Satu Jam Bersama Papa Idham

(Catatan dari Pilkada Donggala) 

Terus terang, saya penasaran dengan pasangan calon Bupati Donggala, Burhanuddin Yado/Idham Pagaluma (BI). Sejak wacana pilkada itu menjadi lalu lintas percakapan orang, jarang sekali saya dengar mengunggulkan pasangan BI. Hanya ada satu dua orang bilang; BI akan menjadi ‘kuda hitam’ diantara delapan pasang calon bupati. Itu saja. Pendapat itu tidak memberikan analisa atau indikator terhadap potensi BI menjadi ‘kuda hitam’ (sebutan kemenanga calon di luar prediksi).

Sekitar dua jam setelah penghitungan suara, Rabu, 4 September 2013. Kira-kira pukul 14.00 WITA. Saya kaget melihat grafik pusat tabulasi data ITfourteen. Pada posisi 13 persen jumlah TPS yang masuk, grafik BI tiba-tiba melonjak tajam. Dia memimpin perolehan suara sementara. Tiga calon lain yang sebelumnya disebut-sebut bersaing ketat, justru tertekan jauh ke bawah. Grafik suara itu bertahan cukup lama sampai posisi 29 persen TPS yang masuk.

Setelah shalat Ashar, perlahan-lahan perolehan BI merosot. Ia mulai disalib Kasman Lassa/Vera Laruni. Saat Kasman/Vera menyentuh level 25,26 persen, BI masih bertahan pada level 21,62 persen. Di urutan ketiga ditempati Anita Nurdin/Abdul Chair 19.90 persen. Menjelang Magrib, grafik perolehan suara mulai terbentuk polanya. Dan sudah bisa dipastikan posisi itu tidak meleset jauh hingga berakhirnya perhitungan cepat berbasis TPS. Kasman/Lassa urutan pertama, Anita/Chair urutan kedua dan BI urutan ketiga.

Sejak saat itulah keingintahuan saya tentang BI mulai muncul. Apa konsep politik yang mereka gunakan, padahal di tataran permukaan jarang orang mencumbui nama BI. Selasa (10/9) siang, melalui tim suksesnya, saya minta dipertemukan dengan BI. Idham Pagaluma (Papa Idham) bersedia menerima saya.

Saya sudah tiba lebih awal di kantornya, di Jalan Yos Soedarso. Belum habis sebatang rokok, Papa Idham muncul. Pakai topi loreng agak kusut. Celana jeans biru tua. Pakai baju kaos berkerah bergaris-garis tipis, dominasi warna merah. Pakai sendal pula. Telepon genggamnya juga biasa saja. Tidak ada tampilan parlente, seperti kebanyakan calon pejabat. Padahal Papa Idham seorang pengusaha batu pecah. Dalam sebulan, bisa meraup rupiah sampai Rp1 miliar. Jika ia mau, semua bisa ia beli. Tapi tidak bagi Papa Idham.

Dengan santai kami duduk di kursi sofa. Mulailah saya melempar pertanyaan konyol. “Kenapa Papa Idham tidak main hambur uang saja untuk membeli suara waktu pencoblosan,” tanya saya.

Pria 53 tahun itu hanya tertawa ringan. Topi lorengnya ia lepas, di letakkan di meja kaca. Telepon genggamnya ia cabut dari kantong. Di letakkan berdampingan dengan topi lorengnya. Sejenak ia tarik nafas. Lalu bersandar ke kursi.

“Kalau saya mau, mungkin saya menang. Tapi untuk apa kemenangan itu jika tidak terhormat. Apa kata orang. Saya ini tukang ceramah. Tiap Jumat berkhutbah. Kalau saya main uang. mau taruh di mana muka saya. Mungkin di hadapan manusia tidak terlalu berat. Tapi bagaimana di mata Allah,” katanya.

Saya terdecak kagum. Di era demokrasi yang sedang digempur dengan pergumulan modal, masih ada satu, dua, tiga orang yang tidak mau menggadaikan identitasnya hanya karena jabatan publik. Orang-orang itu ingin meraih kekuasaan dengan cara yang baik-baik.

Banyak hal yang kami perbincangkan dengan Papa Idham. Tapi tidak etis rasanya saya ungkapkan di sini. Di dunia maya ini. Cukup menjadi referensi saya dan seorang kawan jurnalis, Pataruddin. Senior saya itu juga ikut ngobrol bersama Papa Idham. Banyak pesan-pesan moral yang kami tangkap.

Diam-diam, Papa Idham ternyata tertarik juga dengan buku politik pilkada dan pemilu yang saya luncurkan beberapa waktu lalu. Walaupun sibuk menjelang pemilihan, ia masih menyempatkan diri membacanya. Buku yang tersaji dalam bahasa sederhana itu, kata Papa Idham, senafas dengan pikiran politiknya. Pensiunan sahabandar itu, juga berkenan memetik satu, dua hikmah dalam buku itu. Ia menyarankan saya agar selalu berbuat baik kepada siapa saja. Jangan terlalu silau dengan materi karena bisa membutakan mata hati. Terima kasih Papa Idham, walau hanya satu jam engkau sudah menjadi guru politik moral saya.***

Palu, 11 September 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s