Garis-Garis Konsolidasi Pilkada Putaran Kedua

(catatan dari Pilkada Donggala)

Katakanlah sekarang terjadi putaran kedua Pilkada Donggala. Dua pasang petarungnya lolos, Kasman Lassa/Vera Laruni (Kave) dan Anita Nurdin/Abdul Chair (Doamu). Kemana arah dukungan enam pasang calon bupati lain yang tereliminasi itu? Siapa yang paling digadang diantara dua pasang pemenang itu? Masuk akalkah pendukung yang kalah bisa digiring ke sana-kemari? Adakah poros luar yang bermain di dua kutub itu? Berpotensikah terjadinya hambur-hambur uang? Ataukah kemungkinan dua pasang calon bupati itu menempuh jalan tengah; atur damai? Lalu, kemana Anda berpihak? 

Andai saya berada di pihak enam calon bupati yang sulit lolos dalam putaran kedua, tawaran saya bargaining program untuk Donggala yang lebih maju. Bila perlu, kita teken kontrak politik. Saya dukung Anda dengan catatan tolong usung juga program saya, karena saya belum dikehendaki rakyat untuk jadi bupati.  

Sebaliknya, andai saya salah satu diantara dua calon bupati yang menang putaran pertama. Saya akan menggalang pendukung yang mau menerima program saya, dan bersedia membonceng visi yang mereka inginkan. Adakah ini kemungkinan terjadi? Boleh jadi iya, tetapi bukan yang utama. 

Di benak saya, identitas politik keindonesiaan kita, sudah terlanjur dicemari praktik politik transaksional. Politik yang substansinya suci tergores noda. Saya dukung anda, apa imbalannya. Saya bantu Anda, apa yang saya dapat. Saya menangkan Anda, apa konpensasinya. Ini pula yang menggerayangi kebanyakan rakyat kita hari ini akibat tetesan prilaku elit. Makanya, sebagus apapun integritas orang, kalau tidak ada uang dan modal politik yang cukup, menjadi kepala daerah hanyalah angan-angan belaka. Akibatnya, program yang hendak diusung urusan nanti, yang penting kita rebut dulu jabatannya.  

Tentu tidak semua rakyat dan politisi kita seperti itu. Masih banyak yang punya idealis dan hati nurani, tapi mereka masuk dalam kelompok minoritas. Celakanya, semakin idealis semakin terpinggirkan. Semakin idealis, semakin dimiskinkan. Semakin ditekan. Bahkan tidak mendapat tempat sama sekali.  

Ada lagi cara hebat untuk membunuh para idealis itu. Mereka sengaja diberikan jabatan empuk. Dibujuk dengan uang. Disodori perempuan. Ditikam dari belakang lalu diperangkap dalam hukum normatif. Jika tak mempan, racun pun bicara. Matilah dia. Dagingnya disedot ulat. Namanya tinggal nama yang selalu dikenang dalam kesengsaraan bangsa. Keprihatinan dari mana-mana muncul. Tapi saat dia masih hidup, keprihatinan itu tidak ada. Karena ia takut, kehadirannya juga bisa ikut terbunuh bersama para idealis.  

Sudalah. Itu hanya cerita idealis. Cerita sejarah buram dari keangkuhan politik dan nafsu kekuasaan. Esok kita (warga Donggala) diperhadapkan pada dua pilihan. Kave atau Doamu.  

Pertempuran medan politik di Donggala setidaknya ada beberapa garis politik yang bisa dicermati. Pertama, garis birokrasi. Dari enam calon yang kemungkinan terhempas. Dua diantaranya memiliki hubungan batin birokrasi dengan Bupati Donggala, Habir Ponulele. Yakni Kasmudin dan Akris Fattah (calon nomor urut 6). Habir, sebagai ketua Golkar yang mengusung Anita/Abdul Chair bisa menggunakan jalur hubungan batin ini. Artinya Kasmudin dan Akris berpotensi dibujuk mendukung Anita/Chair. Tapi untuk Kasmudin, sulit rasanya karena ketua tim suksesnya Abdul Muis, telah berseberangan politik dengan Anita. Muis kecewa karena lepas dari gandengan Anita menjadi calon wakil bupati.  

