Suka Duka Mengelola Press Room

Apa yang saya bayangkan bersama Andi Amaluddin sebelum menjadi koordinator dan sekretaris Press Room kantor gubernur ternyata terbukti. Kelak kami akan berhadapan dengan berbagai karakter dan keinginan wartawan. Kontroversi keinginan. Kalau keinginan itu baik, menunjang kegiatan jurnalistik, ya itu disyukuri. Tapi kalau keinginannya buruk, misalnya hanya untuk menjatuhkan, ini yang repot. Ini memang tidak gampang karena kami adalah satu profesi. Satu medan perjuangan. Pembeda kemudian adalah niat dan karya kita masing-masing. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya.

Kamis siang (25/4), saat hendak meliput unjuk rasa Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Sulawesi Tengah atas dugaan pelanggaran oleh satu perusahaan yang beroperasi di Morowali, tiba-tiba seorang wartawan berkenalan.

“Pak Adha, yang kami pilih waktu itu ya,” kata teman itu.
“Mungkin. Saya sudah lupa karena banyak teman-teman yang memilih waktu itu,” jawabku sambil berjalan ke kerumunan pengunjukrasa.

Teman yang tidak akrab itu baru saja memperkenalkan namanya. Menyodorkan nomor kontak dan satu buah terbitan Mingguan. Kertasnya bagus karena dicetak di Jawa. Ia meminta agar medianya juga didaftar di Press Room. Ia khawatir kalau tidak masuk dalam daftar, nanti tidak bisa mendapat jatah lebaran idul fitri.

“Jangan lupa pak, tolong dikontek saya kalau ada pembangian THR (tunjangan hari raya) dari Press Room,” katanya.

Saya terdiam sejenak, ternyata masih ada anggapan bahwa Press Room itu kerjanya hanya bagi-bagi hadiah dari pejabat. Tidak ada program dan laporan serius. Sulit saya menjelaskan kepada kawan itu, karena mungkin sudah terbentuk dalam pola pikir sebagian orang bahwa Press Room itu kerjanya hanya bagi-bagi hadiah lebaran. Padahal saya dan teman-teman pengurus sudah menghapus tradisi itu di awal tahun kepengurusan kami. Pada lebaran Idul Fitri 2012, saya menyarankan jika ada hadiah lebaran dari Humas untuk wartawan, silahkan ditangani langsung oleh Humas. Bukan kami sok tidak butuh hadiah lebaran, tapi tugas Press Room bukan untuk membagi-bagi hadiah. Terlalu sederhana tugas-tugas Press Room jika hanya untuk itu.

Kalau Pemda berniat baik, silahkan langsung ke person wartawan. Alhasil pengalihan “tugas” bagi-bagi hadiah itu berhasil. Bantuan lebaran ditangani langsung Humas. Pendaftar ternyata membludak. Wartawan yang tidak ditugasi kantornya meliput di kantor gubernur pun mendaftar. Bahkan ada dari kabupaten jauh di sana mendaftarkan dirinya. Saya tidak tahu berapa banyak uang yang disumbangkan untuk hadiah lebaran itu. Saya juga ikut kecipratan. Hadiah itu diantar oleh teman, sekitar tiga pekan berlalunya lebaran Idul Fitri 2012.

Press Rooom kantor gubernur adalah wadah untuk semua wartawan yang meliput di kantor itu. Press Room bukanlah wadah ekslusif untuk satu media saja. Tapi untuk semua. Karya jurnalitiklah nanti yang membedakan. Mana yang serius dan mana yang tidak.

Seperti saya kemukakan sebelumnya. Menjadi pengurus Press Room itu tidak semuda menyalakan kompor gas. Tidak berbuat salah. Berbuat juga salah. Tapi lebih baik berbuat dianggap salah dari pada tidak berbuat juga dianggap salah.

Baru-baru ini, Press Room membuat kegiatan Public Expose dan Pameran Foto dalam rangka 49 tahun Sulawesi Tengah. Kami menggandeng Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu. Kegiatannya dilaksanakan selama sepekan sebelum puncak HUT provinsi, 13 April 2013. Latar belakang kegiatan ini lahir agar teman-teman wartawan tidak kesulitan mengakses data dari satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dalam usia Sulawesi Tengah ke 49 tahun. Berinisiatiflah Press Room menjadi fasilitator melalui kegiatan itu. Kami mengundang 13 SKPD yang terkait dengan infrastruktur, sektor unggulan dan pembangunan ekonomi.

