Malam Minggu Bersama Anak Peminta-minta

Sabtu malam ini, saya menghabiskan banyak waktu di pantai Palu. Bosan di taman ria, pindah ke pantai Talise. Badan terasa panas, mungkin pengaruh banyaknya sarabba yang saya teguk. Saya sengaja memesan sarabba tanpa susu dan telur. Hanya air jahe saja. Terasa pedis memang, tapi cukup melegakkan tenggorokan dan menghangatkan badan di tengah terpaan angin laut.

Di tengah kehangatan itu, saya tiba-tiba tertegun melihat dua bocah perempuan bergandengan tangan. Seorang bersepatu, satunya lagi beralas sandal jepit. Satu bergincu tipis, satunya lagi bibir polos. Mereka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain menengadahkan telapak tangannya sembari melanjutunkan satu bait lagu anak-anak. Sejurus kemudian, dua bocah itu meminta belas kasihan. “Om minta uang. Biar hanya seribu,” kata dua anak itu polos.

Dua bocah itu enggan bicara banyak tentang diri mereka meski saya sudah membujuk sejumlah uang sebagai imbalannya. Mungkin sudah ada pesan dari orang tua mereka agar tidak bicara kepada siapa saja.

Bocah itu terus melangkah sampai di tempat gelap di sana. Mereka tidak segan-segan menghampiri pasangan muda-mudi yang sedang beraksi setengah lingkaran tangan di pinggang pasangannya. Bocah itu sampai jauh menerobos harmoni sepasang insan manusia yang sedang bercinta demi segenggam rupiah. Bocah-bocah itu menyaksikan asmara cinta dari pengunjung pantai yang belum pantas mereka saksikan.

Miris rasanya melihat fakta sosial itu di tengah manisnya bibir para pejabat dan akademisi kita berucap bahwa Sulawesi Tengah kaya dengan sumber daya alam yang melimpah. Potensi zakat yang besar. Laut kita yang kaya dengan potensi perikanan dan kelautan. Hutan kita yang kaya rotan dan kayu, dan masih banyak lagi kata-kata manis lainnya tentang kekayaan alam ini.

Miris rasanya melihat aksi anak-anak itu di tengah pejabat kita berganti-ganti mobil dinas. Bahkan ada pejabat yang seenaknya saja menghapus aset tanah dan rumah dinas.

Miris rasanya melihat kelakuan anak-anak itu, jika kita mendengar pengusaha menghambur-hamburkan uang di meja judi dan suap proyek.

Miris rasanya menyaksikan lakon dari anak-anak itu jika kita mendengar berita tentang biaya ulang tahun seorang anak kaya mencapai ratusan juta rupiah.

Mungkin harga gincu dan bedak dari istri pejabat dan orang-orang kaya lebih mahal dari biaya hidup anak-anak itu. Mungkin biaya rokok kita atau pulsa telepon genggam kita jauh lebih mahal dari kebutuhan mereka. Sungguh ini kondisi hidup yang tidak berkeadilan dalam negeri kita yang kaya ini.

Saya tidak mampu membayangkan jika anak-anak itu adalah darah dagingku, darah daging dari adikku, kakakku atau kawan-kawanku. “Tuhan jauhkan saya, saudaraku dan kawan-kawanku dari kemiskinan,” doaku dalam hati.

Heran rasanya, sudah ada instansi pemerintah diberi kuasa mengurus anak-anak terlantar dan kekerasan anak, tapi masalah anak masih banyak terjadi dimana-mana. Banyak lembaga swadaya masyarakat berdiri yang peduli dengan anak, tapi masalah anak terus saja menjadi tontonan sehari-hari.

Mungkin karena kita belum mau berkorban dan melibatkan diri dengan  masalah sosial, sehingga ketimpangan masih saja terjadi. Atau bisa jadi, mereka yang diberikan kuasa untuk mengurus masalah itu tidak ikhlas dan hanya berharap jabatan dan proyek di atas penderitaan anak-anak bangsa.

Saya menyadari penyelesaian masalah sosial tidak sesederhana menyalahkan kompor gas. Ceklek, langsung menyala. Tetapi setidaknya, jika hal itu diseriusi masalah anak kian terminimalisir. Sebulan saja kita kompak menyisihkan seribu rupiah setiap orang, dikali 2,6 juta penduduk Sulawesi Tengah, maka ada uang terkumpul sebanyak Rp2,6 miliar per bulan. Entahlah… Saya juga tidak tahu.(Palu, 28 April 2012)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s