Fiksi : Film Wajib Anak Bangsa

Entah kenapa, 30 September hari ini, tiba-tiba hasrat saya terpanggil menulis cerita yang paling jarang saya lakukan; menulis fiksi. Karena itu pula sehingga karya novel saya tak kunjung selesai. Tapi tak mengapa, mana tahu ini ada manfaatnya… 

Selamat membaca… 

Pagi itu saya ditimpa sial. Terlambat masuk kelas. Wali kelasku di SD Inpres akhirnya menjatuhkan hukuman. Saya diperintahkan berdiri di depan kelas, sekitar 30 centimeter dari papan tulis berkaki tiga. Tangan kananku menarik kuping sebelah kiri. Tangan kiriku menarik kuping sebelah kanan. Sepatu tuaku sebelah kiri diminta dilepas. Lalu kaki kiri itu diangkat menyilang diletakkan di lutut kanan. Hanya kaki kananku yang bertumpu di lantai. Kapan kaki kiri menyentuh lantai, semeter mistar kayu pasti mendarat di betisku. 

“Nanti saya perintahkan turun baru turunkan kakimu,” tegas bu Mirna. 
“Iya, bu guru,” kataku menunduk. 
“Yang lain tolong perhatikan ke papan tulis,” sapa bu Mirna ke teman-temanku. 
“Adha! Kamu, walaupun dihukum juga perhatikan ke sini, ke papan tulis,” kata bu Mirna menekanku. 
Baru sekelebat bu Mirna melangkah membelakangi murid-murid. Teman-temanku itu langsung tertawa. Bu Mirna batal mendaratkan kapur tulisnya untuk memulai pelajaran pagi itu. Ia menoleh ke murid-murid penuh heran. Lalu menoleh ke saya. Ternyata baju sekolahku bekas peninggalan kakak kelas samping rumah, pagi itu benang-benang bagian ketiaknya sudah terlepas. Saat menjalani hukuman, ketiakku langsung telanjang di hadapan teman-temanku. Kaos kakiku, juga peninggalan kakak kelas tetanggaku, tumitnya sudah menganga. Dari lubang kaos kaki itu, tumitku yang legam tertawa polos. 

Temanku tidak berani tertawa lebar. Mereka takut dengan Bu Mirna. Ia guru disegani di sekolah itu. Badannya tegap, tinggi, padat, nan kekar. Dia satu-satunya guru andalan di sekolah jika ada lomba bola volly. Bu Mirna juga jadi andalan di desa kami jika ada pertandingan olahraga antar desa menyambut 17 Agustus. 

Bu Mirna menatap tajam teman-temanku. Seketika kelas hening. Bu Mirna mulai menarik kapur tulis di permukaan papan hitam yang baru saja dicat setelah 17 Agustus 1985. Butiran kecil dari kapur tulis itu jatuh ke lantai di bawah papan tulis. Sebagian lagi butiran itu melengket di sepatu pantofel hitam kaku yang dikenakan bu Mirna. Sebagian melengket di tangannya. 

Jika bu Mirna membersihkan goresan penjelasannya di papan tulis dengan bantal penghapus, sebagian debunya menghempas tubuhku yang berdiri tak jauh dari papan tulis itu. Saya tidak bisa menghindar. Tangan dan kakiku terkunci dalam hukuman. Debu-debu kapur tulis itu sudah akrab dengan hidung kami. Tak jarang, temanku iseng melempar bantal penghapus itu ke arah temanku yang lain. Jika bu Mirna marah, kadang penghapus itu juga ia daratkan ke jidad kami. 

Pagi itu, bu Mirna menyajikan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Teman-temanku diminta menyiapkan catatannya. Dua hari lagi menjelang 30 September 1985. Dengan enteng ibu berambut keriting itu melontarkan pertanyaan kepadaku. 

“Adha, jelaskan apa itu G.30S/PKI. Kalau kamu bisa jawab, hukuman saya cabut,” katanya. 
Tidak berpikir panjang lagi, saya segera menjawabnya di luar kepala; “G.30S/PKI itu kepanjangan dari Gerakan 30 September 1965 garis miring Partai Komunis Indonesia. Dalam peristiwa itu tujuh jenderal Indonesia dibantai, dimasukkan dalam lubang buaya. Mereka pejuang bangsa yang ditembak PKI,” jelasku lantang. 
“Baik. Anak-anak, apakah betul penjelasan temanmu itu?” 
“Betul bu Guruuuu,” jawab temanku seragam. 
“Adha, kamu boleh duduk. Lain kali jangan lagi terlambat. Bangun shalat subuh supaya tidak terlambat ke sekolah,” pinta bu Mirna. 

