Spirit Musik Rebana di Atas Kanvas

Oleh Adha Nadjemuddin

Tangan kiri lelaki tua berkopiah hitam itu memegang alat musik rebana. Ia mencengkam kuat alat musik yang terbuat dari bulatan kayu terbungkus kulit sapi kering itu. Sementara tangan kanannya berusaha menabuh alat musik itu, namun tak kuasa karena terhalang tembok.

Seluruh wajah pria itu sudah keriput, sehingga tulang pipinya pun menonjol. Otot-otot lengannya juga tidak tampak lagi, tetapi ia tetap duduk tegap. Banyak besi tajam yang mengungkung badan lelaki tua itu hingga nyaris ia tidak bisa bergerak.

Itulah potret realitas di balik dunia musik tradisional rebana yang belakangan ini terancam punah akibat derasnya arus musik kontemporer yang menyeruak ke sendi-sendi karya musik anak remaja. Fakta inilah yang digoreskan pelukis Endeng Mursalim di atas kanvas seukuran 100 x 110 centimeter.

“Kita sudah kehilangan atraksi pukulan rebana. Dia tidak populer lagi di tengah lajunya perkembangan musik modern,” kata Endeng Mursalim.

Karya lukis itu dipajang di gang lantai satu mal Tatura Palu, bersama puluhan karya lukis lainnya dalam pameran lukisan bertajuk peduli kemanusiaan tsunami Jepang. Karya lukis realis itu dipampang di deretan tengah dari puluhan karya lukis yang dipamerkan. Pameran berlangsung sebulan. Dimulai 3 April 2011. Pameran itu menampilkan beragam tema seperti realis, abstrak, ekspresionis dan naturalis.

Karya lukis Endeng tersebut menceritakan ancaman musik tradisional rebana di Provinsi Sulawesi Tengah. Rebana yang dulunya populer sebagai musik tradisional masyarakat Sulteng kini sudah di ujung kepunahan. Musik ini hanya menjadi musik pesanan pada setiap acara seremonial pemerintah, pesta pernikahan, lomba seni, maupun pesta-pesta adat.

“Musik ini tidak murni lagi sebagai musik yang didengar setiap hari di tengah masyarakat kita. Musik ini kita dengar jika ada yang memesannya untuk acara tertentu,” kata pelukis pentolan pasar seni Ancol itu.

Ekspresi seorang kakek penabuh rebana dalam lukisan Endeng itu menggambarkan bahwa musik rebana hanya digemari di kalangan orang tua. Orang tua yang menguasai rebana pun sudah dalam ancaman kepunahan. Sementara di lain sisi generasi penerus rebana kian langka.

Besi-besi tajam yang mengungkung lelaki tua dalam lukisan itu menunjukkan betapa besarnya ancaman dari luar sehingga membuat musik rebana tertekan.

Karya-karya seni yang dipamerkan Endeng antara lain terinspirasi dari memudarnya minat masyarakat terhadap seni musik rebana. Banyak faktor penyebab kian tersudutnya musik bergaya timur tengah itu. Selain tidak adanya maestro, sanggar-sanggar seni rebana juga sepi dari hiruk pikuk perkembangan musik kontemporer.

“Sehingga kalau ada orang barat datang dan ingin mengunjungi pusat rebana, kita akan kesulitan menujukkan tempatnya,” kata Endeng.

Laman sentrarebana.com menyebutkan, rebana adalah alat musik tradisional berasal dari timur tengah dan dipakai untuk acara kesenian. Alat musik ini semakin meluas sampai ke Indonesia. Alat musik rebana biasanya juga dipakai untuk musik gambus, kasidah dan hadroh.

Tidak diketahui pasti kapan sejarah masuknya rebana di Sulteng, tetapi Endeng memperkirakan musik ini sudah masuk sebelum kedatangan Islam di daratan Sulteng abad 16 Masehi.

