Romantisme di Kampus STAIN Palu

Jumat (13/9/2013) pagi, saya menghadiri undangan Lembaga Penerbitan Pers mahasiswa STAIN Datokarama Palu. Sebagai pendiri, saya merasa berdosa jika tidak memenuhi undangan sebagai pembicara di acara itu. Kebetulan dalam waktu bersamaan belum ada agenda liputan terencana dari kantor.

Saya tiba lebih awal dari jadwal yang diagendakan. Di tempat acara, baru tiga orang peserta. Sambil menunggu peserta yang lain, saya menuju gedung Pasca Sarjana. Gedung lantai tiga ini berdiri kokoh menghadap ke Jalan Diponegoro. Dalam deretan yang sama juga berdiri gedung Fakultas Dakwa, Syariah, dan Fakultas Ushuluddin. Semuanya lantai tiga. Catnya seragam hijau. Di ujung timur berdiri kokoh masjid bantuan dari pemerintah Arab Saudi, bersebelahan dengan SPBU Diponegoro.

Di bagian barat berdiri aula. Gedung yang dikerjakan kontraktor alumni STAIN Palu ini cukup besar, bisa menampung sekitar 1.000 kursi. Di depan aula inilah menjadi pintu masuk utama dari Jalan Diponegoro.

Di sisi utara, berdiri gedung rektorat tiga lantai. Posisinya menghadap ke teluk Palu. Di sini juga ada pintu masuk. Di sisi barat dari kampus ini, sebentar lagi akan beroperasi Grand Mall Palu. Mal ini akan menjadi pusat belanja terbesar di Kota Palu. Dalam deretan yang sama juga berjejer rumah toko. Catnya menyala, mencolok. Masih arah yang sama, sekitar 500 meter dari kampus itu berdiri hotel Swissbell.

Keangkuhan gedung di sisi timur kampus itu juga mulai bertebaran. Sebentar lagi hotel bintang lima Silk Stone beroperasi. Pada arah yang sama Hotel Grand Duta sudah beroperasi dua tahun lalu. Resto dan cafe bergengsi The Class juga sudah beroperasi. Jadilah kampus STAIN Palu dikelilingi gedung-gedung bergengsi sebagai pusar ekonomi masyarakat kelas menengah dan arus lalu lintas manusia dari berbagai penjuru.

Baru sekitar 15 tahun rasanya saya anjak kaki dari kampus STAIN Palu. Dalam sekejap di dalam dan ruang sekitarnya langsung berubah seperti disulap, kunfayakun. Luar biasa. Perubahannya dahsyat.

Perubahan itu tidak saja pada fisik gedung dan infrastruktur jalan di dalam dan di luar kampus, tapi juga membaiknya ekonomi dosen dan mahasiswanya. 15 tahun lalu, hanya ada satu, dua, tiga dosen yang punya mobil pribadi. Begitu pun mobil dinasnya. Paling bagus Kijang Grand. Sekarang rektornya sudah pakai mobil dinas mewah. Paling murah Kijang Avanza.

Mahasiswanya juga luar biasa. Mungkin tinggal satu, dua mahasiswa yang tidak pakai motor pribadi. 15 tahun lalu, motor pribadi mahasiswa bisa dihitung jari. Beberapa aktivis mahasiswa sudah paling top Honda Astra 100. Itupun sudah tua didatangkan dari kampung asal mahasiswa itu. Motor teman-teman itulah yang kami pinjam ke sana kemari urus organisasi kampus dan ekstra kampus. Buat pelatihan ini dan itu. Antar proposal ini dan itu. Motor itu pula kadang kami pakai antar jemput narasumber jika ada pendidikan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama (IPNU) atau Ikatan Mahasiswa DDI (IMDI). Sepeda motor kongkor itu berjasa dalam membantu aktivitas organisasi mahasiswa. Sungguh jauh berbeda dengan kemapanan fasilitas mahasiswa kini.

