Bandara Mutiara tak Seindah Namanya

oleh Adha Nadjemuddin

Belasan lelaki berseragam kemeja biru tua tergopo-gopo keluar pintu ruang kedatangan bandara. Di pundaknya tertumpuk barang bawaan. Tinggi sekali. Sehingga membuat posisi tubuhnya membongkok. Sebagian barang ia tenteng di tangan kanannya. Mereka bergegas keluar ruang kedatangan. Menerobos padatnya penumpang.

Tidak ada troli yang bisa membantu mereka. Kalaupun ada konstruksi ruang kedatangan itu juga tidak memungkinkan menggunakan troli karena banyak tangga yang harus dilalui. Ruang kedatangan itu tampaknya memang dibangun tidak mempertimbangkan teknis pemanfaatan troli.

Di ruang tunggu kedatangan, penumpang masih antre menunggu barang-barangnya dari pesawat. Di pojok sana, tampak beberapa orang asyik merokok. Asapnya mengepul ke mana-mana. Maklum selama di pesawat tidak ada ruang bagi perokok.

Sementara di luar, keluarga penjemput sudah padat. Mobil mereka sudah memadati ruang parkir. Nyaris tak ada lagi ruang kosong untuk mobil lain. Semuanya sesak dengan kendaraan. Tidak sedikit pengendara bersitegang lantaran berebut lahan parkir atau tersinggung karena mobilnya disenggol.

Begitulah kondisi terminal Bandara Mutiara Palu. Tidak bergengsi lagi seperti pada eranya. Kondisinya tidak seindah namanya. Daya tampung dan efisiensinya tidak sebanding lagi dengan laju pertumbuhan penumpang, perkembangan jumlah kendaraan dan pesatnya bisnis maskapai. Dimana-mana bandara itu dikeluhkan berbagai kalangan, tidak terkecuali anggota DPRD bahkan pemerintah daerah sendiri.

Bandara itu dianggap sudah ketinggalan dari sisi ketersediaan fasilitas, teknologi, luasan terminal dan panjang landasan pacu, kenyamanan serta keamanan. Ditambah lagi mulai padatnya jadwal penerbangan dan arus penumpang yang setiap tahunnya mengalami peningkatan sehingga menjadi pemicu kian banyaknya masalah.

“Satu-satunya bandara yang penumpangnya memikul barang bawaan karena tidak ada troli hanya bandara Mutiara. Ruang kedatangan yang panas. Sudah begitu, kebiasaan buruk masyarakat dengan merokok sehingga ruang kedatangan jadi pengap,” kata Tasrif Siara, seorang pengguna jasa terminal bandara Mutiara Palu.

Tasrif mengemukakan itu setelah dirinya membandingkan beberapa bandara yang pernah ia darati di Indonesia maupun luar negeri seperti New York, Jepang, dan Singapura. Dia mengatakan bandara adalah citra wajah kota. Penumpang yang turun di bandara umumnya langsung menuju kamar mandi/WC. Di Palu masih didapati WC terminal bandara yang jorok. “Kamar mandi itu adalah kesan pertama. Kalau kamar mandinya jorok, pasti kota itu juga jorok,” kata Tasrif.

Tasrif mengatakan, terminal bandara Mutiara Palu sudah tidak memberi rasa nyaman lagi bagi penumpang. Penumpang yang sebelumnya naik dari bandara Hasanuddin Makassar misalnya, setelah turun bandara Palu, selera jadi turun.

“Terus terang saya malu dengan kondisi terminal bandara kita hari ini. Sempit, panas, WC-nya jorok, area parkirnya mulai sempit. Modelnya juga sudah tua,” kata anggota DPRD Sulteng, Suprapto Dg Situru, pada suatu kesempatan.

Dari empat bandara di Sulteng, penumpang bandara Mutiara Palu masih terbanyak, menyusul bandara Syukuran Amir Luwuk (ibu kota Kabupaten Banggai), Bandara Lalos Kabupaten Tolitoli dan Bandara Pogogul, Kabupaten Buol.

Rata-rata penumpang di bandara Mutiara mencapai 2.000 orang perhari. Selama Oktober 2010 misalnya jumlah penumpang yang melewati bandara Mutiara Palu ini sebanyak 66.822 orang, atau mencapai 86,3 persen dari total jumlah penumpang di Sulteng. Bandara ini didarati enam maskapai yakni Merpati Nusantara Airlines, Garuda Indonesia Airlines, Lion Air, Wings Air, Sriwijaya Airlines, dan Batavia Air.

Masalah lain yang masih jadi perhatian serius pemerintah adalah panjang landasan pacu yang belum layak didarati pesawat berbadan lebar seperti airbus. Panjang bandara saat ini 2.225 meter. Jarak landasan pacu dengan apron (pelataran parkir pesawat) juga terlalu dekat. Dinas Perhubungan mengakui, bahwa kondisi ini rentan dengan kecelakaan penerbangan sebab memungkinkan ekor pesawat yang masuk ke apron bersinggungan dengan pesawat yang baru mendarat atau tinggal landas.

Segera Dibangun

Impian masyarakat Sulteng untuk memiliki bandara yang lebih baik segera terwujud paling lambat tahun 2013 mendatang menyusul rencana pemerintah membangun terminal yang repsentatif dengan kontruksi dua lantai.

