Kakula dalam Peluang Kebudayaan Global

Oleh : Adha Nadjemuddin

Seluruh daerah di Indonesia sibuk berdandan memperbaiki citra kebudayaannya tak terkecuali di Sulawesi Tengah. Pertengahan tahun 2010, tiga kegiatan penting berskala nasional dan regional digelar di daerah ini. Pementasan budaya dan seni diberi peran besar serta dukungan anggaran yang cukup untuk kemeriahan kegiatan itu.

Puncak acara Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-17 misalnya, sebuah tarian kolosal “nosongurara” yang melibatkan 600 pemain dipentaskan untuk menghibur wakil presiden, beberapa menteri kabinet Indonesia Bersatu II dan tamu lainnya dari 33 provinsi.

“Nosongurara” merupakan kolaborasi berbagai seni tari dari etnis yang ada di Sulawesi Tengah (Sulteng). Musik pengiringnya juga khas, karena perpaduan komposisi musik tradisional, salah satu di antaranya adalah gong. Musik Gong menjadi materi diskusi menarik pada Pekan Budaya dan Pariwisata Sulteng IX, pertengahan Juli 2010 lalu.

Hampir semua jenis seni bercirikan gong diangkat ke permukaan, sehingga menjadi bagian tak terpisahkan dari seluruh rangkaian Pekan Budaya dan Pariwisata Sulteng itu. “Pekan budaya dan pariwisata ini adalah laboratorium. Ini hanya proses pencitraan, persiapan tampil untuk promosi budaya di Bali,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulteng, Syuaib Djafar.

Intinya, kata Syuaib, gol yang diharap dari pekan budaya tersebut adalah kesiapan Sulteng dalam tahun kunjungan wisata Sulteng 2012. Tahun kunjungan wisata itu diharapkan bisa menyedot turis dalam negeri maupun luar negeri. Ragam kegiatan budaya dan seni yang telah digebyar maupun dalam tahap rancangan, diharapkan mampu mewujudkan ketahanan budaya dan citra pariwisata sehingga menunjang pertumbuhan ekonomi kerakyatan di Sulteng.

Legendaris Kakula

Jika Sulawesi Utara terkenal dengan kulintang, di Jawa dan Bali dengan gamelannya, maka di Sulawesi Tengah dikenal dengan “kakula”. “Kakula” belum dikenal luas. Etnomusikolog, Franki Raden, yang sudah mengenyam banyak musik gong tradisional di dunia, saat berkunjung ke Palu, kadang masih terbata-bata menyebut kata “kakula”.

Kakula adalah salah satu budaya bercirikan gong yang cukup dikenal di Sulteng. Akar dari seni budaya “kakula” berasal dari suku Kaili, Kota Palu, ibu kota Provinsi Sulteng.

Kakula biasanya digunakan untuk upacara akil balik, perkawinan hingga kematian. Musik ini sebagai penanda status golongan tertentu terutama saat perkawinan. “Artinya, ketika kakula terdengar, maka itu bertanda ada golongan bangsawan Kaili yang melangsungkan perkawinan,” kata Amin Abdullah, praktisi seni dan budaya Sulteng.

Menurut Amin, kakula adalah istilah untuk menamakan sebuah ansambel yang terdiri dari kakula itu sendiri (berbentuk seperti bonang) yang berfungsi sebagai pembawa melodi dengan iringan dua buah gong atau tawa-tawa. Gong berukuran sedang dan satu atau dua buah gimba atau gendang.

Dalam pengertian khusus, kakula berarti instrumen yang terdiri dari tujuh buah gong kecil yang berderet. Bilah-bilah kakula diletakkan dalam penampang satu baris, dimana bagian bawahnya diberi tali. Disamping itu istilah kakula juga untuk menyebut musik yang dihasilkan oleh instrumen tersebut.

Amin menilai, perkembangan kakula di Sulteng menjadi menarik terutama setelah zaman kemerdekaan. Pemerintah melalui instansi kebudayaan mengembangkan fungsi kakula tradisi bukan hanya dalam fungsinya pada upacara perkawinan, namun untuk mengiringi tari dan lagu daerah serta komposisi baru.

Meskipun sebagian orang Kaili menyebut Kakula sebagai kesenian asli mereka, kakula ternyata tidak turun dari langit. Tetapi kakula mempunyai hubungan dengan instrumen sejenis di Kepulauan Asia Tenggara yang dalam istilah etnomusikologi, umumnya disebut Kulintang.

Menurut Amin, gong diidentifikasi sebagai salah satu alat perdagangan yang digunakan pedagang-pedagang Melayu beragama Islam. Itulah sebabnya, oleh Maceda (etnomusikolog Filipina) menyebutnya sebagai bagian dari “Malay culture” (kebudayaan Melayu).

