Kemenag dan Wajah Media Online Pemda

Minggu, 29 September siang, jalan di Kota Palu sedikit lengang. Kondisi itu mengantar saya lebih cepat tiba di Hotel Jazz Palu, hotel yang amat asri dengan ornamen eksterior dan taman bernuansa Bali. Kali ini saya usahakan tiba tepat waktu untuk menebus keterlambatan saya sebulan sebelumnya di hotel yang berbeda.

Sepeda motor segera saya parkir. Lalu berjalan cepat menuju ruangan pendidikan jurnalistik bagi para pembawa kabar se lingkungan Kementerian Agama di Sulawesi Tengah. Segera saya mengintip ke dalam ruangan dari balik kaca gelap. Ohh ternyata belum ada satu pun peserta di dalam. Hampir setengah jam saya menunggu, barulah satu persatu peserta berdatangan. Saya mafhum karena demikian tradisi tidak tepat waktu itu kita pelihara.

Kekecewaan itu terobati juga setelah melihat antusias peserta. Semangat saya terpacu untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman bersama peserta. Mereka umumnya senior saya, begitu bersemangat, serius dan fokus untuk berbagi seputar pengetahuan menulis di media online (dalam jaringan).

Belakangan ini sudah ada upaya serius dari Kementerian Agama Sulawesi Tengah untuk mendandani website-nya. Memperbaiki penyajian teks dan fotonya berdasarkan karakteristik dan kaidah-kaidah pemberitaan media online. 

Dengan begitu website yang sudah dianggarkan dengan APBN itu bisa dikunjungi banyak orang dan betah membaca kabar dari lingkup Kementerian Agama. Geliat apa yang terjadi di Kementerian Agama di ujung daerah Banggai Kepulauan atau di Buol, bisa diketahui melalui website. Informasi itu bisa mendarat baik di hadapan publik, tanpa direcoki bahasa bertele-tele, foto yang tidak estetik, tata letak teks membosankan, data culun dan tumpukan kegiatan seremoni yang membosankan.

Paradigma instansi pemerintah dalam mengelola website belum mengikuti ritme publik atas kebutuhan informasi. Instansi pemerintah lebih suka mengobral kegiatan seremoninya dibanding substansi yang diinginkan publik. Umumnya website pemerintah lebih banyak menyajikan wajah pejabat di atas podium. Kegiatan di dalam ruang hotel, dalam gedung yang dibalut dingin mesin pendingin ruangan. Seakan itulah yang penting untuk publik. Dimana manfaat edukasinya bagi masyarakat? Wajar jika website pemerintah daerah jarang dikunjungi orang.

Itulah yang saya lihat ingin diubah pelan-pelan oleh Kemenag sehingga website-nya tidak sekadar menyajikan informasi kegiatan belaka. Pertama diubah adalah sumber daya pengelolanya. Pegawai yang diberikan tugas untuk itu bisa menyajikan informasi yang dibutuhkan masyarakat diberi penguatan keterampilan meramu informasi menjadi menarik. Dinamis, lentur dan renyah. Merekalah jantung pertama menghidupkan website itu. Merekalah ujung tombak pembawa kabar yang memberi manfaat untuk orang lain.

Suatu ketika ada seorang petani meminta dicarikan tulisan tentang teknik mengelola kakao sesuai kondisi struktur tanah di daerah ini. Mana tahu di website pemerintah daerah tersaji informasi teknis. Pencarian pun dilakukan. Alhasil, susahnya minta ampun. Sampai tulisan ini dibuat, saya belum menemukan itu. 

Suatu ketika saya hendak turun meliput bencana alam di Sigi. Sebelum terjun ke lokasi, data pendukung sangat penting. Saya pun berselancar di website Kemanag Sulteng. Saya ingin informasi berapa banyak sekolah dalam naungan Kemenag yang terkoyak akibat gempa bumi di Sigi, Agustus 2012. Bagaimana kondisi siswa di sana, bagaimana tempat tinggal gurunya, bagaimana kondisi laboratorium bahasa mereka, pertolongan apa yang sudah dilakukan Kemenag. Kebutuhan itu saya tidak temukan.

Andai saja sumber daya manusia dan tenaga pembawa kabar Kemenag waktu itu sudah baik, mungkin sebagian data-data tersebut bisa diakses. Masyarakat jauh di luar Sigi bisa mendapat kabar tentang kondisi pascagempa terhadap sekolah-sekolah agama di lingkungan Kemenag.

Itu contoh sederhana dari sekian banyak hal yang dibutuhkan di lingkungan Kemenag. Masih banyak yang lain, misalnya; informasi haji, informasi beasiswa, informasi pondok pesantren, informasi guru, informasi zakat dan wakaf dan sebagainya.

Kemenag hanyalah contoh. Contoh yang patut ditiru oleh instansi pemerintah yang lain, termasuk pemerintah daerah karena sudah ada keinginan untuk memperbaiki sumber daya manusia pengelola informasinya. Ini penting agar anggaran yang dialokasikan untuk membangun website tidak mubazir dan memberi manfaat. 

Pengelolaan website daerah patut diaudit apakah benar anggaran yang digelontorkan untuk itu berfungsi atau tidak. Bukan sekadar output-nya, tentang fisik pembuatan rumah informasi itu, tetapi bagaimana outcome-nya. Untuk apa rumahnya dibuat jika tidak diisi. Data-data di dalamnya tidak pernah diperbaharui. Informasinya hanya itu-itu saja dari tahun ke tahun. Lebih baik dana pembuatan website itu dipinjamkan kepada ibu-ibu pengusaha pisang goreng, kepada perempuan-perempuan penjual ikan keliling. Mereka lebih membutuhkan dari sekadar wajah website pemerintah daerah yang hanya dipenuhi tampang-tampang pejabat.***

Palu, 30.09.2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s