Dengan hati kesal, perlahan-lahan saya mendekat ke kursi andalanku. Kursi bagian belakang. 

Sebelum melanjutkan pelajaran PSPB. Ibu Mirna menyerukan kami, agar besok malam, tepat 30 September, semua menonton film G.30 S/PKI. 

Sudah jadi tradisi di kampung, setiap malam tanggal 17 Agustus dan 30 September kami diminta menonton televisi. Selain malam libur, malam 17 Agustus dan 30 September anak-anak sekolah boleh keluar malam. Bukan berkeliaran di jalan, tapi menonton film detik-detik proklamasi dan pertempuran antarjenderal sebangsa; G.30 S/PKI. Ibu dan ayahku juga sudah tahu. Setiap malam 30 September saya pasti diizinkan keluar. 

Kurang 15 menit lagi pukul 20.00 waktu Indonesia di kampung kami. Teman-teman seusiaku sudah duduk bersila di depan televisi milik Pak Syukur. Malam itu tidak banyak orang tua menonton karena ruang tamu Pak Syukur menyeruak aroma keringat anak-anak. Sebelum menonton, kami bermain riang, saling kejar, main petak umpet di tempat gelap di depan rumah Pak Syukur. Keringat bercucuran. Belum sempat kering, film sebentar lagi dimulai. 

Setiap Sabtu malam dan 30 September, rumah pak Syukur pasti ramai dengan anak-anak. Hanya Pak Syukur dan dua toke (sebutan penduduk warga keturunan Tionghoa) di kampung kami yang punya televisi. Kami hanya familiar dengan Pak Syukur. Anak bungsunya, Mustafa, juga seusia kami. Hanya teman tertentu saja menonton di rumah toke. Letaknya agak jauh dari rumah Pak Syukur. Itu pun hanya anak-anak dari penduduk yang punya banyak pohon kelapa menonton di sana. Jika musim kopera, seluruh produksi petani di kampung dibeli sang toke. 

Rumah Pak Syukur, tidak jauh dari tempat tinggalku. Saban hari saya bermain di sana bersama anak bungsunya. Ibuku kadang hanya berteriak dari rumah memanggilku jika mendadak ada perintah. Tapi tidak malam itu. Tanggal 30 September malam adalah malam kebebasan kami. Bebas keluar rumah dan memenuhi kewajiban menonton film G.30 S/PKI. 

Televisi yang memancarkan warna putih hitam di depan kami tidak menyurutkan semangat menonton. Kami hening. Tersimak oleh kemampuan Jenderal Soeharto yang tenang dalam film itu. Kami digiring seperti ikut menenteng senjata, berhasrat melawan para pembunuh jenderal. Mereka pantas dilawan karena sudah membunuh jenderal-jenderal terbaik Indonesia. Film itu seperti menghadirkan kami ikut melangkah ke bibir Lubang Buaya dalam peristiwa tahun 1965. 

Pembantaian jenderal dengan wajah disilet oleh seorang perempuan dalam film itu, ikut menyayat hati kami. Jenderal dipukul dengan pantat senjata, terasa di uluhati kami. Pengangkatan jenazah dari lubang buaya merindigkan kudu kami. 

Tidak terasa, temanku di samping kanan mengusap air matanya. Dia tidak tega melihat anak kecil di layar televisi itu tertembak setelah peluru tajam menembus daun pintu rumah Jenderal Nasution. 

Temanku yang lain di samping kiri juga sama. Mereka tidak tega melihat jenderal diseret sejumlah orang dengan todongan senjata. Temanku yang satunya lagi sangat benci dengan perempuan yang menyambar pipi sang Jenderal dengan silet. Biadab! Begitu tertanam kebencian di ubun-ubun kami terhadap PKI. 