Anthony Reid, sejarahwan, menyebut “abad perdagangan” periode abad ke-15 hingga ke-17, sebagai masa dimana instrumen ini menyebar. “Pada saat itu hubungan dagang di antara kepulauan Asia Tenggara sangat aktif dibanding dengan abad-abad yang lain,” kata Amin.

Di pulau Sulawesi, kata Amin, budaya gong dulunya terdapat juga di Minahasa, Sulawesi Utara. Namun sekarang tidak ditemukan lagi. Budaya Gong di Sulawesi Utara masih terdapat di Bolaang Mongondow sementara di Sulawesi Tenggara terdapat di Wakatobi dan beberapa daerah lainnya. Di Sulteng, budaya gong menyebar hampir di seluruh wilayah.

Selain di komunitas orang Kaili, juga terdapat di Buol dan Tolitoli, Suku Sea-sea di Banggai Kepulauan dan suku Wana di Morowali dan beberapa suku bangsa lainnya. “Konteks sosial budaya membuat penggunaan gong tersebut begitu beragam baik ritual maupun profan,” kata Amin.

Ekspor Budaya

Etnomusikolog, Franki Raden, menilai bahwa budaya gong “kakula” berpeluang menembus dunia internasional terutama di Eropa. Penilaian ini dikemukakan Franki, pada sarasehan budaya di Palu, 16 Juli lalu.

Pria berambut panjang yang pernah menjadi komponis tamu di New York pada 1986 itu mengatakan, di Eropa saat ini sudah mulai muncul kebosanan orang terhadap budaya gamelan Jawa dan Bali. Sudah ratusan tahun hanya budaya itu yang mereka kenal. “Teman saya di Eropa bilang, apakah tidak ada lagi yang lain di Indonesia selain gamelan?” kata Franki.

Menurut Franki, budaya gong gamelan di Amerika dan Eropa sudah menjadi bagian dari etnik mereka dan sekitar 300 alat gamelan terdapat di negara itu. Bahkan, kata dia, ibu-ibu yang terlibat dalam gamelan ini sehingga menjadi bagian interaksi sosial mereka di sana.

Di Toronto, Kanada, alat musik gamelan sudah menjadi kurikulum mereka. Bahkan ada acara tahunan anak-anak sekolah dasar di Toronto yang khusus menampilkan gamelan. “Ini ditonton ribuan orang,” kata guru besar studi seni pertunjukan dan kajian budaya Universitas of Toronto tahun 2004-2007 itu.

Jenis budaya gong asal Sulawesi Tengah seperti kakula, kata Franki, memiliki peluang besar untuk menjadi budaya global karena karakter musiknya lebih pada musik Barat. “Saya berlatar-belakang musik Barat. Setelah saya dengar kakula saya cepat akrab begitu,” katanya.

Hanya saja, seberapa besar kesiapan guru dari “kakula” ini untuk mengajarkan ilmunya. Kesiapan itu sangat penting, tidak saja menyangkut pengetahuan “kakula” tetapi juga kemampuan bahasa sang guru “kakula” dan produk peralatannya.

Transfer pengetahuan seni “kakula” ke mereka yang mencintai seni tradisional kata Franki, sangat penting, sehingga lambat laun dicintai seperti halnya gamelan yang sudah menjadi bagian tradisi global.

Menurut Franki, budaya gamelan menjadi besar di Amerika karena dikembangkan oleh tiga guru besar yang ada di sana. Guru besar itu siap mengajarkan gamelan kepada masyarakat Amerika.

Untuk merawat kebudayaan lokal termasuk “kakula” di dalamnya kata Franki, sudah saatnya ditata, termasuk menyiapkan sebuah fakultas di perguruan tinggi.

Bagi Franki, musik gong pada abad ini mestinya sudah masuk gelombang kedua, yakni gelombang ekspor. Sebab gelombang pertama sudah dilalui, dimana budaya gong seperti gamelan Jawa dan Bali sudah terjadi sejak beberapa abad lalu.(antara Juli 2010, saya perbaharui kembali 7 April 2011)

3 thoughts on “Kakula dalam Peluang Kebudayaan Global

  1. Umi 15 Juni 2011 / 8:37 am

    mohon info… dimana bisa didpt Mp3 instrumen utk musik kakula

  2. Anonim 13 Maret 2013 / 8:07 pm

    semogo bukan hanya sekedar untuk bisnis yg menghasilkan uang. yeaah dukung terus kakula

  3. Kambing Aqiqah 10 Juli 2013 / 3:19 pm

    I’m not sure exactly why but this weblog is loading very slow for me. Is anyone else having this issue or is it a issue on my end? I’ll check back
    later and see if the problem still exists.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s