Selain rebana, penggunaan alat musik yang sama juga sudah menjadi tradisi masyarakat Sulteng adalah `gimba`. Alat musik ini menyerupai rebana hanya saja dapat ditabuh dari dua sisi, kanan dan kiri. Cara menabuhnya juga beda dengan rebana.

“Gimba adalah alat musik tradisional masyarakat asli Sulteng. Musik ini sudah ada sebelum masuknya Islam,” kata Endeng.

Belajar karena lomba

Sanggar seni bernuansa tradisional seperti gambus, kasidah (zamrah) dan rebana di daerah ini bisa dihitung dengan jari. Salah satunya sanggar Seni Sobogi, sebuah sanggar seni Islam dalam binaan remaja Islam masjid Baiturahim, Kelurahan Lolu Utara, Kota Palu. Sanggar seni ini terbilang muda. Ia baru muncul pada akhir tahun 2010 saat ada perlombaan zamrah di Palu.

“Waktu itu berawal dari belajar zamrah dan sekarang kami belajar rebana,” kata Nutvan, salah seorang anggota sanggar seni Sobogi.

Alat musik rebana tidak sulit diperoleh. Biasanya banyak dijual di toko-tokoh `sport`. Satu set terdiri dari beragam bunyi seperti suara bas dan bariton.

Saban malam seusai shalat isya belasan anak-anak usia sekolah dasar menabuh rebana di pojok masjid Baiturahim. Mereka belajar menabuh benda yang terbuat dari kayu bulat dibalut kulit sapi itu. Alat-alat rebana itu dibeli oleh pengurus risma untuk kepentingan latihan.

Seorang pria yang baru lulusan SMA menjadi mentor mereka. Ia memandu bagaimana menabuh rebana yang benar. Ia menunjukkan teknik memukul rebana berdasarkan jenis pukulannya. Ia pun mulai memberi komando, semacam tanda dimulainya gerakan penabuh.

Satuuuu, duaaaa, tiga. Anak-anak itu pun dengan lincah menabuh hingga menghasilkan bunyi yang bersahutan seperti layaknya mendengar tabuhan rebana yang dimainkan orang-orang tua di setiap pesta adat atau penjemputan tamu kunjungan kehormatan.

Belajar rebana tidak gampang. Untuk menghasilkan irama yang indah didengar, seorang pemain harus memiliki kepekaan mendengar, naluri irama musik, dan keterampilan menabuh. Seorang pemain tahu persis saat kapan waktu yang tepat mendaratkan jari ke alat musik itu.

Menabuh dengan satu jari tangan akan menghasilkan suara yang beda dengan menabuh tiga jari, meski objek yang dipukul sama. Menabuh dengan tiga jari dalam keadaan rapat pun akan menghasilkan bunyi yang beda dengan menabuh tiga jari dalam keadaan jari-jari terbuka. Menabuh di bagian pinggir, akan menghasilkan bunyi yang beda jika ditabuh di bagian tengah alat musik itu. Cukup rumit.

Dalam satu formulasi pukulan, pemain bisa memadukan tiga sampai emat jenis pukulan. Perpaduan jenis pukulan itulah menghasilkan keindahan bunyi.

“Makin banyak pemainnya makin bagus. Tapi biasanya kami bermain antara 10 sampai 12 orang,” kata Nutvan.

Nutvan yang baru menyelesaikan pendidikan di SMA mulai belajar memainkan rebana setelah ada perlombaan yang digelar oleh pemerintah daerah setempat tahun 2010. Nutvan biasanya berperan sebagai penabuh dengan gerakan cepat, seperti `fill in` dalam musik drum.

Rebana tidak sekadar menghasilkan bunyi tabuhan yang indah, tetapi ia juga dipadu dengan gerak langkah yang indah seirama dengan tabuhan rebananya. Begitu pula dengan lagunya, harus seirama dengan tabuhan dan langkah pemainnya.***(tulisan ini sudah menjadi hak siar dari ANTARA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s