Menjengkuk Maestro “Kakula” di Usia Senja

Adha Nadjemuddin

Empat hari sebelum Katija berangkat ke Jakarta memenuhi undangan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, saya menemui perempuan berusia sekitar 70 tahun ini. Saya menembus terik matahari Kota Palu hanya untuk mengetahui kondisi ibu Katija. Saya mau dapat gambaran bagaimana wajah ibu Katija, kondisi rumahnya, alat musik yang dia punyai. Bagaimana pula ekspresi dan perasaannya ketika mendapat kabar bahwa dirinya mendapat penghargaan sebagai maestro seniman tradisi “kakula” dari pemerintah.

Berikut catatannya:

Pagar beton batako di sebuah rumah Jalan Lekatu, Kelurahan Tavanjuka, Kota Palu, Sulawesi Tengah, sebagian sudah roboh. Sebagian batakonya jatuh ke selokan. Pintu pagarnya tidak berfungsi lagi membuat sepeda motorku enteng masuk ke pekarangan rumahnya. Pohon delima di depan rumah itu, cukup menghalau motorku dari panasnya matahari.

Siang itu pintu rumah tertutup rapat. Pikirku, ibu Katija sedang istirahat. Selangkah naik ke teras, suhu panas dari atap seng menyambar kulitku. Tiga kali saya memberi salam, tidak ada balasan dari dalam rumah. Sesaat kemudian, lelaki tua membuka pintu. Dia ternyata pak Mohammad, kakak kandung ibu Katija. Usianya sekitar 80 tahun. Dia mempersilahkan saya masuk.

Supaya akrab, saya berkomunikasi pakai bahasa Kaili, bahasa lokal penduduk Palu. Semua sudut dan langit-langit rumah saya perhatikan. Rumah kontruksi beton itu sudah cukup tua. Sebagian sudut-sudutnya sudah retak. Tidak ada plafon yang bisa menahan panasnya atap seng. Di ruang tamu hanya ada empat kursi rotan tua dan sebuah meja tidak bertaplak. Di ruang tengah sebuah televisi 14 inci dan satu video compact disk/VCD terletak di atas meja rotan. Posisinya tepat di sudut ruangan. Di depan televisi itu terhampar kasur kapuk ukuran kecil dialas seprai berbunga biru. Di rumah itulah, Katija dan kakak tertuanya Mohammad bermukim. Dua bersaudara ini ahli main musik.

Sesaat kemudian, Katija keluar dari ruang tengah menemui saya. Saya terharu, ternyata benar Katija sudah tua. Siang itu ia memakai jilbab kuning dipadu daster berbunga merah. Pipinya sudah kriput. Badannya kurus terbungkus kulit. Punggungnya tidak tegap lagi. Dari balutan wajahnya tampak bercahaya. Sesekali ia melempar senyumnya.

Tanggal 6 Juli nanti, Katija akan mendapat penghargaan dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata sebagai maestro seniman tradisi 2011. Perempuan ini salah seorang penggiat seni yang konsisten merevitalisasi musik kakula, sebuah musik tradisi suku Kaili, di Sulawesi Tengah.

“Saya belajar kakula sejak masih anak-anak,” katanya.

Kakula adalah seperangkat alat musik terbuat dari tembaga menyerupai kolintang (alat musik pukul yang disusun berderet dan dipasang di atas sebuah bak kayu). Kakula berfungsi sebagai melodi dengan iringan dua buah gong atau tawa-tawa serta dua buah gimba (sejenis gendang).

Kakula biasanya dimainkan saat pesta pernikahan, upacara gunting rambut, sunatan, tamat mengaji atau pun kegiatan seremonial pemerintah.

Zaman dulu, lima hari menjelang pesta pernikahan, irama kakula sudah bertalu-talu di rumah calon pengantin perempuan. Musik itu sebagai penanda bahwa di rumah itu akan ada pesta.

Musik kakula adalah warisan tradisi masyarakat Kaili tempo dulu. Irama musik ini beragam seperti ‘ndua-ndua’ dan ‘sarandayo’.

“Saat penjemputan calon pengantin laki-laki misalnya, biasanya pakai irama ‘ndua-ndua’. Begitu juga saat memandikan pasangan pengantin di depan pintu, iramanya pakai ‘ndua-ndua,” kata Katija.

Katija belajar kakula secara otodidak. Ibunya, Siti Arafah memang pemain kakula pada masanya. Ayahnya, Paliwaya juga ahli main musik khususnya alat musik petik dan menabuh gong.

Awalnya Katija belajar dari kayu ketapang yang sudah kering. Setiap bilah dari kayu itu punya bunyi khas sendiri. Setiap kali ia mendengar ibunya memainkan kakula, Katija meniru pukulan kakula itu. Ia terus eksis mendalami musik kakula ini.

Dari bakatnya itulah, Katija kemudian konsisten mempelajari kakula dan mengajarkannya kepada orang-orang. Ia kemudian dikenal ahli memainkan kakula.

Setiap pesta pernikahan atau pun kegiatan seremonial yang dilaksanakan pemerintah, ia diundang. Katija kemudian menjadi simbol pewaris kakula yang konsisten. Dimana-mana ia diundang. Dari sanalah Katija bisa mendapat uang untuk membiayai hidupnya.

