Getar-Getar Ideologi Untuk Guru Tua (bagian 2)

Oleh Adha Nadjemuddin

Surban cokelat dari salah satu riwayat Guru Tua yang diceritakan Sofyan A Lahilote menjadi magnet paling mengagumkan pada haul 45 siang itu. Kisah surban cokelat dan kepribadian ustadz Sofyan adalah penanda sejarah keajaiban dari ketinggian ilmu Guru Tua yang pernah kami dengar dari murid-muridnya. Dari haul ke haul, biasanya kami hanya mendengar kisah-kisah yang sudah pernah terulang sebelumnya. Tapi kali ini lain. Sungguh lain dari kisah biasanya.

Suatu ketika, Sofyan (kira-kira baru berusia 15-16 tahun) dirinya merasa kesakitan luar biasa. Murid Guru Tua itu seperti sedang merasakan sakit yang tiada kalah tandingannya. Ia pun merasa jika tidak segera ditolong oleh Guru Tua, ia pun akan pergi jauh selamanya. Meninggalkan seluruh rekan-rekannya, sesama murid. Sofyan pun menganggap hanya satu orang yang bisa mengobati kesakitannya itu. Dialah Guru Tua.

Tapi sayang, malam itu Guru Tua sedang istirahat di lantai dua di kediamannya. Tempat itu kini sudah menjadi madrasah aliyah Alkhairaat. Sofyan dilarang oleh sahabat-sahabatnya sesama murid menemui Guru Tua. Tapi ia tetap memaksa karena sakit itu semakin tidak tertahan. Sofyan lari kencang naik ke lantai dua hendak bertemu sang guru. Ia mendobrak pintu dan menghadap baginda guru. Ia kesakitan dan butuh bantuan guru. Rasanya tak ada dokter sekaliber apapun untuk menyembuhkan sakit itu kecuali Guru Tua.

Guru Tua meminta kepada muridnya yang lain segera mengambil surban cokelat miliknya. Sementara di sana, Sofyan sudah jatuh pingsan. Kedua tangannya bahkan sudah diletakkan Guru Tua di dadanya seperti layaknya takbir orang meninggal dunia. Sejak itulah Sofyan tidak lagi mengetahui apa-apa tentang dirinya. Tentang apa gerangan yang dilakukan Guru Tua.

Dua murid yang ada di ruang Guru Tua malam itu, diperintahkan keluar dari ruangan. Dasar murid yang ingin tahu tentang Guru Tua, murid-murid kecil itu mengambil kesempatan mengintip di lubang kunci. Mereka mengintip ke dalam. Mereka melihat Sofyan sedang diselimuti surban cokelat layaknya mayat terbaring kaku. Sementara sang guru terus berada di samping Sofyan. Guru Tua duduk tak jauh dari kepala Sofyan. Guru terus menjaga muridnya itu hingga menjelang fajar.

Menjelang shalat subuh, Guru Tua tiba-tiba berteriak kencang memanggil Sofyan kecil. Suaranya sangat kencang; “Sofyaaaan”. Di situlah Sofyan bangkit dari sadarnya. Ia melihat Guru Tua sudah berada di sampingnya.

Sofyan menganggap roh dan jasadnya ketika itu sudah berpisah, namun belum jauh rohnya pergi lalu dihadirkan kembali dalam jasadnya oleh sang guru. Inilah peristiwa yang dikisahkan Sofyan paling menggetarkan ideologi kami tentang Guru Tua, guru yang tak ada matinya.

Dimanakah surban cokelat itu kini berada? Masih menjadi misteri. Mungkinkah surban itu benar-benar surban seperti surban pada umumnya yang menggelantung di leher-leher kami saat bulan Ramadhan. Mungkinkah itu surban yang melingkar di leher dan kepala para pencerah agama di dunia modern ini. Mungkinkah itu surban yang kami pakai berteriak; Allah Akbar! di tengah jalan saat unjuk rasa. Mungkinkah itu surban yang kami pakai, saat kami mengkafirkan orang lain karena perbedaan pendapat. Mungkinkah itu surban yang kami pakai saat kami mengoyak cafe-cafe yang beroperasi di bulan Ramadhan.

