IJTI dan Semangat Jihad Kaum Profesional

Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sulawesi Tengah sebentar lagi berkonsentrasi di sebuah hotel membicarakan masa depannya dalam musyawarah daerah II (Sabtu, 12/10). Mereka mendiskusikan masa depan organisasi, masa depan anggotanya dan masa depan profesionalismenya.

Kawan-kawan saya itu segera mengganti pemimpinnya, karena periode ketua IJTI Indra Yosvidar segera berakhir. Indra segera menjalankan tugas barunya sebagai komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulawesi Tengah periode 2013-2016.

Ibarat jenjang karir, Indra Yosvidar naik pangkat. Tugas yang diembannya pun kian berat, menyangkut nasib bangsa melalui siaran. Banyak pihak menganggap perilaku penyiaran belakangan ini dianggap sebagai bagian biang kerok rusaknya moral anak bangsa. Lembaga penyiaran kita dituding lebih banyak menyajikan acara yang tidak mendidik. Bahkan kadang irasional.

Film atau sinetron, misalnya, lebih banyak merangsang publik menjadi masyarakat konsumerisme. Lebih banyak prilaku mencaci dari menyayangi. Lebih banyak mendidik perilaku generasi hidup bebas dari menjunjung tinggi akar-akar budaya lokal. Lebih banyak mempertontonkan air mata dibanding ketegaran hidup.

Acara hiburan begitu juga. Lebih banyak mempertontonkan erotisme dan eksploitasi perempuan; buah dada, ketiak, pinggul seksi dan pakaian terbuka. Anehnya lagi, prilaku hidup bergaya setengah pria, setengah wanita, tak pernah lenyap dari layar kaca. Mereka dipuji, ditangisi, diidolakan.

Acara berita tidak juga lebih baik. Berita kekerasan, pertumpahan darah, air mata dan air mani masih menjadi sesuatu yang dianggap menarik. Acara dialog demikian juga. Debat sehat kadang sudah diabaikan. Saling caci maki di layar televisi pun sulit dihindari. Bahkan ada yang tega menyiram minuman lawan debatnya. Begitu berat tantangan penyiaran kita hari ini. Tentu saja masih banyak yang baik dan layak dipertahankan.

Itu hal yang tampak di layar kaca. Bagaimana dengan kondisi di belakang layar. Soal gaji karyawan, gaji wartawan, hak-hak normatif tenaga kerja, dan sebagainya. Ini tidak kalah pentingnya yang perlu dipikirkan oleh segenap anggota IJTI.

Tantangan pengurus IJTI ke depan tidak sekadar mendidik wartawan televisi menjadi pewarta profesional, tapi juga menyangkut nasib kantong wartawan itu. Apakah selama ini profesi wartawan sudah dihargai sebagaimana layaknya tenaga profesional, atau justru hanya menjadi budak-budak industri media. Hasil keringat mereka hanya diisap para pemilik modal, sementara wartawan terus hidup susah dan menjadi kontributor seumur hidup. Status yang pernah membaik. Jika ada berita dapur mengepul, saat paceklik tiba isi dapur kering kerontang. Ini jihad yang harus diperjuangkan IJTI. Sekali lagi jihad.

Sebagai mantan jurnalis televisi, saya merasakan nuansa batin kawan-kawan saya itu. Satu sisi mereka dipuji karena mengantongi kartu wartawan dari media besar, bangga berdampingan dengan pejabat terhormat dan orang-orang terkenal tetapi sesungguhnya mereka terjepit di tengah pertumbuhan media sebagai industri dan profesionalisme di sisi lain.

Di satu sisi mereka dituntut profesional, di sisi lain hak-hak mereka belum bisa terpenuhi secara layak. Lebih konyol lagi, saat meliput bentrok bukan keselamatan mereka yang ditanya lebih awal, tetapi adakah video pertempuran senjata, adakah video orang tewas, adakah gambar rumah dibakar dan sejumlah pertanyaan lain terkait video kekerasan. Sepertinya tak menjadi berita menarik jika tidak ada video yang berdesingan senjata tajam, berlumuran darah, bermandikan air mata.

Begitu banyak pekerjaan rumah yang menghadang IJTI. Organisasi ini butuh pemimpin yang tidak sekadar bekerja memperkuat profesionalis anggotanya, tapi juga berjuang untuk perbaikan iklim kerja dengan peruhaan dan membongkar tradisi-tradisi buruk yang masih melekat pada pribadi setiap jurnalis.

Ketua IJTI mendatang harus mampu membangun tradisi penguatan intelektual jurnalis, menghidupkan tradisi diskusi isu-isu sosial, politik, hukum dan sebagainya. Wartawan tidak sekadar menenteng kamera, menyelip di tengah-tengah bentrok hanya untuk mendapatkan gambar yang wah. Tetapi wartawan juga harus menjadi pencerah di tengah maayarakat.

Masih banyak hal yang belum terekam kamera jurnalis televisi di Sulawesi Tengah dan itu hanya bisa diperoleh melalui diskusi dan pengkajian rutin. Sudah banyak organisasi profesi wartawan berdiri, mulai dari organisasi yang usianya sudah tua sampai yang baru. Semuanya sudah ada di Sulawesi Tengah, tetapi masih banyak masalah yang belum terpecahkan. Semuanya membutuhkan semangat jihad, karena di kamera dan polpen jurnalis televisi itu ada masa depan dan nasib generasi yang harus dihidupkan. Itulah masa depan jurnalis, masa depan anak bangsa, masa depan kita semua.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s