Kami hanyalah anak-anak desa yang tidak mengerti tentang G.30 S/PKI. Kami hanya mengerti tentang perang-perangan di semak belukar di belakang sekolah kami. Kami bangkit seperti gagahnya pejuang Indonesia menenteng senjata, meski kami sadar, senjata rakitan serpihan papan itu hanya berpeluru buah tanaman menjalar di muara-muara sungai. Kami kerap mengingat kepala dengan kain merah putih layaknya pejuang. 

Itulah heroik kami. Heroik yang bangkit dari film-film perjuangan tempo dulu. Dari G.30 S/PKI, Janur Kuning dan Bandung Lautan Api. Kami selalu mengekspresikan diri seperti seorang jenderal yang selamat dalam peristiwa Lubang Buaya yang memilukan negara kami. Kami bangga setelah menonton seluruh kekuatan negara terpusat di tangan seorang jenderal Indonesia yang selamat dalam peristiwa itu. Kami benci Aidit. Kami benci dengan simbol cerulit dan palu. Kami benci PKI. 

Tanggal 1 Oktober 1985 pagi, saya terlambat lagi. Baru saja, teman-temanku masuk kelas. Tapi teras sekolah belum sepi. Sebagian murid di ruang kelas sebelah belum masuk. Kali ini saya nekat masuk dari belakang sekolah. Menelusuri lorong antara dinding sekolah dengan dinding pitate kantin Bu Santi. 

Sebelum tembus ke kantin Bu Santi, saya harus melewati semak-semak di belakang sekolah. Tempat itu tidak asing lagi. Di luar jam sekolah, kami selalu main perang-perangan di sana. Kami berani masuk keluar semak karena patriotisme kami sudah teruji lewat film G.30 S/PKI. Film itu sudah lima kali dalam lima tahun kami nonton. Mentalitas kami sudah terbentuk seperti halnya watak tokoh sentral dalam film itu. Kami selalu gagah berani meski badan kami kering kerempeng. Hanya anak toke yang lumayan bodinya berisi nan bersih di sekolah itu. 

Bu Mirna ternyata sudah mengintai saya dari jauh. Ibu wali kelas itu, sudah tahu jika saya terlambat lagi. Bu Mirna bergegas ke kantin belakang sekolah. Ia duduk di dalam, tak jauh dari himpitan lorong. Saya tidak tahu jika Bu Mirna sudah ada di sana. Dengan modal percaya diri seperti sedang di medan perang. Saya melangkah pelan, masuk lewat lorong itu. 

“Heee! Dari mana kamu?,” bu Mirna menghadangku. Saya gugup luar biasa. Mental jenderalku jatuh seketika. Ibu guru kekar itu sudah menangkapku. Saya terperangkap. Untung saja Bu Mirna tidak membawa mistar kayu andalannya. 

Kali ini Bu Mirna tidak memberi hukuman berat. Alasanku cukup meluluhkan hati guru perempuanku itu. 

“Maaf bu, semalam saya nonton Film G.30 S/PKI. Makanya terlambat bangun,” kataku. 

Ohhh, Bu Mirna tidak serta merta luluh. Ia anggap itu hanya alasan busuk saya. Buktinya temanku yang lain tidak terlambat. Semalam mereka juga menonton film yang sama di rumah Pak Syukur. Mereka bisa masuk tepat waktu. 

Bu Mirna menggiring saya ke kelas. Jemari pemain bola volly itu meramas kuping kiriku. Ia menggiring saya sampai ke bangku kelas. Teman-temanku menyambutku dengan tawa. Tapi saya bersyukur karena Bu Mirna tidak lagi memberiku hukuman berdiri di depan kelas. Amarah Bu Mirna pagi itu terkunci. 

Jiwa lembut perempuannya pagi itu seketika muncul. Ia meminta saya segera duduk di bangku depan. Selama sekolah, saya paling benci duduk di depan. Risikonya besar. Selalu dimintai tolong guru, ambil ini dan itu di ruangan guru sebelah sana. Jaraknya diantarai dua kelas. Kadang juga diminta menghapus tulisan di papan tulis. Papan berdebu kapur. 

“Assalamualaikum anak-anak,” salam bu Mirna lembut. 
“Walaikum salaaam warahmatullahi wabarakaaatuh,” jawab kami serentak. 

