Wartawan “Perang” Itu Pergi Selamanya

Oleh : Adha Nadjemuddin

Rapat redaksi ANTARA Biro Sulawesi Tengah, Senin pagi (9/5/2011), mendadak berhenti ketika seorang lelaki menggunakan t-shirt hitam menyampaikan khabar duka kepada para karyawan.

Innalillahi wa inna illaihi raji’un, ucap peserta rapat hampir bersamaan. Sejenak peserta rapat menundukkan kepala mengirim doa kepada seorang wartawan senior di Sulteng, M Saleh Kamah yang menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 08.00 WITA.

“Rapat kita hentikan sejenak. Kita berduka. Senior kita Pak Saleh Kama meninggal dunia,” kata Kepala Biro Santoso saat memimpin rapat.

Beberapa menit kemudian, pesan singkat masuk ke telepon genggam Santoso dari Direktur Pemberitaan ANTARA Saiful Hadi, dan Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum Perum LKBN ANTARA Rajab Ritonga.

Mereka berduka dan meminta kepada Santoso segera membuat ucapan duka dan menyerahkan bantuan duka kepada keluarga almarhum.

Bagi dua petinggi ANTARA itu mengenal baik Saleh Kamah. Rajab Ritonga bahkan pernah menjadi penyunting buku “Wartawan Perang dari Irian Barat Hingga Timor-Timur” karya almarhum.

Di forum diskusi elektronik group (milis) ANTARA, ucapan bela sungkawa dari berbagai provinsi juga ramai. Kepergian Saleh Kamah tidak saja duka bagi ANTARA tetapi duka bagi sejarah pers di Sulteng. Ia salah seorang saksi penutur sejarah pers di Sulteng. Kepergiannya kian mengurangi tokoh-tokoh pers tempo dulu di daerah ini.

Saleh Kamah tidak saja menjadi salah seorang wartawan terbaik Kantor Berita Indonesia ini tetapi juga salah satu wartawan yang membawa harum nama Sulteng.

Saleh Kamah satu-satunya wartawan dari daerah penghasil kakao itu yang mendapat penghargaan Satya Lencana Seroja dari Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal AH. Nasution yang ditandatangani Menhankam Pangab Jenderal M Yusuf (1980).

Penghargaan itu diberikan kepada almarhum atas ketekunannya sebagai wartawan dan berani terjun di medan tempur seperti pergolakan Timor-Timur tahun 1975. Ia juga pernah mengliput pelaksanaan perjanjian lintas-batas (Border Crossing Agreement) Indonesia-Philipina.

“Pagi itu Dili digempur dari laut, darat dan udara. Saya, Jumaryo dan Ucin Nusirwan melompat dari sekoci pendarat. Begitu kaki menyentuh pasir, perasaan semakin membara. Saya sedang berada di medan pertempuran, pikirku,” kata Saleh dalam bukunya ‘Wartawan Perang.’

“Darah mengalir kencang, mendidih, tegang, konsentrasi penuh, untuk mengikuti gerakan pasukan terlatih. Kontak senjata terjadi di sektor antena Telkom. Satu peleton Fretelin yang menjaga Telkom langsung dilumpuhkan,” tulis Saleh Kama dalam bukunya itu.

Almarhum menjadi saksi dalam pertempuran di Dili yang menewaskan delapan prajurit, salah satunya Alex, Marinir asal Manado. Tubuh Alex diangkat dari sisi sebuah batu besar ke dalam panser.

Saleh Kamah menatap wajah Alex. Dia bahkan meneteskan air mata. Saleh kemudian menutup wajah Alex dengan handuk kecil yang melilit di lehernya.

“Saya arahkan pandangan ke tubuh prajurit lain yang tampak terbujur kaku,” kata lelaki berusia 77 tahun kurang tiga bulan saat meninggal dunia itu.

Saleh Kamah tidak saja wartawan “perang”, tetapi ia juga guru dan teladan bagi banyak wartawan di Palu, Makassar dan Manado, sampai ke Tidore. Meski sudah pensiun di ANTARA, tetapi aktifitas kewartawanannya tetap berjalan. Ia bahkan masih menerbitkan sejumlah buku.

Mantan Wartawan Kompas Helmy D Yambas, mengatakan Saleh Kamah adalah bapak bagi wartawan di Sulteng. Dia wartawan yang gigih berjuang, pekerja keras, sederhana dan humoris. “Almarhum patut menjadi contoh wartawan generasi sekarang,” kata Helmy.

Mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu yang juga wartawan The Jakarta Post Ruslan Sangadji mengatakan, salah satu yang patut diteladani dari almarhum adalah kesabarannya dan menjunjung etika dalam menjalankan tugas-tugas kewartawanan.

“Saya salah seorang murid dari almarhum. Yang saya tahu dari almarhum, saat ada informasi rahasia di zaman orde baru justru beliaulah yang mampu menembus. Ini karena pergaulan beliau yang mengedepankan nilai-nilai etika itu,” kata Ruslan Sangdji.

