilitas tinggi sangat terbantu dengan jaringan telekomunikasi.

Pertumbuhan teknologi multimedia akan terus merangsang pertumbuhan bisnis di sektor komunikasi ini. Perangkat teknologi multimedia juga kian bermunculan. Telkomsel pada 2011 ini akan menjadikan Kota Palu sebagai “broadband city”, setelah dua kota sebelumnya, Makkasar dan Manado.

Penambahan proyek pekerjaan infrastruktur komunikasi seperti BTS praktis membutuhkan tenaga kerja. Hasbullah mengatakan, itulah antara lain sumbangan dari bisnis telekomunikasi saat ini.

Menurut Hasbullah di Sulteng saat ini sedang berkembang industri pertambangan seperti di Tolitoli, Banggai dan Kota Palu. Di Kota Palu, sebuah pertambangan rakyat emas melibatkan sekitar 10 ribu tenaga kerja. Umumnya mereka pendatang dari Sulawesi Utara, Gorontalo, bahkan dari Jawa.

Di tengah geliat para penambang tersebut, komunikasi menjadi pilihan penting untuk menghubungkan para pekerja dengan keluarganya di daerah yang mereka tinggalkan. “Dengan adanya komunikasi itu, para pekerja tenang bekerja, otomatis pemasukan lancar. Mereka tidak terlalu pusing memikirkan keluarga yang ditinggal karena komunikasi lancar,” kata Hasbullah.

Begitulah kehadiran Telkomsel, memberi keuntungan, dicintai, namun juga kerap dibenci karena layanan jaringannya yang sebagian masih buruk.(antara)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s