Fiksi : Robohnya eMKa di Kota Kami

Oleh Adha Nadjemuddin

Malam itu kota kami sunyi. Hanya sesekali suara motor anak muda meraung di jalanan. Lampu-lampu jalan tetap memberi sinarnya yang redup karena terhalang kacanya yang buram. Lampu jalanan itu sebagian sudah menyerah karena saban hari tertusuk terik matahari yang tajam.

Lampu jalan lainnya rusak berantakan. Lampu itu menyerah dalam kekejaman perlakuan anak muda yang mabuk di jalanan. Anak-anak yang melarikan diri dari rumahnya tengah malam karena ketiadaan pengawasan orang tua. Anak-anak yang saban hari menonton pertengkaran ibu dan bapaknya di rumah.

Anak-anak itu melampiaskan mabuknya dengan melempar lampu-lampu jalan. Anak-anak kehilangan kasih sayang itu melampiaskan amarahnya dengan merusak ornamen-ornamen jalan kota. Memecah lampu lalu lintas jalan. Mengecat aspal dengan simbol-simbol moderenitas. Mencoret dinding pagar beton di sudut-sudut kota dengan puisi selengean. Dengan kata-kata gaul. Dengan bahasa seks.

Tapi tidak di gedung tempat orang tua saya berkumpul. Gedung eMKa. Lampu-lampu jalannya terus memberi energi cahaya yang terang. Menyinari mobil-mobil mewah parkir di halamannya. Karena terangnya, sehelai rambut terjepit dalam cela aspal pun terlihat jelas. Lampu jalannya tidak ada yang tertidur. Begitu cahayannya kabur, apalagi rusak, tidak hitungan jam sudah terganti baru.

Jalan raya dan tembok pagar di depan gedung eMKa bersih dari coretan. Begitupun tembok belakang dan samping kiri kanannya. Mulus dari gatal tangan anak-anak remaja. Tak ada anak berani mencolek tembok gedung itu dengan cat atau pilox. Tak ada anak muda yang berani kencing berdiri di samping tembok gedung eMKa. Ornamennya tak ada yang berlumut. Debu jalanan pun tak berani hinggap di tiang-tiang penyangga gedung itu. Gedung itu steril. Tak ada ruang luput dari keker kamera pengintai.

Gedung eMKa tempat orang tua saya dan teman-temannya bicara politik, bicara demokrasi, bicara keselamatan kota kami, bicara kesejahteraan rakyat kami. Semuanya dibicarakan dalam ruang hukum. Dalam bingkai hukum. Dalam moralitas hukum. Tak satupun perkara hidup dalam kota kami luput dari radar hukum eMKa. Para penghuni eMKa itu kami juluki malaikat keadilan. Mereka di dalam gedung itu orang-orang pilihan di kota kami. Mereka cerdas, mereka suci dari tradisi culas orang-orang terpandang lainnya di kota kami.

Sore hari itu bapak saya, Pak Akmar, tidak biasanya pulang cepat. Dia paling sibuk diantara semua penghuni gedung eMKa. Di pundaknya nasib masyarakat di kota kami ditentukan. Petang itu Ia tiba di rumah sebelum warna jingga langit di kota kami hilang.

“Tumben, cepat pulang pak,” kata ibu saya, Chernia Singgani.
“Hari ini semua pekerjaan beres lebih cepat. Tidak ada pekerjaan berat seperti tiga hari lalu,” jawab Pak Akmar.

Ia bergegas masuk. Segera melepas sepatu dan kaos kaki di ruang tamu. Selangkah berikutnya, Pak Akmar meluncurkan rayuannya.
“Lagi pula sudah lama kita jarang kumpul bersama anak-anak bu,” katanya sambil merangkul Chernia.

Akmar, bapak paling tegas. Bicaranya kadang ceplas ceplos. Tidak suka neko-neko. Dia pria paling tegas yang pernah dikenal ibu saya dan anak-anaknya. Ia jujur dalam segala hal. Pantas jika ia dipilih sebagai orang pertama di gedung eMKa.

Masyarakat di kota kami juga ingin agar bapak saya dipilih menjadi ketua di gedung eMKa. Masyarakat sangat kagum dengan keteladanan bapak saya itu. Ia lahir dari kalangan masyarakat bawah. Sebelum terpilih menjadi ketua eMKa ia pernah mendapat beasiswa pendidikan hukum di Belanda. Negara yang pernah menjajah dan menjarah hasil-hasil alam di kota kami itu memberikan beasiswa kepada putera-puteri di kota kami yang pandai.

