Kegelisahan Sastrawan

Oleh : Adha Nadjemuddin

Palu (ANTARA News) – Matahari di langit Kota Palu Sabtu siang (23/4) terasa dekat sekali di ubun-ubun, tetapi tidak begitu terasa bagi kerumunan puluhan orang di taman Gor, Palu, Sulawesi Tengah.

Kerumunan orang itu tertata rapi berbentuk persegi empat. Mereka duduk bersila, beralas tikar, koran bekas, sebagian duduk di atas batu dan pondasi taman.

Mereka teduh di bawah pohon ketapang dan trembesi yang menjulang tinggi. Hanya sesekali sinar matahari menembus kerumunan itu dari celah-celah dedaunan Taman Gor.

Kerumunan orang-orang itu adalah komunitas kecil berlatar belakang sastrawan, seniman, wartawan, aktivis lembaga swadaya masyarakat, dan pengelola perpustakaan mini untuk rakyat.

Mereka mengikat diri dalam Aliansi Gerakan Peduli Sastra Palu. Hari itu penting bagi komunitas ini karena bertepatan Hari Buku Internasional, 23 April 2011.

Di tengah kerumunan orang-orang itu tersaji pisang goreng di kantongan plastik. Air mineral gelas juga sudah beredar. Di samping kerumunan itu tergeletak genset kecil dan satu alat pembesar suara. Mikrofon yang terhubung ke salon itu kurang bagus. Kabel audionya pendek sehingga suara terdengar kresek.

Hari itu sebuah buku berjudul “Menggugat Kebudayaan Tadulako dan Dero Poso” karya Jamrin Abubakar, wartawan muda di Palu, diluncurkan. Buku setebal 112 halaman itu sekaligus dibedah oleh Zulkifli Pagessa, seniman dari Palu. Neni Muhidin yang memoderatori acara itu membagi dalam beberapa sesi pertanyaan. Diskusi ditutup dengan pembacaan puisi oleh sastrawan senior Tjatjo Tuan Saichu alias TS Atjat dan Mochammad Noor Baso alias Nooral Baso.

Dua sastrawan itu telah memasuki usia senja. Nooral Baso lahir di Selayar, 27 Juli 1943. Sementara TS Atjat, jebolan Sastra Inggris, IKIP Makassar lahir di Tanjung Padang, Donggala, 27 Desember 1949.

Meski dalam usia senja, suara mereka masih menggelegar. Dari semangat merekalah nafas-nafas sastra di daerah ini terus tersambung hingga hari ini.

TS Atjat sempat membongkok dan memegang pinggulnya saat hendak berdiri meladeni permintaan moderator membacakan puisi yang sudah diterbitkan dalam bukunya “Catatan Seorang Pejalan Kaki”.

“Maklum sudah tua, berdiri pun sudah susah”, kata Atjat bercanda.

Mata pisau batin penyair ini masih tajam. Ia masih gelisah meski negeri ini telah merengkuh kemerdekaannya dari tangan penjajah.

Kegelisahannya itu kembali ia lontarkan di tengah kerumunan orang lewat bait-bait sajaknya. Dalam usia kemerdekaan 65 tahun Indonesia, ia masih merasakan ketidakadilan di negeri ini. Ia pun melukiskannya dalam puisi “Catatan Seorang Pejalan Kaki”.

Sudah enam puluh lima waktu
aku berjalan…dan terus berjalan
Malam larut
tapi aku tak mau larut

Aku berdiri di gedung proklamasi
nanar mataku mencari bentuk
Beberapa tetes keringat siang tadi
kuperah dalam pundi-pundi waktu
dan aku…pergi bersamadi

Aku menengadah
dengan tangan tertadah
Tetes tetes embun
menggoda tenggorokanku

Tanganku menggapai
batas antara waktu dan kerja
Aku terkulai lesu
di antara busur dan anak panah
yang aku sandang
Aku limbung
dihujat malam tanpa bintang

Atjat menggambarkan dirinya sebagai pejalanan kaki, karena memang dosen sastra di Universitas Alkhairaat ini paling senang berjalan kaki meski dirinya memiliki mobil dan sepeda motor. “Jalan kaki itu sehat,” katanya.

Jika Atjat berdiri, Nooral Baso justru memilih duduk bersilah saat membacakan puisinya. Kumpulan puisinya sudah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Soneta Comberan. Buku tersebut diterbitkan Dewan Kesenian Palu, 2009 memuat 31 karya puisinya.

