Milad dan Nasib Para Pengabdi Alkhairaat

oleh Adha Nadjemuddin

Malam itu ratusan santri di pondok pesantren Madinatul Ilmu Alkhairaat Dolo, Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah baru saja selesai makam malam. Dari luar kompleks, Ustadz Manan bergegas masuk di arena pesantren itu.

Ia harus mengontrol aktivitas anak-anak santri di pesantren yang terletak sekitar 10 kilometer dari arah selatan Kota Palu itu. Ustadz Manan sejak lulus Madrasah Aliyah Alkhairaat 10 tahun silam sudah mengabdikan dirinya di sekolah-sekolah Alkhairaat. Pertama kali diangkat menjadi guru Tsanawiyah Alkhairaat di Donggala.

“Sejak selesai sekolah kami sudah diajarkan mengabdi untuk Alkhairaat, sehingga dimana pun kami ditempatkan dengan ikhlas kami menerimanya,” kata Manan, Kamis.

Empat tahun mengabdi, Manan kemudian melanjutkan kuliah di Alkhairaat. Sambil kuliah ia tetap mengajar, dengan jadwal sedikit lebih longgar.

Selepas kuliah ia kemudian melanjutkan kembali pengabdiannya sebagai guru. Kali ini pria yang masih bujangan itu ditempatkan lebih jauh lagi, di Kabupaten Morowali, sekitar 650 kilometer dari Kota Palu. Di Kabupaten berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tenggara itu, Manan mengajar di Madrasah Aliyah.

Setahun lebih di Morowali, Manan ditarik ke pesantren Madinatul Ilmi Dolo, salah satu pesantren Alkhairaat yang dibangun tahun 1992. Pesantren itu setiap tahunnya menampung 350 lebih siswa tingkat tsanawiyah dan aliyah. Sebagian dari santri adalah anak-anak yatim dari berbagai daerah.

“Prinsip utama hidup kami adalah mengabdi untuk Alkhairaat. Berapapun kami digaji tidak menghambat semangat untuk mengajar,” kata Manan.

Selam menjadi pengabdi di Alkhairaat, Manan paling banyak menerima gaji Rp400 ribu per bulan. Itu sudah gaji tertinggi yang pernah ia terima. Kadang sebulan hanya menerima gaji Rp300 ribu. Itu pun kadang terlambat hingga sebulan. Tapi Manan tidak pernah mengeluh. “Dengan mengabdi untuk Alkhairaat ada-ada saja rezeki masuk. Gaji Rp300 ribu tetap cukup untuk makan sebulan,” katanya.

Manan hanyalah satu dari ribuan pengabdi di sekolah-sekolah Alkhairaat yang tersebar di 22 kabupaten/kota di Indonesia. Masih banyak pengabdi lainnya yang semangat dan keikhlasannya sama dengan Manan. Bahkan lebih dari itu. Mereka menyerahkan hidupnya hingga berkalangtanah di Alkhairaat.

Mereka rela berkeringat untuk pengembangan Alkhairaat. Sejak tahun 1930 Alkhairaat telah m endidirkan sekolah di Palu. Melalui pendirinya Habib Sayid Idrus bin Salim Aljufri, Alkhairaat telah menyebarkan ratusan ribu guru di pelosok-pelosok kampung.

Alkhairaat telah membebaskan masyarakat dari belenggu buta aksara jauh sebelum Indonesia merdeka. Saat ini sekolah Alkhairaat telah berkembang pesat di semua jenjang pendidikan dengan jumlah sekolah mencapai 1.700 unit. Selain sekolah, Alkhairaat juga memiliki 43 pondok pesantren dan satu perguruan tinggi berpusat di Palu.

2 Juli 2011, Alkhairaat akan melaksanakan milad atau hari jadinya dalam usia 81 tahun. Milad dipusatkan di Pesantren Alkhairaat Wosu, Kabupaten Morowali. Dijadwalkan, Wakil Presiden Boediono dan empat menteri kabinet akan menghadiri acara itu.

Empat menteri tersebut adalah Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, Menteri Agama Suryadharma Ali, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, dan Menteri Sosial Salim Segaf Aljufri.

Dua menteri terakhir yakni Fadel dan Salim adalah masuk dalam jajaran Pengurus Besar Alkhairaat. Salim menjabat sebagai ketua dewan ulama Alkhairaat Pusat sementara Fadel sebagai Ketua Yayasan Alkhairaat.

