HUT Kemerdekaan dan Hilangnya Tanah Runtuh

 

Oleh Adha Nadjemuddin

Baru kali ini saya tidak bersemangat meliput seremoni hiruk pikuk HUT Kemerdekaan RI. Padahal banyak kegiatan masyarakat juga pemerintah yang bisa jadi bahan liputan menarik di usia kemerdekaan 68 tahun. Ada perusahaan berupacara di lingkungannya dengan berpakaian tradisional. Ada pula kelurahan di pinggir kali menggelar lomba panjang pinang. Begitu juga dengan upacara di lingkungan pemerintah. Upacara penghormatan kepada para pejuang di taman makam pahlawan. Tidak satupun saya liput. Tugas-tugas liputan dari kantor saya abaikan.

Muncul kebosanan karena dari HUT ke HUT, tidak ada re-desain perayaannya. Dari dulu, sepertinya refleksi kita atas kemerdekaan hanya begitu terus. Booosan. Tidak ada inovasi baru. Kita seperti kehilangan daya kreasi dalam meramu, menyikapi dan memaknai HUT. Padahal, di mana-mana orang pandai berkata bahwa identitas keindonesiaan kita sudah mulai rapuh. Kemungkinan tercerabutnya identitas keindonesiaan itu pulah sehingga banyak rakyat yang tidak mengibarkan bendera Merah Putih di depan rumahnya. Merah Putih bukan lagi sesuatu yang sakral.

 Kini kemerdekaan hanya dirayakan para pejabat dan pegawai negeri. Hanya orang-orang kaya, mereka yang berposisi bagus di masyarakat dan terpandang diundang menghadiri upacara. Tidak ada ruang baris berbaris bagi si miskin. Hanya orang-orang dalam penjara menikmati kemerdekaan dengan menerima remisi. Sementara mereka yang marjinal karena kemiskinannya terus meratapi kemerdekaan dalam ketidakmerdekaannya. Batin dan jiwa mereka belum merdeka. Padahal bendera mereka juga Merah Putih.

Dulu di kampung-kampung, banyak yang menyikapi kemerdekaan dengan kegiatan yang melibatkan masyarakat. Mulai dari lomba drama kemerdekaan, pertandingan olahraga, pementasan seni tradisi, pawai obor dan menonton film-film perjuangan lewat layar tancap.

Sudahlah, mungkin itu hanya soal perspektif kita yang berbeda dalam memaknai kemerdekaan yang telah dianugrahkan Allah kepada rakyat Indonesia.

 

Karena tidak tertarik meliput, saya memilih merenungi kemerdekaan di warung kopi. Di komunitas warung kopi kami berdiskusi tentang hakikat kemerdekaan. Hakikat perjuangan pendahulu bangsa ini. Hakikat sejarah masa silam. Hakikat tetesan darah para pejuang. Di sana saya banyak mendapat kabar tentang Indonesia dari sekeping pulau Sulawesi dan dari sejengkal daratan Sulawesi Tengah.

Ternyata dalam usia kemerdekaan Indonesia 68 tahun, saya merasa ada yang hilang dari rona sejarah Kota Palu yakni Tanah Runtuh. Yah, arena motocross Tanah Runtuh, Tondo. Siapa orang Palu tidak mengenal gundukan batu dan tanah kecoklatan Tanah Runtuh. Mungkin hanya Balita yang tidak tahu. Sebentar lagi Tanah Runtuh itu akan lenyap dari pandangan kita. Akan lenyap dari aktivitas olahraga otomotif. Sebentar lagi bukit yang dulu dikagumi crosser’s nasional dan internasional itu tinggal sejarahnya.

Ia akan hilang bersamaan dengan keangkuhan pembangunan fisik kota berkembang, sebagai simbol kemajuan negara modern. Tanah Runtuh sudah dibeli pengusaha Jusuf Kalla. Konon dibeli seharga Rp17 miliar dari para pemilik tanah. Meski sebelumnya sempat terjadi sengketa antarpemilik tanah. Entah nanti mau dibangun apa di sana, saya belum dapat kabarnya. Mungkin dibangunkan showroom mobil Toyota. Mungkin juga hotel. Belum pasti. Tapi di depan Tanah Runtuh itu sudah dibangun stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Dulu lokasi ini dijadikan arena parkir pengunjung jika ada kejuaraan motocross.

Tanah Runtuh memiliki sejumlah keunggulan. Gundukan jumping-nya alami, terbentuk dari struktur gunung yang terbentuk secara alamiah. Keunggulan lainnya, terletak dalam kota sehingga aksesnya mudah dijangkau. Mungkin ini satu-satunya arena motocross di Indonesia yang letaknya dalam kota. Hanya ada di Kota Palu.

Dari tata letaknya, arena balapnya berada di posisi bawah, sehingga memungkinkan punggung-punggung gunung digaruk untuk tempat penonton. Pada posisi penonton di punggung gunung pasti sangat menarik karena berhadapan dengan pandangan teluk Palu. Jika tidak ada kegiatan motocross mungkin bisa dijadikan lokasi upacara HUT Kemerdekaan untuk semua kalangan masyarakat. Kemerekaan untuk semua masyarakat Indonesia di Kota Palu, bisa ditumpahkan di Tanah Runtuh. Tempat itu sekaligus bisa jadi lokasi wisata sambil menikmati atraksi maut dari para crosser. Tapi itu tak mungkin lagi, karena ia sudah berada dalam genggaman pengusaha. Bukan milik pemerintah. Kecuali Jusuf Kalla berbaik hati menghibahkan untuk Kota Palu.

