“Jantung” Buatan Itu Bernama KEK (bagian 4)

Apakah kehadiran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) nanti memberi manfaat nyata atau tidak, belum bisa dijamin. Tiga tulisan terdahulu hanyalah gambaran optimisme saya jika KEK benar-benar dibangun dengan mengedepankan prinsip-prinsip pembangunan ekonomi berbasis potensi lokal dan semangat kerakyatan.

Jika prinsip itu diabaikan, siap-siap kita menjemput kekecewaan dan hanya menjadi penonton atas tumpukan kekayaan para pemilik modal serta kekayaan mereka yang diuntungkan karena jabatan atau karena kedekatan personal dalam lingkaran sistem KEK.

Saya memahami substansi kehadiran KEK itu untuk meningkat daya saing industri dalam negeri. Selama ini petani kita susah meningkatkan daya saing komoditas pertaniannya karena pengelolaan di sektor hilir masih rendah. Industri kita belum berdaya. Akibatnya, produksi petani kita belum mendapat nilai tambah. Selain itu sektor pertanian kita belum tersentuh teknologi yang memadai sehingga produktivitasnya susah naik signifikan. Contoh, komoditas kelapa dalam dan kakao kita tak kunjung diberi sentuhan teknologi dan memperbaiki akses pasarnya dengan membangun industri hilir. Akhirnya, petani hanya mengandalkan nilai jual dari bahan baku.

Begitu pun dengan potensi pertambangan kita. Bahan baku tambang yang tersimpan di perut bumi itu hanya dijual per kubik dalam bentuk tanah ke luar negeri. Jika tidak segera diproteksi, lama kelamaan tanah di daerah kita habis dijual dengan konpensasi keuntungan hanya kepada pengusaha. Keuntungan sesaat kepada oknum pejabat yang menerbitkan izin usaha pertambangan dan para calo izin.

Sementara rakyat di pusat-pusat lokasi pertambangan hanya menerima kiriman debu, banjir, tanah longsor dan penyakit kangker (kantong kering). Pemerintah tidak berdaya membendung laju pengiriman bahan baku mentah ke luar negeri karena dari ekspor itu diharapkan bisa menambal pembayaran utang jangka pendek negara. Semakin tinggi ekspor akan semakin baik bagi negara untuk membayar utang-utangnya.

Di sisi lain, petani kita, termasuk pemilik lokasi tambang gampang dimainkan oleh penguasa akses pasar akibat tidak ada faktor penopang, yakni industri hilir dalam negeri. Fluktuasi pasar komoditas lokal kita akhirnya sangat ditentukan oleh dunia luar. Harga komoditas pun susah diintervensi pemerintah. Jangan heran, jika nilai tukar petani kita sulit menerobos di atas 100 persen. Petani kita tak kunjung berhenti mengeluh. Sulit menyekolahkan anak-anaknya, tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya, bahkan setahun hanya bisa sekali membeli pakaian baru. Itupun hanya saat Idul Fitri saja.

Nah, pemerintah menemukan jalan keluarnya dengan merancang bangun pusat-pusat industri di daerah tertinggal. Tapi investasi itu tidak bisa dilakukan pemerintah sehingga harus menggandeng investor asing. Kita butuh investasi asing karena ketidakberdayaan investasi dalam negeri untuk menggerakkan industri padat modal. Salah satu konsepnya, itulah KEK.

Jika meminjam istilah mantan pacar penyanyi dangdut Saskia Gotik, Vikchy, mungkin KEK pantas disebut sebagai subjek “konspirasi kemakmuran”, yakni konspirasi kepentingan negara, konspirasi investasi pemilik modal negara dan asing, konspirasi kepentingan politik dan kepentingan perbaikan ekonomi rakyat di sisi lain.

