Denyut Kehidupan di Medan Pertempuran

Jalan Jati yang menghubungkan Kelurahan Nunu dan Tavanjuka, Kota Palu, sudah tiga-empat bulan terakhir ramai dilintasi kendaraan. Kadang saya melintas

di sana pukul 01.00 – 02.00 WITA.

Bagi saya, tinggal di Kelurahan Palupi, Jalan Jati cukup strategis dan nyaman. Panas terik matahari tidak terlalu menyengat karena masih banyak pohon pelindungnya. Tidak terlalu berdebu dan tidak padat seperti Jalan I Gusti Ngurah Rai, jalan utama penghubung Palupi ke Palu Selatan dan Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi.

Jalan Jati juga punya akses lebih dekat ke Kelurahan Maesa, karena ada jembatan gantung yang memotong sungai Palu menghubungkan Nunu dan Maesa. Jalan itu dibangun pemerintah kota sebagai jalan alternatif bagi pengemudi sepeda motor.

Dari Palupi ke Gadjah Mada, ke Pasar Tua, ke Talise atau ke sekitar kantor Gubernur, lewat Jalan Jati lebih baik. Karena akses yang strategis itulah sehingga jalan itu terbilang ramai dan berpotensi menjadi jalur bisnis bagi masyarakat Nunu dan Tavanjuka.

Jalan Jati bisa jadi juga sudah dikenal oleh Google, mesin pencari di internet. Dikenal karena jalan ini dulu pernah menjadi medan pertempuran antara penduduk, antara kelurahan, antara satu suku, satu budaya, antara saudara dan antara satu ideologi.

Jembatan di ruas Jalan Jati sebagai pemisah batas administrasi antarkelurahan menjadi penanda batas medan pertempuran paling hebat. Tidak puas di sini, pindah ke sawah-sawah, bahkan bergerilya sampai membakar rumah penduduk. Sungguh menakutkan.

Pertempuran yang sudah menelan korban jiwa, kehilangan tempat tinggal dan memacetkan roda perekonomian masyarakat sekitarnya itu, menjadi sejarah kelam dari Kota Palu, kota yang dulunya menjadi pusat kehidupan masyarakat beradat, masyarakat berbudaya dan masyarakat beragama. Akar-akar tradisi itu terasa seperti pernah hilang sesaat dari peredaran di lingkungan Kelurahan Nunu dan Tavanjuka serta daerah-daerah sekitar yang kerap dilanda konflik. Disebut hilang karena norma-norma itu tak dipatuhi lagi sebagai perekat antarsesama sehingga menimbulkan konflik yang berlarut dan petaka bagi masyarakat.

Belakangan ini, norma-norma di masyarakat itu sudah bersemi kembali. Ketaatan dan ketakutan pada kekuasaan Allah sudah terpatri. Lihat saja sekarang di sepanjang Jalan Jati, aktivitas kehidupan masyarakat mulai bangkit lagi. Bisnis nasi kuning sebagai pendapatan ekonomi masyaraktnya sudah lancar. Saban malam di sana ramai dengan warga yang hendak mencicipi nasi kuning malam. Begitu halnya mereka yang ingin mencicipi nasi kuning pagi. Nasi kuningnya enak karena terbungkus dari daun pisang.

Rumah-rumah yang dulunya menjadi sasaran pembakaran lambat laut sudah tegap kembali. Sudah ada tanda-tanda kehidupan baru di dalamnya.

Di Jalan Jati kios-kios juga sudah terbuka hingga larut malam. Bisnis butik juga sudah ada. Bisnis air galon isi ulang. Organisasi bela diri bernafaskan Islam juga sudah bernafas baik. Pesta pernikahan pada malam hari tanpa dijaga aparat pun sudah pernah berlangsung. Anak-anak muda sudah hilir mudik ke sana kemari.

“Alangkah indahnya jika ini terus terjaga hingga akhir zaman,” kataku dalam hati.

Pada keadaan tertentu, saat dini hari saya melintas di Jalan Jati, ada hal-hal kecil yang mungkin selama ini diabaikan pemerintah, juga kita yang peduli; lampu jalan. Masih ada titik tertentu di jalan itu tidak punya penerangan jalan. Karena gelap titik itu kadang dijadikan tempat anak-anak remaja berkumpul. Bersenda gurau di atas motor hingga larut malam. Ini mungkin dianggap sepele, tapi dari berkumpul-kumpul itu biasanya berpotensi terjadi keributan.

Seperti darah anak remaja umumnya masih gampang terpancing, labil, selalu mau tampil dan suka dipuji. Orang Palu bilang; namango. Orang Tolitoli bilang; kapujian. Orang Manado bilang; makang puji. Itulah proses karakter remaja kita. Proses pembentukan jati diri. Bahkan karakter itu juga menghinggapi kalangan orang tua. Atas nama harga diri, atas nama keluarga, atas nama baik, kita rela menghunus bedil, memuntahkan senjata rakitan dan membakar dibanding mengedepankan akal sehat.

Jika sebelumnya pemerintah dan aparat sibuk mengamankan bentrok, sekarang mestinya pemerintah dan aparat juga harus tetap sibuk mengurus dua daerah itu. Sibuk mengurus hal-hal kecil seperti penerangan jalan, menghidupkan organisasi pengajian ibu-ibu, memperkuat taman pengajian anak-anak, membantu akses ekonomi masyarakat, menyekolahkan anak-anak tidak mampu dan sebagainya.

Pemerintah tidak boleh terlena dengan kesadaran masyarakat yang sudah bangkit hari ini. Kesadaran belum bisa menjadi langgengnya kerukunan karena kita belum bisa mengukur apakah kesadaran itu lahir batin atau tidak.

Kesadaran bisa terbongkar jika lapar masih ada, jika kebodohan masih ada, jika kesenjangan masih ada, jika diskriminasi masih ada dan jika ketaatan pada norma agama belum kokoh. Di sinilah peran pemerintah, peran para tokoh dan peran kita. Tokoh tidak boleh lagi hanya sekadar mengecam, memberi pendapat dan menganalisa di media massa. Tapi perlu kontribusi nyata. Akademisi jangan hanya sekadar menjadi kasus konflik sebagai studi kasus sekadar memperkaya pengetahuan.

Pemerintah tidak boleh lagi seperti pemadam kebakaran. Hanya meredahkan bentrok, setelah itu pergi dan diam lalu datang lagi jika ada maunya. Ada keinginannya, ada target yang mau dicapai terutama target politik. Masyarakat akhirnya hanya jadi alat permainan bagi kepentingan elit.

Nunu, Tavanjuka, Tatanga, Pengawu dan daerah-daerah lain rawan konflik, tidak boleh hanya diingat saat terjadi kekacauan. Saat damai pun perhatian harus dituju ke sana. Apa yang hendak dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan dalam kondisi damai.***

Palu, 15 September 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s