Sekali main, Katija tidak pernah mematok harga. Tetapi biasanya ia dibayar Rp500 ribu sampai Rp700 ribu. Uang ini kemudian dibagi kepada penabuh gimba dan penabuh gong.

Katija kini hidup dalam usia senja. Usianya pun sudah ia lupa. Tetapi diperkirakan 67-70 tahun. Badannya kurus hanya terbungkus kulit. Meski begitu, jemarinya masih lincah memetik gitar dan memukul kakula.

“Sekarang saya kurang sehat, makanya lebih banyak istirahat,” katanya.

Katija hidup menjanda sejak suaminya Mahuna meninggal dunia, sekitar 30 tahun silam. Ia tidak punya anak. Rumah yang ia tempati saat ini adalah warisan dari suaminya. Saat masih hidup, Mahuna bekerja sebagai pegawai negeri dengan keahlian mengendari mobil. Ponakannya sering datang ke rumah itu menjenguk dan membantu Katija.

Katija, satu-satunya saudara perempuan dari lima bersaudara. Semua saudaranya pandai memainkan musik. Mohammad, kakak tertuanya ahli memainkan biola. Ia masih menyimpan sebuah biola yang usianya lebih tua dari usianya sendiri. Satu biola lagi hadiah dari keluarganya sekitar lima tahun lalu. Biola itu terus ia rawat layaknya merawat balita.

Mohammad masih beruntung karena bisa memiliki alat musik meski hanya pemberian orang. Sementara Katija, keinginannya untuk memiliki alat musik kakula tak kunjung sampai. Keterbatasan ekonomi menjadi penghalang baginya mendapatkan perangkat musik tradisi itu. Ia hanya punya satu gitar. Itu pun kadang berpindah tangan dipinjam keluarganya. Setiap kali mendapat undangan, ia hanya menyewa perangkat kakula milik orang lain.

“Biasa juga saya hanya diundang main kakula saja. Alatnya sudah disiapkan. Sampai sekarang saya tidak mampu beli kakula,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Mimpi Katija untuk memiliki alat musik kakula hingga kini belum padam. Ia masih bermimpi sewaktu-waktu bisa memiliki barang itu.

Tanpa alat musik, bukan menjadi penghalang baginya mengajari teknik memainkan kakula. Banyak yang minta diajari kakula terutama saat dirinya memainkan kakula di acara pesta pernikahan.

“Tapi jarang sekali perempuan yang minta diajari,” katanya.

Karena tidak adanya alat musik itu, Katija sulit mempragakan kakula, saat wartawan meminta dirinya memainkan kakula. Sebagai gantinya, ia hanya memutar video. Dalam video itu Katija tampak memainkan gitar dan menabuh kakula. Sesekali ia menutup wajahnya dengan jari saat wajahnya terpampang di layar kaca.

“Saya tidak tahu kalau ini direkam. Saya kaget setelah diberikan CD-nya,” kata Katija.

Revitalisasi Kakula

Budayawan yang juga Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Sulawesi Tengah, Amin Abdullah berpendapat, Katija mempunyai ciri tersendiri dalam memainkan kakula, sehingga berbeda dengan generasi di zaman ibunya. Misalnya, dia menambahkan kakula dengan melodi orkes gambus.

“Tradisi atau adat buat Katija adalah sesuatu yang berkembang, bukan sesuatu yang statis atau kaku. Dia mengembangkan melodi kakula tradisi seperti ‘ndua-ndua’ dengan improvisasi atau bunga-bunga yang dikembangkannya sendiri,” kata Amin Abdullah yang juga pengamat kebudayaan Sulteng itu.

Tahun 2006, Katija terlibat dalam program Revitalisasi Kakula yang diadakan oleh Dewan Pembina dan Pengembang Budaya Kaili. Pelatihan itu dilaksanakan di rumah Katija menggunakan alat kakula milik salah satu sanggar seni di kelurahan tempat ia tinggal.

Menurut Amin, dari sekian banyak lokasi pelatihan yang dilakukan di Kota Palu, pelatihan yang dilakukan di rumah Katija terhitung sukses.

“Ibu Katija dengan senang hati melatih anak-anak muda sehingga membuat hampir seluruh peserta pelatihan dapat memainkan kakula dengan baik,” kata Amin.

Tahun 1960-an, Katija pernah diundang di Radio Republik Indonesia Stasion Palu untuk memainkan kakula dan gitar karambangan. Acara itu disiarkan langsung. Menurut Amin, sebagai seorang wanita yang dapat memainkan gitar karambangan adalah hal yang luar biasa pada zaman itu.

6 Juli 2011 nanti, Katija akan mendapat penghargaan sebagai Maestro Seniman Tradisi 2011 dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Acaranya akan berlangsung di Jakarta Convention Center Hall Jakarta.

“Saya tidak pernah bermimpi mendapat penghargaan seperti ini,” kata Katija.

Menurut Amin, penghargaan terhadap Kadija tersebut tidak terlepas dari usaha Dewan Pembina dan Pengembang Budaya Kaili dengan kerja sama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Tengah yang melakukan revitalisasi Kakula di tahun 2006-2008.(adha)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s