Getar-Getar Ideologi Untuk Guru Tua (bagian 1)

Oleh Adha Nadjemuddin

Pelayan Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri atau Guru Tua semasa hidupnya, Sofyan A Lahilote, dalam sekejap membakar jiwa dan semangat kami. Sofyan bak magnet menarik serpihan besi dan aluminium yang terserak. Ia membangkitkan kembali nilai-nilai spritual yang kami yakini atas Guru Tua. Jiwa yang selama ini hanya mengenal Guru Tua dari luar, siang itu seperti menyatu dengan alam kehidupan sang guru pencerah dari Hadramaut itu.

Meski Guru Tua telah berkalangtanah 45 tahun silam, Sofyan mampu menghadirkan sosok keramat itu di tengah ribuan jamaah haul ke 45, Senin (19/8/2013). Wajah terbalut cahaya sang guru terbayang di hadapan kami. Cinta yang sebelumnya hanya terpendam, bangkit seketika menyasar ruang-ruang kalbu kami. Cinta itu menjelma di pelupuk mata kami. Mata ini tak kuasa menahan keharuan hingga memerah. Air mata kami jatuh ke tanah. Tanah yang dulu menjadi tapak-tapak perjuangan sang guru untuk sebuah nilai kemanusiaan. Sebagian tanah yang dulunya menjadi tapak perjuangan guru itu telah dilumuri air mata kebencian akibat konflik. Darah yang tercecer akibat amarah. Rumah yang terbakar akibat dendam. Muncul penyesalan tiada dua, kenapa bukan kami yang hidup bersama Guru Tua pada zamannya.

Sofyan hadir di panggung haul, menghentak kesadaran kami. Menyadarkan kepongahan kami. Kepongahan akibat terkikisnya nilai-nilai peninggalan petuah sang guru. Nilai-nilai itu sepertinya telah pergi bersama kepergian Guru Tua. Tak ada lagi yang kami dengar, kecuali bisikan amarah. Angkat senjata untuk saling perang di antara kami. Tak ada lagi yang kami anggap bisa, selain ambisi kami untuk saling menjatuhkan. Saling sikut di antara kami. Menjual tampang, mengandalkan kekuasaan dan kekayaan untuk memenuhi ambisi kami. Padahal sang Guru Tua hadir di permukaan bumi ini tak membawa harta, kecuali ilmu. Tak ada tahta, kecuali nilai-nilai keilahian. Tak ada lagu, kecuali syair yang syarat makna. Itulah Guru Tua yang terus disanjung, dihormati, ditinggikan derajatnya jauh di atas orang-orang pongah.

Ajaran nilai-nilai keilahian yang keramat itu seperti terlupakan setelah haul. Nilai-nilai itu hanya menjadi retorika di panggung-panggung seremonial, di arena seminar, di dalam kelas. Nilai-nilai itu seperti tak lagi membumi. Tak lagi menancapkan akar. Pintu kesadaran baru terbuka setelah kita lolos dari bencana. Bahwa ada berkah yang bisa menyelematkan kita. Kesadaran baru terbuka kembali saat haul datang. Setelah itu kita kembali membusungkan dada. Bermain di ranah citra nama besar perguruan Alkhairaat untuk kepentingan politik kita. Sementara madrasah-madrasah yang diwakafkan sang guru, sebagian tak lagi berkilau. Catnya terus memudar tergerus zaman. Atapnya rontok dikikis karat. Kursi dan bangkunya reot dimakan rayap.

Sofyan Lahilote, dalam kesaksiannya pada haul ke 45 Guru Tua, ingin mengembalikan nilai-nilai yang diusung sang guru. Ia menancapkan kembali ajaran Guru Tua ke kalbu kami. Sofyan telah menggetarkan ideologi kami agar tetap membawa risalah keilahian yang pernah didakwakan Guru Tua. Itulah ideologi Alkhairaat, ideologi yang tak bisa mati. Ideologi yang tak bisa padam di musim hujan. Kecuali hati mereka yang sudah mati karena tertutup debu-debu keangkuhan akibat kilauan dunia.

Guru… maafkanlah kami.

Palu, 19 Agustus 2013 

One thought on “Getar-Getar Ideologi Untuk Guru Tua (bagian 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s