Getar-Getar Ideologi Untuk Guru Tua (bagian – 3)

Oleh Adha Nadjemuddin

Sofyan Lahilote, dalam sekejap seperti mematahkan kemampuan rasional kami, rasionalitas atas kemampuan manusia dalam memancaindrai fakta-fakta keduniaan. Di arena haul, Sofyan berkisah, suatu ketika Guru Tua berdakwa di lembah Palu, sekitar wilayah Dolo. Hari itu Guru Tua didampingi dua muridnya yang masih remaja, Sofyan Lahilote dan Zakir Hubaib. Untuk kegiatan dakwah, tak ada kendaraan mewah yang mengangkut sang guru ke tujuannya. Maklum era itu satu-satunya kendaraan yang paling populer digunakan Guru Tua mengelilingi lembah Palu adalah gerobak. 

Tidak hanya soal kendaraan, infrastruktur waktu itu belum seperti sekarang. Masih jalan-jalan setapak. Sungai yang dilintasi pun hanya mengandalkan sebatang kayu atau bambu. Ruang yang dilintasi pun masih hutan-hutan. Hanya satu cara agar bisa tembus ke lokasi yang ingin dituju; berjalan kaki.

Sofyan sebagai pengawal tentu tugas utamanya mengantar Guru Tua sampai di tujuan dengan aman dan selamat. Sebagai murid yang setia, apapun rela dilakukan Sofyan asal guru kita itu selamat. Begitu tiba di sebuah sungai, tidak ada jembatan penyembarangan. Hanya ada dua batang bambu berdempetan. Ujung satu dengan ujung lainnya terhubung dengan tebing satu dengan tebing sungai di sebelahnya.

Agar Guru Tua selamat, Sofyan Lahilote rela turun ke sungai. Ustadz Sofyan akan memandu Guru Tua dari dasar sungai, yang penting guru bisa menyeberang. Sofyan di sebelah kanan jembatan bambu, sementara Zakir di sebelah kiri. Supaya Sofyan konsentrasi penuh memandu Guru Tua, sejumlah barang bawaan yang ia tenteng diserahkan ke Zakir. Sementara Guru Tua juga sudah siap meniti di atas dua batang bambu. Sofyan sangat kuatir dengan keselamatan Guru Tua menyeberangi jembatan bambu itu. 

Posisi sudah siap menyeberang sungai. Tinggal melangkah. Sofyan pun rela terbenam badannya asalkan Guru Tua selamat. 

Apa yang terjadi? Guru Tua meminta Sofyan dan Zakir memejamkan matanya. Dalam sekejap, secepat pejaman mata, Guru Tua bersama dua muridnya tiba-tiba sudah berada di seberang sungai sana. Sofyan tidak tahu lagi, apakah mereka tadi meniti atau tidak. Faktanya fisik mereka sampai ke seberang sungai.

Sungguh ini keajaiban di luar kemampuan jangkauan akal manusia. Kami tertegun mendengar hikayat pada haul 45 siang itu. Kami meneteskan air mata. Air mata kelemahan kami. Air mata kebodohan kami. Air mata keangkuhan kami.

Di tengah keterbatasan infrastruktur daerah ketika itu, ternyata ada kekuatan yang tak tertandingi hebatnya pada diri Guru Tua. Itulah kekuatan keramat (karamah) yang terproduksi dari kekuatan batin, ikhlas, iman dan hubungan individu tak terbatas tirai dengan sang pencipta. 

Kekuatan keramat yang tak ada batas dan jarak dengan Allah. Dengan kuasa-Nya, apapun bisa diwujudkan termasuk hal-hal irasional. Menyeberang sungai hanya dengan memejamkan mata sekejap. Tak ada ilmu fisika yang bisa menjangkau kecepatan perpindahan Guru Tua dari menyeberangi sungai, seperti kemampuan manusia dalam mengukur kecepatan cahaya dan gelombang suara.

Hikayat Guru Tua itu sudah pernah terjadi jauh sebelum kehadiran Guru Tua di muka bumi. Pertistiwa dahsyat tak ada duanya itu sudah terjadi pada diri guru di atas guru, Nabi Muhammad SAW. Kecepatan Nabi Muhammad naik ke langit saat hendak menerima perintah shalat dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Hanya separuh waktu malam, Muhammad bolak balik ke langit. Mungkin peristiwa Mi’raj nabi itulah yang ditransfer Guru Tua dalam kehidupan manusia kini. Mungkin amalan nabi saat Mi’raj itu pula diamalkan Guru Tua dalam kehidupannya. Dalam keikhlasannya. Dalam kerendahan hatinya. 

Masih adakah keihlasan itu kini? Kian susah. Untuk membangun sebuah jembatan tak bisa jadi jika tak ada untung. Tak bisa diwujudkan jika tak ada kepentingan. Tak bisa dialokasikan anggarannya jika tidak ada kesepakatan politik, politik komisi atau politik fee. Tak ada anggarannya jika tidak ada suap. Tak heran jika di daerah tertentu masih ada jembatan bambu seperti dulu. Seperti zaman Guru Tua masih hidup.

Di tengah kesulitan Guru Tua berdakwa menghadapi beratnya medan, kami abai mengamalkan keuletan dan keikhlasannya itu. Kami justru tak peduli, sungai kami kotori dengan sampah. Jembatan gagah perkasa kami rusaki. Padahal Guru Tua dulu, tak ada jembatan yang bisa dilintasi untuk berdakwah. Kami tega membuang sampah di bawah kolong jembatan. Kami tega menumpahkan sampah di gorong-gorong Jalan Sis Aljufri. Kami malas membersihkan gorong-gorong Jalan Sis Aljufri, jalan yang dulu selalu Guru Tua lalui ketika pulang pergi berdakwah. Kami malas menanam pohon, padahal dulu pohon menjadi tempat berlindung Guru Tua saat melepaskan lelah berdakwah.

Guru… Maafkanlah kelakuan kami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s