Ibel, ICC dan Pertolongan Pertama Pada Rakyat Tolitoli

Salam hormat dan maaf saya kepada Bapak Ibel dan keluarganya, kepada segenap pengurus ICC dan masyarakat Tolitoli. Secara pribadi saya belum pernah bertemu beliau, demikian halnya lembaga yang didirikannya, Ibel Community Center (ICC).

Saya tertarik menuangkan pikiran atas fenomena kehadiran Ibel dan ICC-nya karena hingga kini, saya masih bagian tak terpisahkan dengan Tolitoli. Sebagian jiwa dan semangat pernah saya persembahkan untuk daerah tercinta itu meski ada yang menelikung, bahkan merusak rencana-rencana besar yang pernah saya usulkan ke Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal untuk kepentingan desa-desa tertinggal di Tolitoli.

Meski secara fisik saya tidak hadir lagi di Tolitoli tetapi komunikasi dengan teman-teman hingga kini masih terjalin baik. Bukan hanya teman-teman bermukim di kota, tapi juga mereka di desa-desa sana bahkan di pulau. Di tengah masih membaiknya komunikasi itulah terdengar sosok baru dengan segenap kepeduliannya hadir di Tolitoli. Namanya, Ibel. Dari foto balihonya di FB, tubuh dan wajahnya poco-poco.

Dari penuturan beberapa orang maupun komentar di FB, kehadiran Ibel beserta kekuatan ICC-nya seperti hujan di tengah kekeringan. Bak penyejuk di tengah dahaga. Bagi sebagian kalangan, Ibel bak dewa penyelamat di tengah besarnya harapan dan angan-angan rakyat atas membaiknya pelayanan publik. Penyelamat di tengah mahalnya ongkos kesehatan, mahalnya pendidikan dan melambungnya harga-harga kebutuhan pokok. Ia hadir saat sebagian oknum pejabat dan keluarganya memamerkan kekayaan di tengah kesulitan rakyat dalam berbagai hal.

Ibel hadir di tengah asyiknya politisi membuai rakyat dengan puisi romantis; pemimpin baru, pemimpin peduli, dekat dengan rakyat, berpengalaman, perubahan, jangan biarkan rakyat menderita, bukan janji tapi bukti. Faktanya, ternyata masih jauh dari harapan. Yang muncul justru sebaliknya; bukan bukti tapi janji. Di tengah fakta sosial inilah hadir sesosok manusia dari lembah Baolan bernama Ibel. Kehadirannya tepat pada waktunya.

Ibel hadir membawa kesejukan baru, solusi baru, janji baru dan membuka lebar senyum masyarakat yang terhimpit ekonominya. Masyarakat yang tersumbat kreativitasnya. Masyarakat yang jenuh dengan konflik-konflik politik konvensional. Ibel bahkan hadir dengan menggandeng harapan baru bagi rakyat. Wajar saja jika ia disanjung, dihormati, dikerumuni sekaligus dipantaskan. Dipantaskan sebagai pengusaha yang peduli, dipantaskan sebagai anak daerah nan muda yang dekat dengan rakyat dan berbagai kepantasan lain yang dipantaskan oleh para penganggumnya.

Jika nanti muncul “Ibel-isme” itu juga sesuatu yang pantas oleh pendukungnya. Tidak ada yang salah. Kalaupun salah, mungkin cara pandang kita yang berbeda.

Kira-kira 1,5 bulan lalu, saya bertemu dengan dua iringan mobil mewah dikawal patroli polisi di wilayah Donggala pantai barat. Melaju dari arah utara Tolitoli menuju selatan Kota Palu. Malam hari itu, cahaya lampu biru meliuk-liuk di atas mobil patroli ikut menyinari jalan-jalan gelap sepanjang jalan. Sopir sejenak berhenti dan menepi, bertanda mempersilahkan iring-iringan mobil itu melintas. Sopir menyangka ada pejabat negara yang berkunjung ke daerah. Ternyata tidak. Dia adalah sosok muda, konon pengusaha sukses dari Tolitoli yang mengais untung di Makassar. Dialah Ibel, pria berbadan bonsor. Dikawal mobil patroli polisi. Hebat.

Pengawalan patroli itu mengingatkan saya dengan saudagar kaya dari timur Indonesia, sekaligus politisi senior Indonesia, Jusuf Kalla. Beberapa bulan lalu, saya bertemu beliau di Poso. Waktu itu JK baru saja meninjau pembangunan PLTA Sulawena. Sore harinya ia hendak kembali ke Makassar. Dari Sulawena ke Bandara Kasiguncu, beliau hanya dikawal beberapa tentara. Mobil yang ia tumpangi di deretan kedua. Mobil di depannya tidak pakai sirene dan kedap-kedip lampu biru. Pengawalannya biasa-biasa saja. Padahal ia sedang berada di daerah yang belum aman 100 persen dari kekacuan bersenjata, dari teror orang-orang tidak bertanggungjawab.

Setelah wawancara sejenak tentang PLTA Sulewana. Saya berbincang dengan JK dari mulut pintu masuk terminal bandara, sampai ke tangga pesawat pribadi yang ia tumpangi. Kebetulan tidak ada pejabat waktu itu sehingga saya lebih leluasa bertanya apa saja yang saya mau ke Pak JK. Mantan Wapres RI itu banyak menuturkan tentang obsesinya membangun Indonesia dari Sulawesi Tengah dengan kekuatan listrik yang ia bangun. Betul kata orang; mereka, orang-orang besar suka membicarakan hal-hal yang besar untuk kepentingan yang besar pula.