Jika itu surban sang Guru Tua, yakinlah tidak akan berani kami bawah saat unjuk rasa di jalan-jalan raya sambil berteriak; Allahu Akbar! Jika itu surban Guru Tua yang kami pakai, kami tidak akan berani mengkafirkan orang lain hanya karena perbedaan pendapat. Jika yang kami pakai itu surban dari Guru Tua, kami akan selalu menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Bukan justru menggunakan surban itu untuk modal kampanye politik agar kami dipilih rakyat. Bukan pula menggunakan surban itu untuk mengejar kekuasaan.

Surban dalam hikayat Guru Tua itu menjadi perantara yang sangat dahsyat. Sangat menakjubkan. Sangat keramat. Surban yang menggetarkan ideologi kami terhadap Alkhairaat. Kisah Guru Tua yang memberikan pertolongan terhadap orang dalam kondisi sekarat, mungkin kian langkah dijumpai kini. Justru sebaliknya, kami seperti wakil Tuhan di bumi yang diperintahkan mencabut nyawa orang lain lewat senapan, lewat badik, lewat dum-dum, lewat racun, lewat jampi-jampi dan sebagainya.

Kami kejam karena membunuh kawan sendiri hanya karena pacar kami direbut. Membunuh tetangga kami hanya karena mengambil sejengkal tanah kami. Kami harus membunuh atasan kami karena mengancam posisi kami. Kami membunuh para tokoh idealis di negeri ini karena mereka bisa menggoyang kedudukan kami. Kami membunuh mereka para penyeru antikorupsi karena kami bisa dipenjarah jika mereka membongkar seluruh kejahatan kami.

Karena tak ada lagi surban cokelat, kami tega menelantarkan bocah-bocah ingusan. Bocah yang sudah ditinggal pergi ayah dan ibunya. Kami harus memakan haknya karena kami hanya mengenakan surban simbol. Dengan surban simbol kami bisa menerima pujian sebagai orang-orang yang dipercaya, padahal sesungguhnya kami hanya berlindung di balik kebesaran surban kami. Surban simbolik.

Sofyan Lahilote menghadirkan kembali surban yang sesungguhnya di tengah ribuan jamaah haul. Kami melihat surban itu hadir kembali bersamaan dengan hadirnya ribuan jamaah haul. Kami merasa sedang menyentuh surban cokelat itu dengan syair-syair folosofis Guru Tua. Kami melihat surban itu dengan berdirinya menara masjid Alkhairaat. Itulah surban cokelat, surban yang bisa menyelamatkan ribuan manusia dari kebodohan. Surban itu menarik manusia dari lereng keangkuhan. Itulah surban yang sesungguhnya.

Surban sesungguhnya itu kami ingat hanya saat haul tiba. Di luar haul surban cokelat itu entah kemana lagi. Tak lagi membumi hingga kami abai semua nasihat guru. Padahal bagi Guru Tua, untuk sebuah nyawa, ia rela tidak tidur semalam suntuk. Ia harus berkomunikasi paruh waktu malam dengan sang pencipta untuk keselamatan seorang bocah 16 tahun. Karena keramat Guru Tua, bocah bernama Sofyan Lahilote itu kini tumbuh besar menjadi pencerah, menjadi wakil dan pewaris nilai-nilai luhur dari Guru Tua.

Guru… Maafkanlah kami. Karena kami hanya menggunakan surban simbolik.

Guru… Doakanlah kami agar kami jauh dari surban simbolik, surban yang hanya menjadi keangkuhan kami. Izinkan kami menemui kembali surbanmu yang hilang itu, surban yang sesungguhnya.

Guru… kami akan mencari surbanmu itu. Kami akan mengamalkan makna surbanmu yang sesungguhnya. Kami akan mengajak teman kami bertemu engkau di haul 46 tahun 2014.

Guru… Sungguh kami mencintaimu, tulus dari hati. Kami menyayangimu selamanya.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s