Salah satu agenda penting dalam milad tersebut adalah pertemuan atau halaqah perwakilan guru dari 1.700 madrasah Alkhairaat yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Indonesia. Empat menteri dijadwalkan memberikan materi dalam milad yang berlangsung tanggal 2 hingga 3 Juli tersebut.

“Satu sekolah diwakili satu guru, tetapi ada yang meminta hadir dua orang. Kemungkinan guru yang hadir berkisar 2.000 orang,” kata Ketua Panitia Milad, Hamdan Rampadio.

Salah satu agenda penting dari Milad itu juga adalah penjelasan teknis dari Pengurus Besar Alkhairaat tentang Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Alkhairaat.

Utang Pemerintah

Aktivis pemuda Alkhairaat, Faisal Attamimi berpendapat bahwa pemerintah telah berutang kepada sekolah-sekolah agama maupun pesantren karena jauh sebelum Indonesia merdeka, pesantren lebih dulu mencerdaskan bangsa. Tidak sedikit pentolan santri era sebelum kemerdekaan menjadi tokoh yang dikenal dan berpengaruh di Indonesia. Namanya pun kemudian dikenang hingga saat ini. Salah satunya adalah pendiri Alkhairaat, Habib Idrus bin Salim Aljufri atau “guru tua”.

“Kalau kemudian pemerintah membiayai sekolah-sekolah agama dan pesantren hari ini itu sebetulnya hanya untuk membayar utang,” kata Faisal mengutip pembicaraan Menetri Agama Mohammad Nuh dalam berbagai kesempatan.

Faisal Attamimi adalah salah seorang murid pentolan sekolah Alkhairaat. Ia menyelesaikan studi di Alkhairaat hingga tamat di Madrasah Aliyah. Saat ini, Faisal sedang menyelesaikan program doktor di Universitas Islam Negeri Hidayatullah Jakarta.

Menurut Faisal, kesejahteraan guru Alkhairaat bukan lagi rahasia. Di mana-mana banyak orang prihatin, padahal di sisi lain Alkhairaat telah banyak menyumbang untuk negeri khususnya di bidang dakwah dan pendidikan.

Alkhairaat kata dia tidak pernah menuntut kepada pemerintah agar menyokong pembiayaan pendidikannya. Mestinya pemerintalah yang kemudian bersikap tegas untuk membantu Alkhairaat.

Bagi Faisal, para pengabdi di Alkhairaat tujuan utamanya bukan mencari kesejahteraan melainkan karena dorongan dan keikhlasan untuk melanjutkan perjuangan dan keberkahan dari “guru tua”. Kondisi inilah yang membuat Alkhairaat hingga kini tetap eksis.

“Terpenting sekarang bagaimana pemerintah bisa membantu Alkhairaat, paling tidak gaji guru-guru bisa ditingkatkan,” kata Faisal.

Menurut Faisal tingkat kesejahteraan guru menjadi penting karena akan berpengaruh pada peningkatan sumber daya manusia. Jika kesejahteraan guru meningkat, konsentrasi mereka mengajar dan kesempatan meningkatkan sumber daya akan lebih banyak. Kesejahteraan dan kualitas sumber daya berjalan beriringan. Satu sama lainnya saling memberi pengaruh.

Di suatu kesempatan, Ketua Utama Alkhairaat Habib Saggaf Aljufri, cucu dari pendiri Alkhairaat, mengatakan, Alkhairaat hanya dipandang sebelah mata dan hanya dibutuhkan bila ada pemilihan presiden (Pilpres) untuk mencari dukungan di komunitas ormas Islam tersebut. “Kami didatangi saat ada kepentingan saja,” kata Saggaf.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulteng ini mengatakan Alkhairaat berkontribusi besar dalam memajukan pendidikan di kasawasan timur Indonesia, sejajar dengan ormas Islam lainnya, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Bedanya, kata dia, NU dan Muhammadiyah berpusat di Jawa sementara Alkhairaat berpusat di kawasan timur Indonesia. Celakanya, kata dia, hanya dua ormas Islam itu yang mendapat dana anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). “Kita Alkhairaat seperti tak direken,” ujar anggota Dewan Perwakilan Daerah ini.****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s