Longki dan Tradisi Bersepeda Kita

oleh : Adha Nadjemuddin

Belum sebulan menjabat Gubernur Sulteng, Longki Djanggola, sudah menghentak publik khususnya di kalangan pegawai negeri sipil. Salah satu kebijakannya, setiap hari Jumat pegawai negeri sipil di lingkungan sekretariat pemerintah provinsi pergi pulang kantor naik sepeda. Tidak terkecuali gubernur. Kebijakan ini juga nanti akan diberlakukan di semua dinas, badan, kantor, dan unit pelayanan publik pemerintahan lainnya. Tradisi pegawai tempo dulu saat sepeda motor dan mobil masih langka serta anggaran negara masih terbatas membeli kendaraan dinas, perlu dibangun kembali. Kelihatannya Longki ingin memulai itu.

Dari perspektif manfaat, tentu saja kebijakan Longki itu banyak manfaatnya. Meski sebetulnya, kebijakan Longki itu bukan yang pertama di Indonesia, termasuk di Sulteng. Setahun lalu, Bupati Tolitoli Saleh Bantilan sudah menginstruksikan kepada seluruh pegawainya agar hari Jumat naik sepeda saja pergi pulang kantor. Kebijakan ini bikin pusing pegawai. Mereka harus mencari duit lagi untuk membeli sepeda. Dicicit sekalipun.

Saya mencatat ada delapan substansi kebijakan Longki Djanggola itu. Pertama mengurangi emisi yang dihasilkan knalpot kendaraan. Selama ini saya belum mendengar mobil-mobil dinas di lingkungan pemerintah provinsi mendapat uji emisi. Jangan-jangan baku mutu gas karbon yang keluar dari knalpot kendaraan dinas itu sudah melebihi ambang. Ini juga patut diperiksa oleh Badan Lingkungan Hidup.

Mungkin ada yang berpikir bahwa dampak gas buangan kendaraan di Palu masih rendah di banding kota-kota besar. Tetapi faktor lain perlu juga diingat. Bahwa buruknya polusi udara di Palu saat ini tidak saja dari knalpot kendaraan tetapi juga bersumber dari industri penjualan emas, pabrik, penggunaan udara pendingin, asap rokok, penggunaan merkuri dan sianida di tambang emas Poboya. Merkuri dan sianida tidak saja lepas ke udara tetapi bahan-bahan ini masuk sampai ke bawah tanah. Ia bisa mengendap hingga belasan tahun baru bisa terurai.

Pernah kita berpikir bahwa setiap bulan mobil yang keluar dari dealer di KOta Palu mencapai 300 unit untuk semua jenis mobil. Setahun sekitar 3.600 unit. Sepeda motor jauh lebih banyak lagi. Tidak perlu jauh-jauh meneliti. Lihat saja di rumah kita sendiri atau rumah tetangga. Sudah jarang sekali satu rumah hanya miliki satu unit sepeda motor. Paling sedikit dua motor. Jika seluruh kendaraan itu bergerak dalam sehari bisa dibayangkan berapa banyak emisi yang dikeluarkan.

Manfaat kedua, dengan bersepeda akan mengurangi kemacetan jalan raya. Seperti Anda tahu, Kota Palu belakangan ini cukup padat. Apalagi hari Jumat menjelang jam pulang kantor. Minta ampun, banyak jalan macet.

Tiga, dengan mengayun sepeda tubuh diolahragakan sehingga lebih sehat. Lebih segar. Pegawai bisa terbiasa berolahraga meski hanya sekali sepekan sehingga terhindar dari penyakit. Pegawai yang sehat, kerjanya bisa lebih bersemangat. Pelayanan di kantor-kantor pemerintah lancar. Tidak ada tunggakan pekerjaan lagi.

Empat, dengan naik sepeda ke kantor tidak ada lagi kasta kendaraan di lingkungan kantor. Semua sama menggunakan sepeda. Yang membedakan mungkin hanya soal harga sepeda, merek, dan aksesorisnya. Bisa dibayangkan selama ini kasta kendaraan di kantor begitu hebatnya. Ada yang menggunakan Fortuner dan CRV. Harganya lumayan mahal, Rp250 juta sampai Rp400 juta per unit. Sementara ada pegawai negeri yang seumur hidupnya masih menggunakan sepeda motor.

Lima, tercipta rasa kebersamaan. Sesama pegawai negeri sipil bisa lebih egaliter. Sama-sama capek, sama-sama kena matahari langsung, sama-sama berpeluh. Pegawai rendahan dan atasan semua merasakan sama. Bisa dibayangkan, kepala dinas misalnya, sejak 25-30 tahun menjadi pegawai negeri sipil belum pernah naik sepeda ke kantor. Praktis kebijakan gubernur itu mengejutkan banyak pegawai. Psikologi mereka juga bisa kaget sebab dengan naik sepeda ke kantor ada yang merasa martabat mereka bisa turun. Dengan naik sepeda gengsi mereka turun karena selama ini selalu naik mobil dinas ke kantor meski disadari mobil-mobil itu dibeli dari hasil pajak.

Enam, dengan bersepeda bisa lebih hemat anggaran bahan bakar dan mobil dinas bisa diistirahatkan beberapa jam. Tujuh, melahirkan tenggang rasa dan sosial. Dengan bersepeda pegawai negeri sipil juga bisa merasakan penderitaan para pekerja yang hanya menggunakan sepeda mencari nafkah. Mereka itu, sudah tahunan mencari nafkah hanya mengandalkan sepeda. Sementara pegawai negeri hanya diminta satu dua jam sepekan. Hanya saat menuju dan pulang kantor saja.

Delapan, membudayakan bersepeda juga bisa mendorong penjualan sepeda. Bisnis penjualan sparepart bisa hidup lagi. Begitu halnya bengkel-bengkel sepeda yang dulunya sudah mau tutup karena sudah jarang sepeda bengkel itu bisa hidup kembali.

Bagaimana kalau tetap naik kendaraan ke kantor, lalu kendaraannya di parkir di luar halaman. Tentu saja ini tidak ada artinya. Justru hanya melahirkan kesadaran palsu, hanya kepura-puraan saja. Ini sama artinya mendustai kebijakan gubernur, bukan menjalankan kebijakan berdasarkan substansinya. Inilah model kesadaran kita hari ini. Yakni kesadaraan palsu. Jika aparat pemerintah saja kasadarannya masih palsu bagaimana dengan masyarakat luas. Entahlah…

Sisi lain kebijakan Gubernur Longki Djanggola itu butuh proses. Tidak serta merta langsung bisa dilaksanakan hari ini juga, sebab butuh modal untuk beli sepeda. Butuh kesiapan mental pegawai negeri sipil. Butuh kesadaran. Perlu regulasi dan sebagainya. Kebijakan gubernur itu perlu diterjemahkan lagi sehingga tidak menimbulkan resistensi, sebab harga satu unit sepeda saat ini tidak semurah kopi susu. Apalagi bagi seorang pegawai gengsi, tentu saja dia tidak ingin sepeda murahan. Kendatipun itu dicicil.

Tidak bisa dipungkiri jika ada yang kaget dengan kebijakan gubernur itu, karena kita tidak terbiasa keluar dari kebiasaan. Longki justru melakukan itu. Mestinya kebijakan ini perlu ditiru oleh bupati/wali kota. Bila perlu, dijadikan tradisi di tengah masyarakat kita bahwa bersepeda itu baik dan perlu.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s