Bagaimana jika kehadiran KEK kelak hanya menggandeng kepentingan kelompok kapitalis, membonceng kepentingan politik ekonomi pejabat negara, menyelipkan misi keuntungan pribadi melalui lobi-lobi kepemilikan saham peribadi dengan mengabaikan kepentingan masa depan daerah. Bagaiman kelak jika arus investasi itu ternyata mengabaikan kepentingan lokal. Hanya mengedepankan eksploitasi sumber- sumber pertambangan dibanding meningkatkan daya saing di sektor pertanian. Apa jadinya jika kelak ternyata investasi itu mengabaikan kearifan lokal. Hancurlah kita. Terkuburlah kita dengan mimpi-mimpi indah investasi itu.

Inilah yang perlu diwaspadai, perlu didalami, patut dipahami, perlu diteliti dan perlu perjuangan bersama untuk menantang kehadirannya. Hal ini penting agar kehadiran KEK kelak tidak membuahkan kesengsaraan bagi rakyat kebanyakan, tetapi membuahkan kesejahteraan. Kesejahteraan lahir batin bagi rakyat Sulawesi Tengah.

Sebelum KEK itu mengakar dengan berbagai problem yang ditimbulkan kelak, kita butuh transparansi pengelolaannya sebagai wujud dari pemerintahan yang baik. Bagaimana jaminan tenaga kerja, berapa upah yang layak, bagaimana pajak penghasilannya, bagaimana risiko dampak lingkungannya, bagaimana masa depan lokasi jika sewaktu-waktu perusahaan tutup. Apakah ada peluang divestasi bagi daerah, atau justru seluruh penguasaan investasi hanya milik pemodal. Rumit memang. Tetapi penting sebelum kita semua masuk dalam kubangan kesengsaraan akibat monopoli modal dan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan.

Pertanyaannya, apakah tim otorita KEK sudah transparan atas rencana implementasi KEK itu? Bagaimana rencana aksi nasionalnya? Benarkah ada jaminan atas kesempatan kerja dengan upah yang pantas? Apa hak pemerintah daerah atas investasi itu? Sebagai jurnlis saya belum pernah mendapat undangan diskusi atau ekspose program atas rencana tersebut. Sedikit pengetahuan KEK yang saya peroleh lahir hanya karena keingintahuan saya terhadap KEK itu, tidak diperoleh dari penjelasan utuh dari pemangku kebijakan KEK.

Mungkin Anda masih ingat konsep trilogi pembangunan orde baru. Tujuan konsep ini baik karena ingin menciptakan pemerataan pembangunan dan ekonomi. Tapi faktanya justru hanya melahirkan monopoli. Akses modal dan fasilitas yang diberikan negara kepada kelompok tertentu tidak melahirkan pemerataan. Kran distribusi ekonomi macet. Sumber-sumber keuntungan hanya mengalir terbatas, tidak mengalir jauh ke bawah sehingga ketimpangan dan kesenjangan tak terelakkan. Inilah yang akhirnya berbuah reformasi.

Kekhawatiran sama juga menghinggapi alam pikiran saya terhadap KEK, jangan sampai rencana pembangunan ekonomi itu melahirkan petaka yang bermuara pada rusaknya tatanan ekonomi masyarakat dan politik lokal. Tapi semoga saja kekhawatiran itu tidak menghinggapi masyarakat kita yang lain.

Ambisi negara dan pemerintah daerah untuk mengembangkan dan menumbuhkan industri dalam negeri dengan investasi besar patut diapresiasi, tetapi tidak harus terlena. Kita butuh keseimbangan hidup antara kepuasan materi dan nonmateri. Untuk apa pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi kita krisis mental, krisis nilai-nilai kemanusiaan, kita kehilangan rasa solidaritas.

Untuk apa ekonomi kita tumbuh setinggi-tingginya tetapi kasus kekerasan seksual meningkat, anak disodomi hingga meregang nyawa, kekerasan rumah tangga kian tinggi, anak-anak kehilangan kasih sayang karena kesibukan orang tua berburu harta, anak yatim piatu bertebaran, eksploitasi hak-hak orang lain kian merajalela. Untuk apa ekonomi tumbuh, tapi kesenjangan masih menganga, orang di sana-sini enggan mengeluarkan zakat, masjid yang berdiri megah kosong melompong. Jadilah pertumbuhan ekonomi kita malapetaka.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s