Jadilah Pak Akmar, pria yang mahir di bidang hukum. Pengetahuannya itulah meyakinkan para penguhuni gedung eMKa. Kumpulan orang di gedung itu menyerahkan jabatan paling tinggi kepada bapak saya. Pak Akmar benar-benar malaikat Tuhan di bumi paling disanjung di kota kami.

Gedung eMKa di kota kami sudah lama dibangun. Gedung itu hadir karena tuntutan warga. Di kota kami butuh lembaga yang memiliki kekuasaan di atas kekuasaan pemerintah kota. Segala urusan penting yang dibuat pemerintah kota kami harus diketahui eMKa.

Tanpa restu dari gedung itu, tak ada yang bisa dijalankan meski pemerintah sudah menyediakan anggarannya. Aparat hukum yang bertindak macam-macam diproses di gedung itu. Aparat pemerintah yang nakal diproses di sana. eMKa adalah lembaga tertinggi di kota kami. Dialah penentu segalanya. Kecuali ajal dan jodoh.

Karena keistimewaannya, mereka yang dipilih masuk dalam gedung itu bukan sembarang orang. Bukan orang yang hanya dikenal di masyarakat. Bukan pula hanya orang yang taat ibadah. Bukan pula orang yang banyak hartanya. Tapi harus berilmu, ilmu hukum. Pantaslah jika dari dalam gedung itu lahir harapan masyarakat. Harapan kami yang selalu hilang karena ketidakadilan lembaga lain.

Sudah hampir 30 tahun eMKa dijunjung tinggi. Dihormati. Dipuji. Bahkan didewakan warga kota. Tak ada keputusannya yang tidak memuaskan harapan warga.

Tahun ini, situasi politik di kota kami berubah drastis. Tatatanan yang sebelumnya mapan, dirombak total. eMKa tak lagi dihuni orang-orang bijak. Penghuninya sudah ditentukan oleh pemerintah di kota kami. Bapak saya, Akmar terpental jauh. Hingga jejaknya hilang dari peredaran kota. Ia tak lagi jadi malaikat di kota kami. Ia digantikan malaikat baru pilihan kehendak pemerintah. Pak Akmar dan teman-temannya digantikan orang-orang bertopeng malaikat yang dipilih dari dewan perwakilan kota kami.

Dari waktu ke waktu denyut kehidupan di kota kami terus bergetar. Sumber-sumber perkara yang mencoreng moreng kota kami tak lagi bersumber dari anak-anak jalanan. Anak-anak jalanan itu sudah sadar. Mereka sadar karena mabuk di jalanan bukan lagi tempatnya. Mabuk di gedung-gedung megah lebih elegan. Sumber mabuk mereka pun sudah berubah. Bukan mabuk minuman lagi, tapi mabuk jabatan, mabuk uang, mabuk kekuasaan.

Mereka merangsek hingga ke gedung eMKa. Melenggang masuk ke dalam dengan sokongan pemerintah kota kami, dengan kekuasaan lembaga perwakilan rakyat kota kami. Mereka senang penampilan parlente. Mobil mewah. Telepon genggam mahal dan canggih. Lalu lintas orang dan masalah yang harus diselesaikan di gedung eMKa pun semakin ramai. Calo pun hidup. Mereka bertebaran ke sana kemari. Ada di gedung pemerintah kota, ada pula di gedung perwakilan rakyat kota. Keadilan semakin gampang diperoleh. Cukup menghubungi calo. Keadilan akan datang ke rumah warga kota.

Pak Akmar tak berdaya lagi. Ia hanya bisa menyaksikan perubahan itu dari layar televisi di rumahnya, rumah yang dulu jarang ia cangkrami karena kesibukannya menjaga nama baik eMKa. Ia menangis. eMKa yang dulunya ia pimpin begitu terhormat, kini dikencingi sudah oleh warga kota. Dikencingi oleh orang-orang terpandang di kota kami.

Debu-debu jalanan yang dulunya malu bertengger di gedung itu, kini sudah tebal karena tak lagi dihiraukan. Orang-orang di dalamnya sudah terlalu sibuk hingga lupa membersihkan tiang-tiang penyangganya dari lumuran debu. Sebentar lagi tiang penyangga itu rapuh dan roboh bersama seluruh isi gedung eMKa itu.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s