Wajah-Wajah Pengabdi Demokrasi

(catatan dari Pilkada Donggala)

Ini pertama kali saya berkunjung ke sekretariat pemenangan calon bupati Donggala, Kasman Lassa/Vera Laruni, Jumat (6/9), pukul 17.00 Wita. Saya ingin memastikan hasil penghitungan sementara yang dilakukan tim pemenangan Kasman/Vera. Saya juga ingin melihat seberapa gaduh dan gunda gulanya orang-orang di sana.

Dari balik jendela kaca depan, Vera Laruni, tampak santai berbincang dengan seorang pria. Kelihatannya dia orang penting bagi Vera. Punya kedudukan, mungkin juga punya pengaruh. Vera kelihatan begitu serius. Sesekali calon wakil bupati perempuan pertama di Donggala itu melempar senyum ke orang-orang yang lalu-lalang di depannya.

Belasan lelaki berkumpul di beranda depan. Ada yang serius membaca koran. Ada juga yang serius membaca angka-angka perolehan suara sementara penghitungan pilkada. Di lokasi parkir depan, di bibir jalan Setia Budi, banyak kendaran bertumpuk. Lalu lintas orang lewat pintu depan lumayan banyak. Ada khusus penjaga pintu. Jika ada yang masuk, lebih dulu ketuk kaca pintu. Orang di dalam segera membuka. Lalu ditutup kembali. Lalu dikunci lagi. Situasi itu membuat saya berpikir masuk ke dalam rumah. Jangan sampai digeledah karena saya wajah baru. Ternyata tidak, saya malah dipersilahkan masuk. Mungkin salah satu dari mereka mengenal saya.

Di ruang tengah puluhan orang duduk bersila. Rupanya tim sukses dari berbagai desa. Mereka pelaku lapangan dan ujung tombak nafas kemenangan Kasman/Vera. Sore itu tampaknya ada pertemuan penting. Erwin Lamporo, ketua tim sukses, memimpin jalannya rapat. Beberapa orang yang baru datang kelihatan tergesa-gesa. Mungkin mereka merasa terlambat. Mereka masuk ke dalam. Lalu bergabung di tengah rapat. Yang lain, langsung menuju beranda belakang.

Saya pun ikut masuk. Berlaga seperti layaknya orang yang akrab dengan rona di sekretariat itu. Selangkah dari belakang pintu, Vera Laruni melempar senyum. Saya pun segera menyalaminya. Tidak ada basa-basi. Saya segera pamit langsung menuju beranda belakang. Untuk tembus ke beranda belakang, harus lewat satu pintu lagi. Pintu dorong itu terbuat dari kaca, sehingga dari dalam sudah tampak aktivitas orang di luar sana. Di pintu ini ada dua penjaga. Mereka duduk saling berhadapan. Mereka mempersilahkan saya masuk.

Saya kagum dengan tata letak rumah peninggalan Laruni, orang tua Vera itu. Ruang tengahnya luas. Kira-kira 20 x 35 meter. Kursi dan meja di tata seperti layaknya ruang makan di kafe-kafe. Ada ruang yang sengaja dikosongkan. Tidak dipasangi kursi, kecuali permadani. Di sinilah biasa tim sukses melepaskan lelah setelah berjuang, berjibaku melaksanakan tugas lapangan demi kemenangan Kasman/Vera. Mereka berjuang untuk demokrasi. Berjuang untuk kepentingan Donggala.

Di beranda belakang, pemandangannya asyik. Sejuk pula karena banyak pohon rindang. Tamannya tertata apik. Ada tiga gazebo. Dua minimalis, satu lumayan luas. Di gazebo luas itu ada panggung kecil. Di belakang panggung masih terpampang spanduk Kave (Kasman Lasman/Vera Laruni). Beranda belakang dari rumah itu lumayan luas. Ada beberapa meja untuk kepentingan konsolidasi. Ada papan tulis untuk memudahkan penyajian informasi dan distribusi tugas-tugas pemenangan. Di pojok papan tulis itu masih tertulis “suara 33 persen”.

Jumlah orang di belakang rumah jauh lebih banyak dari mereka di dalam rumah. Ada jalan alternatif dari belakang, sehingga banyak juga orang muncul dari belakang rumah. Pintu alternatif ini menambah ramainya lalu lintas orang.

Di belakang sana, calon bupati Kasman Lassa, ke sana kemari. Sesekali mengangkat telepon genganggamnya. Setiap orang yang datang ia salami satu-satu. Ada yang datang mencium tangan, layaknya penghormatan anak dengan orang tua. Penghormatan murid dengan guru. Ada juga yang ia peluk, layaknya teman lama yang baru bertemu. Ada juga yang datang sekadar, cium pipi kiri, pipi kanan. Layaknya pejabat bertemu pejabat.

Setiap orang punya kesibukan sendiri-sendiri. Ada yang menenteng map. Ada yang baru datang membeli air mineral. Ada yang mengangkat piring, membagikan pisang goreng kepada tamu. Ada yang mengumpul gelas, bekas kopi. Ada yang menjaga pintu, dan sebagainya. Dari wajah mereka, terpancar harapan besar; Kave menang satu putaran.

Dari cara berkomunikasi dan logatnya, kelihatan mereka bukan orang kota. Mereka ramah. Mereka santun kepada orang baru. Mereka wajah-wajah pribumi datang jauh dari kampung. Dari daratan Donggala yang terbentang lebar dari selatan ke utara, melintasi kota Palu. Mereka datang hendak menjemput harapan baru, harapan Donggala yang lebih sejahtera. Mereka telah mengorbankan waktunya, meninggalkan pekerjaan di kebun demi perjuangan. Perjuangan untuk kemenangan Kave. Mereka telah menjadi bagian dari proses demokrasi. Demokrasi yang bisa membawa keberuntungan untuk negeri. Negeri Donggala.

Pejuang demokrasi itu juga ada yang berdiri di sana, di wilayah calon bupati/wakil bupati yang lain. Mereka rela memasang badan untuk kemenangan calon bupati yang mereka puji. Mereka juga rakyat yang ingin berharap kemenangan yang sama. Mereka juga mengabdikan dirinya untuk sebuah kemenangan yang sama. Sungguh! Hanyalah orang-orang kehilangan akal sehat dan nurani yang rela membenturkan para pengabdi demokrasi itu untuk sebuah jabatan politik. Sungguh! Hanyalah orang-orang yang kehilangan jati diri kepemimpinannya tega menelantarkan harapan baru mereka. Harapan agar ekonomi mereka lebih sejahtera. Harapan agar pendidikan anak-anak mereka lebih baik. Harapan agar jalan-jalan di desa mereka lebih mulus.

Harapan itulah sesungguhnya kemenangan. Kemenangan untuk semua. Pilkada hanyalah jalan. Jalan yang begitu rumit dan mahal. Jalan yang penuh dengan tetesan keringat para pengabdi demokrasi.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s