Catatan Peluncuran RadarTV

Adha Nadjemuddin

Salah satu kesibukan kerabat kerja RadarTV (foto:fbradartv)
Sekitar 15 menit lagi live dialog khusus malam itu digelar di RadarTV, sebuah stasiun televisi lokal di Palu. Sejumlah kerabat kerja sibuk membenahi perangkat siaran untuk kesuksesan acara itu. Empat kamerawan segera memasang tiang penyangga kamera masing-masing. Mereka dilengkapi earphone yang menutupi dua permukaan telinga sehingga memudahkan komunikasi dengan rekan kerja mereka di ruang kontrol.

Kerabat kerja yang lain sibuk menata cahaya lampu. Ada pula kerabat kerja yang merapikan kabel dan menyuplai setrum. Sementara dari ruang kontrol, dua kerabat kerja memonitor komposisi objek yang terekam kamera. Sesekali keduanya memberi aba-aba kepada empat kamerawan melalui earphone. Para kerabat kerja itu berseragam kemeja lengan panjang hitam berlogo RTV di dada kiri.

Malam itu pimpinan redaksi RadarTV, Abdi Mari, turun tangan. Sesekali ia menyetel kamera, memonitor layar televisi dan mendengar audio. Sesekali ia meminta produser acara memperhatikan sudut pengambilan gambar dan komposisi ruang pandang di layar kaca. Abdi, baru saja meminta tolong seorang siswa yang magang di stasiun televisi itu membeli makanan ringan dan teh kotak untuk disuguhkan ke narasumber yang akan tampil malam itu.

Di ruang redaksi lantai III, yang hanya bersebelahan dinding dengan studio on air, juga tamak kerabat kerja yang lain sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Kerabat kerja yang sudah lepas tugas, ada yang mengutak atik facebook, ada pula sibuk dengan blackberry mereka. Tapi mereka tetap siaga. Kapan tempo dimintai tolong oleh pimpinan redaksi, mereka pun langsung bergegas.

Dalam suasana kerja seperti itu, jika Anda bertandang ke sana, Anda tidak akan dihiraukan. Silahkan Anda menunggu di ruang tamu. Kalau Anda ingin merekok, harus keluar pagar karena tidak ada satu jengkal pun ruang bagi perokok di area gedung yang seatap dengan Harian Radar Sulteng itu. Karyawan sibuk dengan tugas dan tanggungjawabnya masing-masing.

Dalam situasi rehat, Kamil Badrun, bos besar di perusahaan itu biasanya menghampiri para karyawan. Mengajak makan malam bersama sambil menikmati suasana di pantai. Sekadar melepas kepenatan. Biasanya di pantai itu juga lahir ide-ide baru yang akan diusung stasiun televisi itu. Kamil Badrun memahami saat kondisi kapan, karyawan dihibur. Saat kapan, karyawan ditegasi.

Sejak siaran uji coba berlangsung akhir tahun 2011, Kamil Badrun tidak pernah terlibat soal teknis. Ia hanya mengurus apa kebutuhan di perusahaan itu. Kamil Badrun telah menggelontorkan sekitar Rp3 miliar untuk investasi. Itu tidak termasuk investasi gedung, gaji karyawan, biaya operasional, makan dan minum karyawan. Kamil berencana akan menggelontorkan lagi sekitar Rp2 miliar untuk kelengkapan studio, tambahan kendaraan operasional dan pernik-pernik lainnya. Sungguh, membangun televisi lokal bukan investasi main-mainan.
Semua urusan teknis penyiaran dan manajemen perusahaan diserahkan kepada Pimpinan Redaksi, Abdi Mari. Di perusahaan televisi swasta ini, Abdi cukup didengar. Sekali ia memerintah, karyawan di sana langsung bergerak serentak menandakan tingginya kesadaran dan tanggungjawab mereka sebagai karyawan. Kekompakan dan sistem kerja di perusahaan ini sudah mulai membaik dalam ukuran stasiun televisi yang baru beberapa bulan menghunjamkan manajemennya. Mereka juga taat pada jam tayang yang sudah dilaporkan ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Sulawesi Tengah. On air pukul 14.00 Wita dan off air pukul 22.00 WITA.

Di tengah semangat membangun manajemen televisi lokal ini, gaji karyawannya juga sudah terbilang lebih baik. Tidak ada upah di bawah upah minimum provinsi. Karyawan tetap, juga mendapat jaminan kesehatan dan tunjangan hari raya dari perusahaan. Perusahaan juga memberikan tip bagi karyawan.

