“Jantung” Buatan itu, Bernama KEK (Bagian 2)

Saya masih ingin melanjutkan catatan ini mengenai dampak ikutan KEK di Palu dan daerah-daerah penyangganya. Sengaja dimulai dari sini agar pikiran saya belum direcoki dengan hal-hal rumit, akademis dan terikat dalam bahasa pemerintah. Tapi nanti tetap saya ingin masuk ke hal-hal rumit itu, seperti pemberlakuan pajak, tenaga kerja asing, keterlibatan nonbadan usaha, zonasi, upah kerja layak, penguasaan lahan, struktur pengelola dan sebagainya.

Kalau Anda sudah paham banyak tentang KEK, pasti anda menyerang saya; sok tahu, sok pintar, ‘namango’. Sama sekali tidak. Apa yang tertuang dalam tulisan ini hanyalah pikiran saya yang lahir dari akumulasi kegembiraan, kekhawatiran, kegelisahan dan kepedulian saya. Tentu saja, rujukan saya antara lain ketentuan KEK seperti undang-undang 39/2009.

Saya membayangkan tiga tahun mendatang (2016) di kawasan KEK itu sudah terbangun infrastruktur sesuai zonanya. Tetapi untuk mengharapkan seluruh zona industri terbangun itu tidak mungkin. Misalnya, membangun smelter untuk pemurnian nikel, atau industri manufaktur dan logistik peralatan berat. Tidak mungkin bisa dibangun dalam waktu tiga tahun.

Peluang besar yang kemungkinan bisa dibangun pada awal implementasi KEK adalah pabrik pengolahan rotan, kakao, rumput laut, ikan dan turunannya. Itu yang berpeluang besar karena ketersediaan bahan baku yang memadai.

Katakanlah 2016 nanti sudah beroperasi satu atau dua jenis pabrik pengolahan. Sambil infrastruktur lainnya juga berjalan. Berapa banyak orang setiap harinya bergerak di sana. Mulai dari pemasok bahan baku, transportasi, buruh pabrik sampai manager. Kita estimasi saja lima ratus sampai seribu orang.

Saat kumpulan pekerja itu libur, kemana mereka bertamasya? Ke mall, ke pantai, ke gudung atau ke pusat-pusat rekreasi lainnya. Atau hanya berdiam diri di pemondokan mereka di KEK. Sebulan atau sekurang-kurangnya tiga bulan sekali mereka pasti ke tempat rekreasi. Tenaga kerja asing, tentu memilih tempat yang nyaman, aman dan butuh ruang privasi.

Jika demikian, sudah siapkah tempat rekreasi kita yang nyaman dan aman itu. Inilah satu potensi ikutan di luar dari pusat KEK yang bisa jadi peluang bisnis. Artinya, bisnis tempat rekreasi yang repsentatif tetap menjanjikan. Jika Anda punya modal, berinvestasilah sekarang.

Itulah sebabnya jika pemimpin di daerah-daerah penyangga KEK memahami dampak ikutan ini, maka kebijakannya sebagian bisa diorientasikan pada pembangunan pusat-pusat rekreasi. Tempat-tempat wisata yang selama ini hanya dipuji lewat seminar, diskusi, objek studi dan dokumen potensi sumber daya alam, sudah harus digerakkan secara maksimal. Tidak boleh lagi sekadar omongan biasa atau pelipur lara atas ketidakmampuan kita mengembangkan potensi wisata.

Banyak tempat rekreasi eksotis yang patut dipuji di sekitar daerah-daerah penyangga KEK. Tapi tidak sedikit pula yang mengabaikan unsur pelayanan dan kenyamanan pengunjung. Tengok saja, masalah kebersihan. Ini masalah klasik yang tidak habis-habisnya diperbincangkan. Ini juga potensi lain yang bisa membantu mengurai pengangguran. Mungkin di sana kurang tenaga kerja bersih-bersih lingkungan karena lokasinya belum dikelola secara profesional.

Memperbaiki tempat rekreasi tidak saja memberi dampak ekonomis pada kas daerah, tapi juga masyarakat sekitar dan potensi lainnya seperti pekerja seni dan budaya, kuliner dan jasa. Masyarakat kota yang sedang tumbuh, potensi ini tersedia cukup banyak.

Dari beberapa buku karya motivator yang saya lahap, setiap potensi selalu ada jalan keluarnya. Setiap orang punya potensi berbisnis meski tidak harus memiliki modal besar. Potensi diri itulah yang harus digerakkan. Jika ingin berinvestasi di bidang jasa tempat rekreasi tanpa modal besar, bergabunglah dengan pemilik tempat rekreasi. Berbagilah dengan mereka tentang apa keahalian kita. Keahlian yang kita miliki digabung dengan mereka. Jadilah satu kekuatan simbiosis mutualis.

Mari kita lirik, apa yang kurang atau belum ada di area rekreasi itu. Di sana, biasanya jarang kita berjumpa dengan kue-kue tradisional. Kue ciri khas lokal. Kebanyakan makanan dan minuman siap saji. Minuman bersoda, mengandung gas, dan makan yang sudah tersentuh bahan pengawet. Jika kita punya keahlian bikin kue-kue tradisional inilah peluangnya.

Di tempat rekreasi kadang kita butuh diurut atau dipijat sekadar menambah relaksasi. Dipijat di ruang-ruang terbuka akan terasa bedanya dibanding dipijat di ruang tertutup. Para pekerja di kawasan industri, tenaga mereka terkuras hebat dalam sepekan, sebulan, triwulan dan satu semester. Tubuh mereka butuh sentuhan agar segar kembali. Tapi mencari tukang urut di tempat rekreasi di Palu dan Donggala cukup sulit. Jika ada asosiasi tukang urut, ini bisa jadi peluang bisnis cukup menjanjikan. Tanpa pajak pula. Dengan begitu, KEK juga akan memberi dampak keuntungan pada tukang pijat atau tukang urut. Hehe..

Dampak ikutan negatif KEK juga tentu harus diwaspadai. Mulai dari potensi binis narkoba dan pelacuran. Ini menarik jika ditulis terpisah dari topik kali ini.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s