Mantan Gubernur Sulteng, HB Paliudju sudah meletakkan batu pertama pembangunan titik nol terminal tersebut pada 19 Maret 2011. Terminal ini rencananya dibangun dalam tiga tahap dan dimulai pembangunannya tahun ini juga. Pemerintah telah mengalokasikan anggaran pembangunan tersebut sebanyak Rp130 miliar melalui dana APBN dengan luas areal 12 ribu meter persegi.

Desain terminal itu cukup mengagumkan di banding fisik terminal yang ada saat ini. Konstruksinya dua lantai. Model atapnya melengkung. Desain terminal ini mengusung konsep bangunan modern dan tradisional. Falsafah gedung ini diambil dari model kerang laut mutiara, seperti namanya bandara Mutiara.

“Kami mendesain sedemikian rupa mulai dari bentuk luar sampai interiornya. Sehingga ‘hall-hall’ (ruang/balai) yang ada di dalamnya lebih nyawan,” kata Kepala Dinas Perhubungan Sulteng, Bambang Sunaryo.

Sebagian bahan bangunan terminal berfungsi untuk kedap suara dan meredam getaran, sehingga penumpang tetap nyaman dan tidak terganggu suara bising pesawat.

Beberapa bagian dindingnya menggunakan kaca sehingga lebih hemat energi dan tampak terang benderang sepanjang hari. Dengan demikian, terjadi penghematan energi listrik sehingga tidak perlu menyalakan lampu listrik pada siang hari.

Bambang Sunaryo mengilustrasikan bandara Mutiara Palu nanti sebagai bandara yang elegan. Konstruksi bangunan di desain sedemikina rupa sehingga penumpang bisa betah di dalam ruang tunggu setelah ‘cek in’ maupun sebelum ‘cek in’.

Dari gambar terminal tersebut tampak pintu masuk ke pesawat dapat dilalui tiga pintu, sehingga memungkinkan tiga pesawat sekaligus mengatur penumpangnya secara bersamaan.

Bambang mengatakan, rencana induk pembangunan terminal bandara tersebut sudah dirancang sejak tahun 2004 namun baru disetujui oleh Dirjen Perhubungan Udara Departemen Perhubungan tahun 2006. Berdasarkan rencana induk tersebut, pembangunan terminal digeser ke sebelah barat apron sehingga terminal yang ada saat ini akan dibongkar total.

Rencana pembangunan terminal juga merancang pintu gerbang masuk ke bandara dengan mengusung konsep lingkungan yang hijau. Sehingga jalan pintu masuk terminal bandara akan ditanami jejeran pepohonan. Konsep ini tidak sekadar peneduh di lapangan parkir atau pun fungsi penghijauan, tetapi juga berfungsi meredam kebisingan suara pesawat dan menyerap volusi asap.

Mantan Gubernur, HB Paliudju mengatakan, nama Bandara Mutiara Palu sudah akrab dengan masyarakat Sulteng. Nama tersebut diberikan oleh Presiden Soekarno saat mendarat di Palu tahun 1965.

Paliudju mengatakan pembangunan terminal bandara Palu sangat strategis karena Palu berada di titik sentral Indonesia. Dia mengatakan, jika posisi Kota Palu landai sehingga ibu kota negara sangat tepat di Palu karena berada di tengah-tengah antara Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur.

“Saya tahu persis bagaimana usaha pembangunan bandara mutiara Palu ini. Ketika Menhub masih dijabat Agum Gemelar, kita sudah mengajukan anggaran pembangunannya sebesar Rp80 miliar. Di setujui hanya Rp30 miliar. Tetapi hanya Rp10 miliar yang turun. Akhirnya tidak jadi,” kata Paliudju.

Selain pembangunan terminal, pemerintah juga akan memperpanjang landasan pacu sepanjang 250 sehingga total panjang landasan pacu bisa mencapai 2.500 meter. Bambang mengatakan, dengan penambahan bandara itu diharapkan sudah bisa didarati pesawat berbadan lebar seperti airbuss.

Embarkasi Haji

Salah satu mimpi pemerintah daerah adalah menjadikan bandara Mutiara Palu sebagai embarkasi haji. Sejak tahun 2005 Sulteng bergabung dengan embarkasi Spinggal, Balikpapan. Sebelumnya, Sulteng masih bergabung dengan embarkasi Ujungpadang bersama dengan provinsi lainnya yakni Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara dan Papua. . Pada setiap musim haji, calon haji diterbangkan dari bandara Mutiara Palu ke Balikpapan dengan dua kali penerbangan dalam sehari.

Kementerian Agama memilih embarkasi Balikpapan karena biaya domestik lebih kurah sebab calon haji tidak lagi menginap semalam di hotel sehingga langsung masuk ke asrama haji. Saat masih di embarkasi Makassar, calon haji harus menginap semalam di hotel baru kemudian masuk asrama sehingga jamaah harus mengeluarkan biaya hotel.

“Target pemerintah dengan selesainya pembangunan terminal bandara dan landasan pacu sehingga Sulteng sudah bisa menjadi embarkasi sendiri,” kata Paliudju.

Jumlah calon haji asal Sulteng pada musim haji tahun 2010 sebanyak 1.863 orang yang dibagi dalam lima kelompok terbang penuh dan satu kelompok terbang gabungan dengan calon haji dari Kalimantan Timur. Sulteng memungkinkan menjadi embarkasi sendiri dengan dukungan daerah lainnya seperti Provinsi Gorontalo dan Sulawesi Barat.****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s