Tanah Runtuh juga strategis di tengah tingginya animo anak muda yang suka balap di jalan raya. Karena nanti Tanah Runtuh tidak ada lagi, maka jalan raya tetap jadi andalan arena balap yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawa orang lain dan tentu saja mengganggu arus lalulintas. Untuk kepentingan bakat olahraga otomotif, mereka harus pergi jauh ke Bora, Sigi, sebagai arena yang baru.

Oh Tanah Runtuh, mungkin engkau hanya ditakdirkan sebagai pijakan gedung-gedung rumah tokoh. Terima kasih Tanah Runtuh karena jejakmu dulu sudah tercatat sebagai tempat meraungnya knalpot motor. Sudah tercatat sebagai tempat orang-orang yang beradrenalin tinggi. Terimalah kenyataan itu.

Dari sejarah tutur oleh mantan pengurus Ikatan Motor Indonesia (IMI) Mashud Kasim, menceritakan Tanah runtuh sebagai lapangan motocross sudah digunakan sekitar tahun 1970-an. Secara administrasi pemerintah provinsi menyerahkan Tanah Runtuh itu ke Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) pusat tahun 1972. Saat itu IMI Pusat dijabat, putera mantan Presiden RI Soeharto, Tommy Soeharto.

“Berkas Tanah Runtuh itu sebetulnya ada di IMI Pusat. Saya pernah cek di sana, tapi saya tidak temukan lagi berkasnya. Mungkin ada yang simpan,” cerita Mashud.

Pada penyerahan administrasi Tanah Runtuh ke IMI Pusat, IMI Provinsi ketika itu dijabat Syamsul Bahri Djalali, seorang pengusaha dan kontraktor yang terbilang jaya pada eranya.

Syamsul Bahri adalah ketua periode ketiga IMI Sulawesi Tengah. Ketua pertama dijabat Geri Wulur. Pada periode Geri itulah Tanah Runtuh mulai digunakan. Beberapa bukit sudah dikorek untuk pembangunan lintasan. Inilah bukit alami yang menjadi arena motocross Indonesia yang top pada eranya.

Pada era Geri Wulur itu Tanah Runtuh mulai dibangun lintasan jumping. Dari sanalah Tanah Runtuh mulai digunakan secara terus menerus hingga kemudian mencapai ketenarannya pada puncak kejayaan crosser nasional Jhony Pranata era akhir 1980 sampai pertengahan era 1990-an.

Pasca Geri wulur pada periode II, IMI kemudian dipimpinan Azwar Syam, pensiunan tentara dan pernah menjabat Ketua Golkar Provinsi Sulawesi Tengah. Setelah itu baru dijabat Syamsul Bahri Djalali. Salah seorang unsur ketua hariannya Mashud Kasim, mantan kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU). Pada tahun 1972 Mashud sudah jadi pegawai di lingkungan PU. Dari Mashud Kasimlah saya merekam sepenggal kisah Tanah Runtuh itu.

Dari Syamsul Bahri, tongkat estafet IMI kemudian diserahkan ke Hariyono. Ia seorang pejabat Wakil gubernur berpangkat Brigjen. Setelah Haryono, IMI kemudian dipimpin Aminuddin Ponulele selama dua periode.

Kini IMI Sulteng dijabat Sudaryano Lamangkona alias Anno Lamangkona, Kepala Dinas Pariwisata Kota Palu. Pada kepemimpinan Anno, beberapa kali olahraga bergengsi motocross dilaksanakan di sana. Pada 17-19 Februari 2012 tiga pebalap asing ikut berlaga pada kejuaraan terbuka motocross. Mereka adalah Jay Archer dan Nick Murray, keduanya berasal dari Australia, serta Josh Mosiman yang berasal dari Amerika Serikat.

Sementara pebalap dalam negeri yang sudah memastikan ikut ambil bagian pada kejuaraan itu adalah Andre Sondak (Manado), Ivan Harry (Solo), Agi Agasi (Jawa Barat) dan Gerry Senna (Bali) serta sejumlah pembalap Sulawesi Tengah.

Karena Tanah Runtuh lama tidak digunakan, panitia terpaksa memperbaiki kembali lintasan yang sudah rusak. Lintasan yang dulu pernah dijejali pembalap kenamaan Indonesia seperti Djoni Pranata itu akan tinggal kenangan. Kenangan selamanya. Selamat tinggal Tanah Runtuh.***

 (Catatan : mohon koreksi dan masukan pembaca yang mengetahui pasti sejarah IMI dan Tanah Runtuh, sebab arena itu akan menjadi sejarah. Sejarah yang pernah menjadi kebanggan kita, kebanggaan crosser Sulawesi Tengah. Mungkin ada sejarah yang salah dari penuturan sumber saya. Mohon koreksinya lee).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s