“Soneta Comberan ini saya tulis 20 tahun lalu. Sebetulnya saya tidak mau terbitkan tetapi karena bujukan teman-teman akhirnya luluh juga hati saya,” katanya.

Soneta Comberan adalah salah satu judul puisi berisi kritikan demokrasi dan hak asasi. Bagi Nooral, demokrasi tak ubahnya sebuah dekorasi. Berikut ini empat bait dari 12 bait puisi Soneta Comberan.

Sepanjang jalan terpancang panji bernuansa hak asasi
apa saja melambangkan warna tersendiri
di tiap lorong dan lapangan penuh memori
berpacu saling mendahului katanya itu demokrasi

Tatanan lama dianggap kuno segera dipreteli
petuah moralitas semakin tak lagi berarti
nahkoda rumah tangga makin kehilangan simpati
tiap orang ingin tampil katanya itu citra jati

Alasan hak asasi mulai tawarkan harga mati
bahkan dituntut segalanya harus transparansi
tak peduli dengan itu pupuslah harga diri

Semutpun amat tegar dalam tatanan hewani
mungkin karena semangat tanpa ambisi komisi
mereka lebih santun dibanding mahluk insani

Sastrawan Mas`amah M Amin Syam menilai karya-karya puisi Atjat dan Nooral memiliki perbedaan mencolok, antara lain, puisi Atjat bait-bait puisinya lebih pendek, sementara Nooral lebih panjang. Meski begitu, tetapi keduanya memiliki ketajaman kritis terhadap realitas.

Koin Sastra dan Bazar Buku
Selain bedah buku di Hari Buku Internasional, komunitas ini juga menggalang donasi koin sastra. Gerakan ini dibangun atas kesadaran komunitas sastra di Palu untuk membantu Perpustakaan HB Jassin di Jakarta yang saat ini kondisinya kian memprihatinkan karena tidak terurus. “Kami ingin menyumbang koin untuk Perpustakaan HB Jassin,” kata Neni Muhidin, koordinator Alinasi Gerakan Peduli Sastra Palu.

HB Jassin atau Hans Bague Jassin adalah simbol dan citra sastrawan Indonesia. Jassin lahir di Gorontalo, 13 Juli 1917. Dia meninggal di Jakarta, 11 Maret 2000, pada umur 82 tahun. Dia dikenal sebagai pengarang, penyunting, dan kritikus sastra ternama dari Indonesia.

Dari donasi koin itu terkumpul uang sebanyak RpRp755.250. Menurut Neni, komunitas sastra tidak melihat jumlah uang terkumpul tetapi cara pengumpulan uang koin itu juga bagian dari krtitik terhadap pemerintah.

Perpustakaan HB Jassin yang selama ini dianggap sebagai koleksi sastra terbesar di dunia tidak terurus. Pemerintah lebih memilih membangun gedung DPR dengan nilai Rp1,2 triliun dibanding memperbaiki perpustakaan HB Jassin.

Menurut Neni, perpustakaan itu menyimpan 20 ribu buku fiksi, 12 ribu buku nonfiksi, 800 naskah drama, 16 ribu kliping sastra serta koleksi lainnya seperti rekaman suara, naskah tulisan tangan, naskah ketik, dan surat-surat pribadi. “Ini perpustakaan sastra Indonesia terbesar di dunia,” katanya.

Cara lain mengumpulkan uang untuk Perpustakaan HB Jassin, komunitas sastra ini juga menggelar bazar buku. Tak jauh dari kerumunan orang-orang yang duduk bersilah terdapat satu meja kira-kira ukuran 1 x 1,5 meter.

Di atasnya terdapat tumpukan buku yang dijejer rapi. Buku itu kebanyakan karya dari sastrawan di Sulteng, seperti TS Atjat, Mochammad Noor Baso, Mas`amah M Amin Syam. Ada juga buku karya dari wartawan Palu, Jamrin Abubakar. Buku kumpulan tulisan Goenawan Mohammad juga ada.

Tidak semua buku di atas meja itu dijual karena sebagian koleksi dari Perpustakaan Mini Nemu Buku, sebuah perpustakaan untuk rakyat. Bagi yang berminat boleh meminjam buku itu atau menggandakannya.

Sebanyak 50 persen dari hasil penjualan buku disumbangkan ke perpustakaan HB Jassin. Sisanya untuk pengelola perpustakaan mini.***

One thought on “Kegelisahan Sastrawan

  1. NANANG 9 Mei 2011 / 10:51 am

    mantap pak tua, terus berkarya mewaliki jurnalis di antara… khususnya susdape XV. ok salam buat keluarga di Palu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s