Saya sudah menduga, Bu Mirna pagi ini pasti meminta kami bercerita di depan kelas tentang film yang dinonton semalam. Film wajib anak negeri, G.30 S/PKI. Benar dugaanku, Bu Mirna mempersilahkan saya paling awal bertutur kembali soal film itu. Film yang menistakan sejumlah jenderal dan mengangkat kebolehan jenderal yang lain. 

Sejak saya di kelas satu sampai kelas V sekolah dasar, Film itu sudah tertanam baik di kepalaku. Karena sudah berulang terlintas di mata dan pikiran, hasrat tanya saya pun muncul. 

“Bu guru, kenapa Panglima Kostrad Soeharto dalam film itu tidak jadi sasaran tembak PKI. Padahal Pak Harto juga seorang jenderal. Apakah PKI memilih-milih jenderal yang mau dibunuh. Kenapa hanya Nasution, Kenapa hanya Ahmad Yani, kenapa hanya anuuu…,” 

“Waktu itu rumah Pak Harto tidak ditemukan PKI,” kata Bu Mirna menyela. 

“Kan Pak Harto juga Jenderal bu Guru. Orang yang dikenal. Apalagi Pak Harto pemimpin pasukan angkatan darat. Apakah dia tidak dikenal,” tanyaku lagi. 
“Mungkin Pak Harto sedang tidak ada di rumah ketika penculikan jenderal itu,” duga bu Mirna. 
“Kemana Pak Harto bu Guru,” kataku. 
“Saya juga tidak tahu, karena waktu itu kejadiannya di Jakarta. Ibu kan di kampung,” jawab bu Mirna melintang. 

Kebiasaan lama Bu Mirna kambuh. Ia mulai memperlihatkan kekejamannya sebagai guru perempuan disegani di sekolah kami. Mistar kayu andalannya mulai ia pegang. Bu Mirna berjalan ke sana-kemari di sela-sela lorong meja. Ia kembali melontarkan pertanyaan; “Siapa yang menembak tujuh jenderal itu?,”. 

Kami terdiam sejenak. Tak ada yang mau menjawab. 
“Taufan, coba kamu jawab siapa yang menembak jenderal itu,” tanya bu Mirna sambil mendekat ke meja Taufan yang duduk sederet saya di belakang. 
“PKI, bu Guru,” jawab Taufan. 
“Bagusss,” puji Bu Mirna. 
“Berarti waktu itu PKI sudah punya senjata yang bagus ya bu?,” tanya Taufan menyela. 
“Kenapa tidak ada yang menjaga jenderal ketika itu bu Guru. Padahal kan setiap rumah pejabat selalu dijaga. Kemana penjaga-penjaga jenderal waktu itu bu Guru?,” tanyanya lagi. 
“Apakah waktu itu, memang sengaja rumah jenderal tidak ada yang jaga bu?,”. 
“Kenapa nanti setelah jenderal terbunuh baru pasukan bergerak, mencari penembaknya,” 
“Berarti penembaknya tidak ditahu ya bu,” serang Taufan. 

Ibu Mirna bingung. Ia tidak menyangka, murid-muridnya yang selalu menonton film itu mulai kritis menonton jalan ceritanya. Ia meminta murid-murid membuka kembali buku pelajaran PSPB. Sebagian isi buku itu bercerita. Dalam pelajaran buku wajib itu, PKI tertuduh di belakang semua aksi penembakan sang jenderal. 

Bu Mirna tidak habis akal. Taufan dan Adha diminta supaya bertanya kepada pembaca tulisan ini. Mungkin ada yang tahu, kenapa hanya tujuh jenderal yang dibunuh? Kenapa tidak ada yang menjaga jenderal-jenderal itu? Kenapa Jenderal Soeharto tidak menjadi sasaran tembak? Kenapa jenderal itu harus disiksa lalu memilih lubang buaya tempat pembuangannya? Kenapa senjata yang digunakan PKI sudah begitu canggih, bukankah PKI hanya mengandalkan cerulit dan palu? Siapa yang memerintahkan pembunuhan itu? Adakah seorang proklamator yang begitu susahnya merebut kemerdekaan lalu membunuh para pembantunya? Entalah… Bu Mirna juga tidak tahu.**

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s