Rolex Malaha, salah seorang wartawan ANTARA mengakui dirinya pernah mendapat didikan langsung dari Saleh Kamah, saat awal dirinya masuk di ANTARA. Tidak saja soal ilmu-ilmu jurnalistik yang digelontorkan almarhum ke Rolex, termasuk soal makan. “Satu pesan yang sampai sekarang masih ingat betul dari beliau, wartawan jangan pernah memilih-milih makanan, kecuali yang haram. Karena wartawan harus siap tempur di medan mana saja,” kata Rolex.

Almarhum terakhir kali bertatap muka secara formal dengan seluruh wartawan dan staf Biro ANTARA Sulteng, 13 Desember 2010 bertepatan hari ulang tahun ANTARA ke-73.

Perayaan ulang tahun ANTARA ketika itu berlangsung sederhana di sebuah restoran di Palu. Sebagai senior dan kepala Biro ANTARA pertama di Sulteng tahun 1956, Saleh Kamah diminta memberikan wejangan ke segenap karyawan ANTARA.

“Saya membesarkan ANTARA di Palu dengan modal satu buah sepeda tua. Dengan sepeda itu saya pergi meliput dan mengantar buletin ANTARA. Kondisi waktu itu jauh berbeda dengan sekarang,” ujarnya mengenang pengalaman di awal dekade 70-an.

Saleh Kamah, salah seorang dari sedikit wartawan Indonesia yang memegang Press Card Number One (PCNO) dari komunitas Hari Pers Nasional yang beranggotakan sembilan organisasi pers terkemuka itu mengatakan, mestinya wartawan hari ini lebih hebat dari wartawan dulu. Alasannya, wartawan saat ini sudah ditunjang dengan peralatan berteknologi modern dan gaji yang relatif lebih baik. “Tapi kita sekarang kadang lemah dalam pendokumentasian, meski peralatan sudah modern,” katanya.

Menulis di Pembaringan

Pria kelahiran Gorontalo, 18 Agustus 1934 itu, mendadak jatuh sakit. Ia mengalami gangguan fungsi hati (liver) hingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit Sis Aljufri Palu, Senin 25 April 2011.

Ani, salah seorang menantu almarhum menuturkan, satu pekan sebelum almarhum menghembuskan nafas terakhirnya, mantan wartawan Pedoman Rakyat Makassar itu masih menulis di atas pembaringannya. Namun kali ini bukan karya jurnalistik, tetapi pesan-pesan kepada keluarga yang akan ditinggalkannya. “Banyak tulisan almarhum yang isinya berisi wasiat. Salah satu pesan almarhum, menjaga keutuhan keluarga,” kata Ani.

Almarhum meninggal di RS Aljufri Senin 9 April 2011, sekitar pukul 08.00 WITA. Ia meninggalkan seorang istri dan 10 anak dari dua istrinya. Istri pertamanya, Zainab lebih dulu meninggal dunia di Manado tahun 1990. Istri kedua almarhum, Regina, seorang muallaf dari Manado.

Saleh Kamah mulai belajar menjadi wartawan tahun 1953 di Harian Pedoman Rakyat, Makassar dan Harian Tinjau juga di Makassar.

Atas bimbingan kakaknya, M.A Kamah ia bergabung di Kantor Berita ANTARA tahun 1956 hingga akhirnya pensiun tahun 1982. Setelah itu almarhum tetap berkarya di dunia jurnalistik dan bergabung di Harian Angkatan Bersenjata, Berita Yuhda dan Harian Pedoman Rakyat Makassar. Selama bertugas di ANTARA, almarhum mendapat tugas di beberapa daerah salah satunya di Irian Barat dan Maluku.

Tekad almarhum seperti ditulis dalam bukunya ‘Catatan Seorang Wartawan’ adalah “sampai akhir hayat profesi ini (wartawan) tetap abadi di tubuh saya,” katanya.

Jasad almarhum kemudian dimakamkan di tempat peristihatannya yang terakhir Pemakaman Umum Pogego, Kecamatan Palu Barat. Jenazah almarhum diturunkan ke liang lahat diringi tetesan air mata ratusan pengunjung yang sebagian besar wartawan dan keluarganya sekitar pukul 16.00 WITA.***

6 thoughts on “Wartawan “Perang” Itu Pergi Selamanya

  1. Moh. Farid Kamah 18 Mei 2011 / 3:30 am

    Terima kasih bung adha Nadjemudin

    Moh. Farid Kamah
    (Putera Ke-2 Alm. MS. Kamah)

    • adha 23 Mei 2011 / 11:54 am

      Sama-sama Pak Farid. Semoga Almarhum mendapat tempat yang layak di sisih-Nya. Amiiin

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH 18 Mei 2011 / 4:58 am

    Terima kasih untuk Pak Nadjamudin atas kenangannya kepada paman kami tersayang.

    Iwan Kamah

    • Muh Nur Ivansyah 1 Juni 2011 / 12:38 am

      buku seroja almarhum masih ada saya simpan sampai saat ini

  3. moh. fadli kamah 8 Maret 2013 / 1:18 pm

    Tak mampu bicara bnyak hnya mampu meneteskan air mata.
    Terima kasih banyak atas smua penghargaan yg slama ini tlah d berikan kepada alm bpk kami tercinta.

    Wassalam.
    Putra ke-3 dr istri ke-2 alm. (Regina Parerungan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s