Sepintas kegiatan ini sederhana, tetapi banyak manfaatnya. Dari sisi pameran foto, kita memberikan ruang bagi fotografer untuk memamerkan karya jurnalistiknya. Kami memberi ruang untuk itu. Agar kegiatan itu bisa berkontribusi kritis terhadap pemerintah provinsi, kami membagi tiga kriteria foto, salah satunya masalah-masalah sosial. Tujuannya agar foto itu dilihat oleh pejabat pengambil kebijakan, bahwa ternyata fakta di lapangan masih banyak masalah yang harus dikerjakan.

Supaya tempatnya strategis. Gampang dilihat pengujung, kami memilih tempat di ruang lobi kantor gubernur. Setiap tamu, gubernur dan wakil gubernur pasti melalui pintu ini. Ini pertama kali ruang lobi itu dijadikan tempat pameran foto sepanjang sejarah gedung berlantai tiga itu dibangun. Dalam perjalanannya ternyata ada mis-komunikasi. Hari pertama pembukaan, ada wartawan datang dengan membawa foto-foto kegiatan pejabat. Dipajang dalam bingkai berukuran kira-kira 40 cm x 80 cm. Agar kelihatan menarik, dipasang hiasan bunga di pinggirnya. Lalu di sudut kanan, tertulis ucapan selamat HUT Provinsi Sulteng ke – 49. Ini ide kreatif. Sayangnya bukan pada tempatnya hehe.

Manfaat lain untuk public expose, teman-teman wartawan dengan mudah mendapat penjelasan di lengkapi data-data statistik dari SKPD. Bagi wartawan sungguhan dan cerdas, ini adalah kesempatan untuk mendapatkan data-data penting terkait pembangunan di Sulawesi Tengah. Setidaknya setiap laporan diboboti dengan angka pembanding. Ini juga kesempatan untuk bertanya lebih banyak atas masalah di daerah ini kepada instansi terkait. Saya bangga karena antusias kawan-kawan wartawan cukup baik. Sayangnya, kami dari panitia melanggar “tradisi”. Yah, sebut saja tradisi “amplop”. Setiap selesai kegiatan biasanya ada amplop yang disodorkan panitia.

Kami memang tidak dapat dukungan anggaran dari sekretariat gubernur. Kecuali untuk pameran foto. Kami pun tidak minta kontribusi dari SKPD yang kami undang. Belakangan karena banyak uang pribadi teman-teman yang digunakan menalangi konsumsi dan snack. Kami pun akhirnya tebal muka, minta keihlasan dari SKPD yang mau membantu. Alhasil ada empat SKPD yang mau membantu. Inilah yang digunakan untuk mengganti uang teman-teman yang sudah digunakan sebelumnya. Utang akhirnya lunas juga. Ada sisa sedikit (laporan pertanggungjawaban penerimaan dan bukti-bukti belanja tertulis bisa dilihat di sekretariat).

Ehh, ternyata belakangan tradisi “apmlop” itu jadi buah bibir. Entah main-main atau sungguhan beberapa teman minta jatah “amplop”. Bahkan ada yang tidak puas, lalu mendatangi langsung kepala instansi yang pernah kami undang. Kami tidak tahu lagi selanjutnya. Semoga saja tidak menjual nama Press Room hehe.

Inilah suka duka dan lucunya menjadi pengurus Press Room. Organisasi ini kecil, namun bisa menimbulkan masalah besar. Melahirkan fitnah, menimbulkan kesenjangan, dikotomi profesionalisme dan tidak profesional serta kecemburuan. Terlepas itu semua, kami adalah satu profesi. Satu perjuangan. Kami telah menempuh jalur medan juang jurnalistik yang sama. Kami harus saling menyelamatkan. Yang di depan menarik yang di belakang. Yang sudah profesional, mengajak yang belum profesional. Yang serius mengajak yang tidak serius. Yang keliru diluruskan. Yang hanya mau memanfaatkan dihentikan. Kecuali modal industri media, itu bukan intervensi kami, tapi kita harus peduli karena tidak mapannya modal industri pendirian media, sehingga ada oknum yang salah gunakan profesi wartawan. Minta sana, minta sini. Ini tidak bisa disangkal. Masih butuh waktu panjang untuk mensejajarkan seluruh kemampuan dan kemapanan wartawan.

Sebagai koordinator, tentu saya bukan yang terbaik. Saya juga banyak kelemahan. Kealpaan bisa terjadi kapan saja. Olehnya, saya butuh masukan, kritikan dan penyegaran. Semoga kelak pengganti kami di periode kepengurusan ini jauh lebih baik. Amiin.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s