Semoga saja Ibel dan ICC-nya juga suka membicarakan hal-hal besar untuk kepentingan besar pula. Bertindak dan berbuat untuk kepentingan yang besar. Bukan membesarkan hal-hal kecil yang tidak pantas dibesarkan. Apalagi jika memanfaatkan orang-orang kecil untuk membesarkan diri dan kelompoknya.

Saya kagum cerita orang-orang tentang Ibel dan ICC karena rajin memberi bantuan kepada rakyat yang membutuhkan. Kepada mereka yang terhimpit hidupnya. Kepada mereka yang membutuhkan pertolongan. Andai saja setiap kelurahan/desa ada sosok seperti Ibel, kerinduan masyarakat akan pertolongan pertama terhadap kebutuhan dasarnya akan terpenuhi. Kesulitan mereka akan terobati karena ada sang penolong. Andai saja orang-orang mau patungan membantu mereka yang sulit, ketimpangan sosial tak akan menganga. Orang-orang berkantong tebal akan dilindungi oleh mereka yang butuh pertolongan.

Bagi rakyat yang kehidupan dasarnya sulit terpenuhi maka Ibel dan ICC-nya dianggap juru selamat. Bagi rakyat yang meninggal dunia, tidak mampu menyewa ambulance karena angkutan jenazah yang dibeli dari uang negara harus dibayar dalam hitungan kilometer, ICC menjawabnya. Jenazah diantar sampai tujuan tanpa dipungut biaya. Bagi orang tua yang tidak mampu membayar rumah sakit menyunat anak laki-lakinya, ICC memberikan bukti. Menolong mereka dengan sunatan massal. Jika jalan-jalan sempit nan gelap, ICC penerangnya dengan mengongkosi biaya pemasangan, kabel dan balon di tiang-tiang listrik.

Apa yang salah dari perlakuan Ibel kepada masyarakat itu? Tidak ada. Yang salah adalah pemerintah yang tidak sigap, salah mengelola uang negara, malas melihat kondisi ril masyarakatnya, pemerintah yang hanya mementingkan perjalanan dinas dan mobil dinas mewahnya. Yang salah adalah orang-orang kaya yang hanya menghamburkan uangnya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

Terlepas apakah Ibel dan ICC-nya punya tendesi politik atau tidak, ikhlas atau kapujian, tulus atau pamer kekayaan. Itu urusan nanti. Kita serahkan sepenuhnya kepada niat dan hati Ibel dan para penggeraknya. Ibel mestinya menjadi motivator lahirnya kepedulian pemerintah dalam mengurus rakyat. Ibel mestinya menjadi cambuk, contoh bagi yang lain untuk berbuat yang sama. Jika pemerintah tidak ingin digunjing, berbuatlah hal yang lebih baik dari Ibel dan ICC-nya. Bukan justru menjadikan Ibel sebagai ancaman baru dalam perebutan kekuasaan. Apalagi jika dijadikan musuh politik bersama untuk kepentingan pilkada. Toh, rakyat juga yang menentukan.

Semakin banyak Ibel dan ICC baru bermunculan, semakin baik bagi rakyat. Rakyat semakin tersenyum meski kadang hanya sesaat setelah hak-hak mereka kembali dirampas oleh hasrat kekuasaan. Hati tulus mereka dikhianati.

Jika Allah mempertemukan saya dengan Ibel dan ICC-nya, saya akan katakan teruslah berbuat untuk rakyat, teruslah berbagi dan beramal dengan tulus. Niscaya Allah akan menambah hartamu dari jalan yang engkau tidak sangka-sangka. Berbuatlah. Jangan ikut mereka yang hanya mendengkur di kamar mewah yang dibangun dari uang negara. Jangan ikut mereka yang malas berbagi padahal kaya dari hasil tipu-tipu dan upeti.

Jika saya bertemu Ibel dan ICC-nya, saya akan katakan teruslah maju. Jangan hiraukan mereka yang iri. Jangan jauhi mereka yang berkuasa. Jangan caci mereka yang tidak peduli. Gandenglah mereka. Mana tahu mereka juga akan melakukan hal yang sama denganmu. Jadilah engkau perekat seluruh kepentingan rakyat dan pemerintah.

Jika saya bertemu Ibel dan ICC-nya, saya akan katakan jangan khianati rakyat, jangan khianati para pekerja sosial yang sudah mengabdi untukmu. Untuk kebesaran diri dan ICC-mu. Sekali engkau menghianati mereka, engkau hanya akan menjadi tokoh tak berjiwa. Engkau hanya akan menjadi penderma yang digunjing. Hidupmu sia-sia. Engkau bahkan hidup kurus, kering kerontang, sunyi dari orang-orang.

Jika engkau khianati mereka, semua kebaikanmu yang pernah engkau darmakan akan mereka lupakan. Sekali engkau berkhianat, tamatlah riwayatmu. Teruslah berkarya dan berbuat untuk rakyat, biar waktu yang menjawab semuanya, karena hidup ini tidak kunfayakun. Hidup ini tidak digapai hanya dengan simsalabin abrakadabra hehe.***

Palu, 18 September 2013

One thought on “Ibel, ICC dan Pertolongan Pertama Pada Rakyat Tolitoli

  1. rizal 24 November 2014 / 5:18 am

    Saya setuju….ibel ibarat dewa yang hari ini sangat di puja olah warga di toli2 apalagi di galang.terus berjuang aq salut dengan anda…kebetulan sya jga anaj lkatan cma sya merantau di kaltim… .sta jga bermimpi ngin katemu anda bahkan gelar anda rajanx galang itu pmaparan warga lkatan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s