Waktu itu belum ada telepon genggam. Di penghujung waktu aktivitas kami di kampus, kira-kira tahun 1997. Dua orang teman beli telepon genggam dari Jakarta. Zaman itu ponsel paling top merek Sony Ericson. Saya tidak ingat lagi spesifikasinya. Tapi bentuknya saya ingat betul. Tebal, pakai antena, panjang kira-kira 20 cm. Fiturnya hanya ada nomor kontak, sms dan ring tone. Kartu teleponnya masih mahal. Hampir sama harganya dengan pesawat teleponnya. Pulsanya roaming pula. Pokoknya jadul.

Baru dua teman yang punya telepon genggam waktu itu. Mereka satu angkatan dengan saya. Barang mewah itulah yang jadi style kampus sekaligus barang mainan.

Suatu ketika, supaya dibilang punya telepon genggam dan membuat dosen terkejut, kawan itu masuk ke ruang kelas ikut mata kuliah. Sebelum masuk, dari luar teman sudah kompak. Kira-kira 15 menit di dalam ruangan. Keheningan dan konsentrasi mahasiswa tiba-tiba pecah setelah telepon genggam itu berdering. Kawan itu mengeluarkan telepon dari sakunya. Diangkatnya. “Halo..Halo..Halo.. Ini siapa?,” kata kawan itu.

Seketika ruangan jadi gaduh. Si kawan itu jadi perhatian teman-teman yang lain. Dosen yang asyik menerangkan materi kuliah, sejenak berhenti menerangkan. “Hebat ya, mahasiswa sudah punya handphone, dosen saja belum bisa beli,” kata dosen itu.

Sekarang mungkin tidak ada lagi mahasiswa dan dosen yang tidak punya telepon genggam. Komunikasi makin lancar. Dosen dan mahasiswa bisa SMS-an. Dengan gampang informasi tersebar luas dalam komunitas mahasiswa. Jika ada kegiatan, tidak perlu lagi ketik undangan seperti 15 tahun lalu. Cukup ditik di telepon genggam lalu dikirim ke semua kontak. Selesai.

Kondisi kampus 15 tahun silam tentu sangat jauh dari kondisi sekarang. Tahun 1994, awal saya masuk di STAIN (dulu IAIN Filial Ujung Pandang), sebagian ruang kuliah masih pakai kapur tulis. Papan tulisnya pakai tiga kaki segitiga. Sama dengan waktu saya di sekolah dasar tahun 1980-an. Sekarang tidak ada lagi pakai itu. Sudah pakai spidol. Bahkan setiap ruang kuliah sudah dipasang projector. Dosen tinggal menyiapkan laptop. Tiba di ruang kelas, buka laptop, lalu dihubungkan dengan projector. Dosen tinggal menerangkan. Setahun lalu, waktu saya masih dosen di STAIN saya sempat menikmati teknologi ini. Serba cepat dan canggih.

Tapi saya marah dengan mahasiswa. Setiap jadwal perkuliahan, saya minta pertemuan pukul 07.15 WITA. Sudah tiga pekan, perkuliahan berlangsung paling banyak tiga mahasiswa yang hadir tepat waktu. Yang lain lambat, bahkan ada yang datang di penghujung waktu perkuliahan berlangsung. Saya tidak menyangka, dengan fasilitas kampus secanggih itu justru berbanding terbalik dengan semangat mahasiswa belajar.

Dari sisi ketersediaan sumber daya manusia, sekarang sangat luar biasa. Dosen menyandang gelar doktor sudah bertumpuk. Magister apalagi, semua dosen sudah master. 15-17 tahun lalu baru ada dua doktor; Lukman Tahir dan Almarhum Ariendonika. Baru Lukman Taher putera daerah. Ariendonika dosen dari Padang, dipindahtugaskan ke STAIN Palu. Dua doktor itulah yang kami agungkan ketika itu. Hampir tidak ada mata kuliah dari dua dosen itu yang kami abaikan. Rugi rasanya jika tidak mengikuti pelajaran dari mereka.

