Menjemput Berkah 1 Muharram di Tanah Lapang

Tanah “Tadulako” tempat masyarakat Kota Palu, Sulawesi Tengah, berpijak pada malam 1 Muharram 1432 Hijriah lembab akibat hujan gerimis.

“Tadulako” adalah gelar adat bagi masyarakat Kaili di Kota Palu yang artinya pemimpin. Gelar “Tadulako” diberikan kepada mereka yang memiliki jiwa kepemimpinan dan bertanggung jawab penuh terhadap masyarakat yang dipimpinnya.

Itulah sebabnya satu dari sekian perguruan tinggi di Sulteng disebut dengan Universitas Tadulako.

Malam itu gerimis tidak merata. Beberapa wilayah tertentu justru hujan deras hingga air tergenang. Air dari langit itu terus menghunjam bumi “Tadulako” hingga dini hari.

Di tengah cuaca yang dingin itu berkumpul sekitar seribu orang di tanah lapang belakang kantor Mapolda Sulteng, Jalan Soekarno Hatta. Mereka berpakaian putih-putih. Laki-laki berkopiah putih sepadan dengan baju koko celana hitam. Sementara perempuan berkerudung putih. Sesekali gerimis menyambar tubuh mereka dan membasahi hamparan sajadah.

Mereka duduk bersila di atas sajadah dengan wajah menghadap arah barat. Di lokasi itu juga tersedia tenda yang panjangnya sekitar 60 meter untuk tempat berteduh. Satu panggung utama menghadap timur. Tersedia juga tempat buang hajat dan air wudhu yang sengaja dimobilisasi untuk keperluan jamaah.

Jamaah tidak saja dari kalangan orang tua tapi juga anak-anak bahkan balita. Mereka datang dari berbagai kabupaten seperti Tojo Unauna, Parigi Moutong, Donggala, Sigi dan Kota Palu. Ada juga yang datang dari Makassar, Sulawesi Selatan.

Sekelompok umat muslim ini menyebut diri mereka keluarga besar perguruan “Nur Yakin”. Malam itu mereka hendak mengisi malam 1 Muharram dengan zikir, ceramah, pengobatan dan seni bela diri dengan kekuatan spritual.

Anggota Nur Yakin terdiri dari berbagai kalangan profesi. Cendekiawan, dokter, akademisi, mahasiswa, imam masjid, politisi, wartawan, anggota Polri dan pengusaha.

Sebagian dari mereka sudah berkumpul di lapangan sebelum shalat Magrib. Di tempat itu mereka menyambut tahun baru Islam tepat masuk malam atau waktu Magrib tiba. Sebagian lagi datang setelah shalat Isya.

“Kegiatan ini adalah syiar bagi Islam khususnya bagi keluarga besar Nur Yakin guna menyambut tahun baru Islam,” kata Ketua Panitia Pelaksana, Huzaimah.

Huzaimah sehari-harinya bekerja sebagai dokter di rumah sakit umum Anuta Pura Palu dan dosen di Universitas Tadulako Palu. Dia baru bergabung di Nur Yakin setahun lalu.

Zikir di lapangan terbuka oleh perguruan Nur Yakin sudah menjadi tradisi setiap tahun baru Islam 1 Muharram. Malam 1 Muharram diyakni sebagai malam turunnya berkah Nur Allah, sehingga harus disambut dengan ikhlas.

Zikir malam itu mengusung tema “luruskan niat, sucikan hati, aktualisasikan wadah berkah Nur Yakin menyongsong hari esok yang lebih baik”.

Sebelum memulai seluruh aktivitas, jamaah yang hadir secara bersama-sama membaca doa memasuki tahun baru Islam, setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan ‘ratibul haddad’ dan hikmah 1 Muharram 1430 Hijriah oleh Lukman S Thahir, cendekiawan muslim yang juga Rektor Universitas Alkhairaat Palu. Lukman adalah satu satu unsur pemimpin (khalifah) di perguruan itu.

“Malam ini kita berkumpul untuk menjemput berkah Nur Allah disertai dengan niat yang lurus dan ikhlas,” kata Lukman.