Bagaimana dengan Akris, kemungkinan juga sulit. Awalnya, Akris berharap bisa diusung oleh Golkar. Tapi ternyata kandas. Akris terpaksa memutar otak mencari partai lain. Boleh jadi, kekecewaan itu menjadi penghalang bagi Akris mendukung Anita. Belum tentu Kasmudin dan Akris juga mendukung Kasman/Vera. Karena Kasmudin dan Akris tidak maju sendiri. Mereka diusung oleh partai politik. Apakah partai politik seperti Gerindra pengusung Akris dan Demokrat pengusung Kasmuddin ikhlas mendukung Kasman/vera. Belum tentu. Mari kita tengok sejenak, siapa bos besar di balik Gerindra Sulteng dan siapa bos besar Demokrat Sulteng. Adakah hubungan emosional dua partai itu dengan Kasman/Vera. Hampir tidak ada. Tapi kondisinya akan menjadi lain, jika ada poros luar dari Kasman/Vera yang ikut memainkan perannya. Siapa? Hanya mereka yang tahu hehe…  

Kedua, garis emosional kedaerahan. Garis politik ini juga tidak bisa diabaikan dalam perebutan kekuasaan. Muara dukungan ke Kasman/Vera atau ke Anita/Chair sangat tergantung bagaimana kedekatan personal di antara calon yang lain. Dari enam calon yang kemungkinannya terhempas, dua pasang diantaranya lahir dari poros perseorangan. Perolehan suaranya tidak bisa dipandag remeh. Status pencalonannya juga sama dengan Kasman/Vera, jalur perseorangan. Boleh jadi, karena ikatan nasib itu mereka mendukung ke Kasman/Vera. Tapi tidak ada jaminan, karena politik bukan matematika. Boleh jadi iya, boleh jadi sebaliknya.  

Ketiga, garis isu politik lokal. Isu yang paling dahsyat dalam Pilkada Donggala adalah pemekaran pantai barat. Ini jadi jualan politik yang membiuskan. Hampir semua calon menjadikan ini isu sentral. Hanya saja kemungkinan kadarnya yang berbeda. Kasman Lassa, terbilang paling getol dalam memerdekakan pantai barat. Ia bahkan rela menegangkan urat lehernya dalam unjukrasa menuntut pemekaran pantai barat beberapa tahun lalu. Tapi jangan lupa, Abdul Chair juga memegang peranan penting dalam isu itu. Abdul Chair adalah sekretaris pemekaran pantai barat. Sebagian nafas pergerakan politik pemekaran pantai barat yang gagal itu ada di tangan Abdul Chair. Semua punya jasa dan sedang berusaha membangun jasa baru.  

Apapun garis-garis politik yang menghubungkan diantara semua kekuatan itu, tidak jadi soal. Itu hanya persepsi saya, Anda dan mereka di luar sana. Terpenting tidak menggunakan garis politik uang. Ini adalah garis merah yang tidak pantas dilintasi setiap decak nafas politik pilkada. Ongkos politik, oke. Tapi bukan menjadi alat bujuk rayu.  

Akhirnya nanti semua berpulang ke rakyat. Siapa yang pantas mereka pilih. Saya hanyalah bagian dari tumpah darah Donggala. Tali pusar saya ditanam di sana. Separuh dari tubuh saya dibentuk dari tanah Donggala. Saya pantas membela kebenaran demi tanah air beta.***

One thought on “Garis-Garis Konsolidasi Pilkada Putaran Kedua

  1. Anonim 12 September 2013 / 4:12 pm

    Sepertinya benarlah ungkapan bahwa tidak ada teman abadi dalam poltik, yg ada adalah kepentingan abadi. Kemarin teman, hari ini musuh, besok teman lagi, lusa gontok-gontokan lagi (mungkin karena bagi kuenya tidak pas). Yg patut kita syukuri bahwa Pemilukada Kab. Donggala putaran pertama berlansung aman dan tentram (seperti bunyi baliho dipinggir jalan), tapi apakah sudah berlansung jujur, hanya KPU, peserta pemilu dan Tuhan yg tahu. Apakah yg akan terjadi pada episode selanjutnya? Apakah Kave akan dikeroyok partai-partai besar yg berkualisi dalam Doamu? Kita akan saksikan bersama bagaimana pendekar bersongkok miring ini akan memenangkan pertempuran atau jadi “nyonyor”? Sungguh menarik dan sayang untuk dilewatkan. Mari kita saksikan bersama. Barock Lagenda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s