Dua doktor itulah yang mulai merombak tradisi malas kuliah dan tradisi berpikir kami menjadi lebih agresif. Kami merasa seperti masyarakat agraris yang masuk gerbang modernisasi. Transformasi pemikiran gerakan-gerakan kami perlahan-lahan terbentuk. Mulailah kami dari aktivis mahasiswa menghidupkan kelompok-kelompok studi. Kajian ini, kajian itu. Semangat berorganisasi kami juga mulai hebat. Daya kritis kami juga mulai terarah. Kami juga sudah sangat terbuka dengan pihak luar seperti organisasi mahasiswa berhaluan kiri. Sebelum dua doktor itu mengajar, kami sudah cukup kritis. Tapi tidak terarah karena tidak punya metodologi. Kami kritis tapi tidak dilandasi kajian yang mengakar. Kami hanya mengandalkan logika dan emosi semata.

Keterbukaan kami dengan pihak luar ternyata membawa perubahan. Kami mulai ekspansi jaringan dengan perguruan tinggi lain, dalam dan luar daerah. Suatu ketika, menjelang Pemilu 1999 kami berkunjung ke IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ketika itu suhu reformasi masih panas, dimana-mana mahasiswa masih terus unjukrasa menuntut pemerintahan BJ Habibie segera memperbaiki kondisi ekonomi.

Kunjungan kami ke IAIN Jakarta disambut baik mahasiswa di sana. Kami bahkan diberi ruang orasi di panggung unjung rasa yang mereka gelar. Dengan bangga atas nama mahasiswa STAIN Palu, kami berorasi di panggung itu. Malam hari kami diundang berdialog dalam debat partai-partai politik di stasiun TPI. Kami minta supaya mahasiswa STAIN Palu diberi juga satu meja. Kami sengaja memilih meja paling depan, supaya selalu kena sorot kamera. Sebagai ketua senat saya jadi juru bicara. Debat pun dimulai. Luar biasa bangganya kami bisa berbicara di layar televisi nasional. Pikiran-pikiran kami yang cenderung emosional dan pengetahuan pas-pasan kami tumpahkan dalam dialog itu. Kami jelas bangga karena ratusan mahasiswa STAIN Palu menonton debat itu. Sepulang dari Jakarta, jadilah kami bahan pembicaraan. Tidak sedikit dosen juga mengelukkan kami. Tentu ini kebanggaan sebagai mahasiswa yang tiada taranya pada zamannya.

Dengan kondisi fasilitas kampus serba terbatas, sumber daya dosen yang masih langka, keterbelakangan tekonologi informasi dan minimnya sarana mobilitas pendukung, kami bersinergi menembus ruang-ruang keterbelakangan.

Sambil menunggu peserta pelatihan lembaga penerbitan pers mahasiswa, saya naik ke lantai dua gedung Pasca Sarjana. Di sana saya bertemu dengan Satar S Laopu, aktivis Resimen Mahasiswa. Dia juga satu bagian pembuat sejarah. Ia diutus mewakili Resimen Mahasiswa STAIN dalam pembebasan Timor Timur. Satar mampu menembus dunianya meski dengan kondisi STAIN yang terbelakang.

Mereka yang dulu pernah dididik di STAIN dengan kondisi fasilitas terbatas sebagian sudah keluar sebagai pemenang, berkompetisi dengan dunia luar. Ada yang menjadi ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), pimpinan DPRD, pengusaha sukses dan pemegang jabatan strategis di birokrasi. Mereka bekerja dengan modal landasan ilmu agama yang bisa terus mengawal setiap gerak dan nafas mereka.

Kondisi kampus yang serba “wah” mestinya lompatan pengaruhnya juga harus besar. Diamater magnitut yang dihasilkan harus lebih dahsyat. STAIN yang sudah beralih status menjadi IAIN itu harus menjadi corong pencerah bagi kemajuan peradaban Sulawesi Tengah, bukan justru menjadi benalu dalam negeri yang hanya mencetak generasi digital, generasi yang serba ingin cepat dengan mengabaikan ilmu-ilmu agama. Inilah yang sedang melanda sebagian pemimpin di negeri kita, hanya tampil berani menjadi pemimpin dengan mengabaikan nilai-nilai spritualitas.***

Palu, 14 September 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s