Dia mengatakan, malam 1 Muharram adalah titik awal bagi umat manusia dalam menjalankan aktivitasnya selama 12 bulan mendatang.

“Oleh sebab itu mintalah kepada Allah dengan hati yang tulus. Apa yang saudara minta malam ini hanya Anda dan Allah yang tahu,” katanya.

Lukman menyakini bahwa dampak dari permintaan kepada Allah itu bisa dirasakan setelah dievaluasi 12 bulan kemudian. Perubahan itu bisa saja berupa perubahan prilaku spritual.

“Segala sesuatu yang tadinya dianggap sebagai beban atau hambatan dalam menjalani hidup, ada-ada saja jalan keluarnya. Secara tidak sadar, sebetulnya itu adalah pertolongan dari Allah yang diolah melalui kunci berkah,” katanya.

Jamaah Nur Yakin tampak antusias mengikuti zikir malam itu. Puncak zikir dilakukan pada dini hari hingga ditutup memasuki shalat subuh. Suhu yang dingin dan tanah yang lembab tidak menjadi penghalang bagi jamaah Nur Yakin untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tidak sedikit jamaah yang menetaskan air mata setelah istigfar dan takbir dilafadzkan.

Jejak Nur Yakin

Perguruan Nur Yakin masuk di Kota Palu sekitar tahun 1986 oleh seorang tokoh spritual Arikus Nur. Pria asal Kabupaten Barru Sulawesi Selatan ini juga adalah guru utama di perguruan ini.

“Waktu itu nama peguruan ini masih Nur Ilham, nanti sekitar tahun 1996 baru kemudian namanya berubah menjadi Nur Yakin,” kata Muhammad Arfan Hakim, salah seorang anggota Nur Yakin.

Arfan Hakim yang sehari-harinya sebagai dosen di STAIN Datokrama Palu bergabung di Nur Yakin sejak tahun 2006.

Ia mengatakan, perguruan ini berpusat di Palu memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Untuk membahas anggaran dasar tersebut hingga ditetapkan membutuhkan waktu setahun dengan melibatkan beberapa orang pemikir di Nur Yakin.

Menurut Arfan, guru utama perguruan, Arikus Nur sudah memiliki kelebihan spritual sejak masih kecil di daerah kelahirannya di Barru. Arikus Nur menerima kelebihan itu tanpa melalui seorang guru.

“Ia berproses secara alamiah dan itulah yang diajarkan ke anggota Nur Yakin,” kata Arfan.

Arfan mengaku masuk di Nur Yakin karena sudah merasakan berkah yang diproses melalui pendekatan spritual kepada Allah. Dia mencontohkan beberapa pertolongan Allah di luar jangkauan akal manusia.

Anggota Nur Yakin saat ini diperkirakan sudah mencapai ribuan orang. Anggotanya tidak saja orang dewasa tapi juga anak-anak.

Untuk mengorganisir banyaknya anggota tersebut Nur Yakin kemudian membentuk struktur organisasi mulai dari ketua pusat sampai di kecamatan.

Muhammad Basron, salah seorang anggota Nur Yakin mengatakan, zikir Nur Yakin memiliki banyak manfaat antara lain menjaga diri dari kejahatan manusia hingga pada pengobatan.

Perguruan ini juga memiliki jurus-jurus bela diri yang biasanya diperagakan setahun sekali di hadapan anggotanya seperti melalui momentum 1 Muharram 1432 Hijriah.

Anggota Nur Yakin menyebut zikir Nur Yakin sebagai kunci berkah. Kunci berkah inilah yang diserahkan kepada anggota yang dengan ikhlas bergabung di pergruan ini. Pengamalan zikir tersebut biasanya dibaca setelah shalat lima waktu.

1 Muharram 1432 Hijriah bagi keluarga besar Nur Yakin benar-benar dimanfaatkan sebagai momentum penguatan hubungan antara manusia dengan Allah. Sebagian besar mereka rela tidak tidur hingga selesai shalat subuh.***

One thought on “Menjemput Berkah 1 Muharram di Tanah Lapang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s