Tahukah Anda, dari mana para kerabat kerja di televisi itu? Mereka bukan pekerja impor. Abdi Mari, adalah mantan wartawan surat kabar harian meski sebelumnya ia pernah ditempah di stasiun radio. Dari surat kabar, Abdi kemudian menyeberang menjadi kontributor televisi nasional. Abdi kemudian belajar otodidak hingga ia memahami banyak detail kebutuhan industri televisi.

Kerabat kerja yang lain, juga putera daerah. Usia mereka relatif lebih muda, kurang dari 30 tahun. Umumnya kerabat kerja itu, diproses melalui lembaga pendidikan penyiaran diploma satu di Palu. Lembaga itu didirikan oleh para aktivis jurnalis Sulawesi Tengah. Namun sayang, lembaga ini tutup karena kurangnya pembiayaan. Pemerintah daerah kurang peduli, padahal lembaga ini telah melahirkan sumber daya manusia di bidang penyiaran. Sumber daya itu, kini tidak sekadar menghibur, namun juga memberikan edukasi kepada masyarakat melalui siaran televisi. Mereka kini menjadi bagian dari pembentukan opini publik di Sulawesi Tengah. Sekali mereka menyiarkan kesalahan, dampaknya bisa berpuluh tahun.

RadarTV akan diresmikan 25 April 2012 setelah kurang lebih empat bulan uji coba siaran. Tanggal ini akan menjadi catatan sejarah lonceng kebangkitan televisi lokal. Kita berharap, industri penyiaran ini bisa menjadi saluran alternatif di tengah kuatnya gempuran siaran televisi nasional dengan acara yang kerap irasional. Tidak mendidik dan cenderung mendorong lahirnya tingkat konsumerisme publik yang tinggi. Televisi lokal diharapkan menjadi filter di tengah derasnya arus informasi. Televisi lokal juga diharapan menjadi media patner bagi pertumbuhan ekonomi di daerah. Menjadi media patner pemerintah dalam mendorong pembangunan yang berkemanusiaan. Mampukah televisi lokal ini bertahan di tengah tingginya investasi? Tergantung seberapa baik manajemen televisi itu sendiri.

Embrio sejarah televisi lokal di Sulawesi Tengah, sudah ada jauh sebelum RadarTV berdiri. Di Luwuk, ibu kota Kabupaten Banggai sudah ada embrio televisi lokal awal tahun 2000. Namanya stasiun KratonTV. Disebut demikian, karena pusat siaran televisi ini berada di satu lingkungan yang disebut lingkungan kraton. Teknologi KratonTV sangat sederhana. Towernya terbuat dari bambu. Pemancarnya dirakit dengan daya jangkau radius sekitar satu hingga dua kilometer. Siarannya juga hanya memancarkan saluran televisi nasional. Tetapi sudah ada tulisan teks berisi konten lokal. KratonTV kini terkubur tergantikan dengan siaran teknologi digital.

Pada 2006, di Tolitoli berdiri sebuah perusahaan PT. Maleo Cendekia Televisi (MCTV). Dalam menguji animo publik, MCTV memancarkan siarannya melalui saluran televisi kabel. Acaranya pun baru tiga. Berita seputar Tolitoli, dialog dan paket acara jejak. MCTV digerakkan oleh tenaga jurnalis televisi yang bekerja sebagai kontributor televisi nasional. Siaran ini hanya berjalan delapan bulan, kemudian terkubur karena tidak adanya pemodal. MCTV pun tinggal catatan sejarah bagi para pendirinya.

Dalam tahun yang sama, bermunculan pula televisi kabel di Kota Palu dan Parigi. Televisi kabel ini tidak sekadar memancarkan siaran televisi nasional, tetapi juga sudah berani meracik acara lokal, meski sekadar lagu-lagu daerah. Di Parigi, justru berani dengan menawarkan acara dialog dan berita.

Sekitar tahun 2009, Kota Palu dikagumkan dengan munculnya PaluTV, sebuah perusahaan televisi yang sahamnya dikumpul dari beberapa pemodal. PaluTV, kini masih tetap eksis bersaing dengan televisi lokal lainnya. Tahun 2011, Bayu Alexander Montang, pemilik Nuansa Pos gruop juga mendirikan industri televisi. Namanya NuansaTV. Stasiun ini tetap eksis di tengah mulai naiknya persaingan industri televisi lokal. Kita tidak menghitung TVRI, karena investasinya ditanggung oleh negara. Sudah menjadi kewajiban bagi negara memberikan pelayanan informasi kepada warga negara. TVRI mestinya harus tampil sebagai penengah dan motivator di tengah bangkitnya industri televisi lokal. Selamat dan sukses.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s